Penanganan Saksi dan Korban Menarik Perhatian Internasional – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Nasional

Penanganan Saksi dan Korban Menarik Perhatian Internasional

FAJAR.CO.ID, MATARAM – Jumlah permohonan layanan baik perlindungan maupun bantuan terhadap saksi dan korban ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), menunjukkan tren peningkatan setiap tahun. Kondisi demikian menggambarkan terbangunnya kesadaran masyarakat akan pentingnya hak saksi dan korban dalam sebuah pengungkapan tindak pidana. Tidak itu saja, upaya penanganan saksi dan korban di Indonesia ternyata juga menarik perhatian dunia internasional.

Ketua LPSK Abdul Haris Semendawai mengungkapkan, terjadi perubahan legislasi di tingkatan internasional sehingga turut memengaruhi praktik di Indonesia. Sebaliknya, praktik penegakan hukum, khususnya dalam hal penanganan terhadap saksi dan korban kejahatan di Indonesia juga mendapatkan perhatian dari dunia internasional. Bahkan, beberapa waktu lalu, Europol sempat mengundang LPSK untuk mendengarkan paparan mengenai pelaksanaan rehabilitasi psikososial di Indonesia.

“Dalam waktu dekat, LPSK kembali diundang United Nations Counter Terrorism Center di Amerika Serikat untuk menjelaskan penanganan korban terorisme. Ini memperlihatkan praktik penanganan korban di Indonesia juga menjadi rujukan bagi masyarakat internasional,” ungkap Semendawai pada sosialisasi melalui seminar bertema, “Peran Masyarakat dalam Pengungkapan Tindak Pidana melalui Optimalisasi Perlindungan Saksi dan Korban”  di Mataram, Rabu (3/2).

Menurut Semendawai, hadirnya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban juncto Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006, semakin memantapkan posisi hak saksi dan korban tindak pidana. Dengan hadirnya UU itu, hak-hak saksi dan/atau korban semakin dijamin oleh negara. “LPSK sangat berharap semua unsur masyarakat bisa mensosialisasikan UU Perlindungan Saksi dan Korban, sehingga tidak ada lagi masyarakat yang merasa takut untuk bersaksi,” katanya.

LPSK menggelar sosialisasi melalui seminar yang mengambil tema, “Peran Masyarakat dalam Pengungkapan Tindak Pidana melalui Optimalisasi Perlindungan Saksi dan Korban” di Hotel Lombok Raya, Rabu (3/2). Sosialisasi yang bekerja sama dengan Fakultas Hukum Universitas Mataram ini menghadirkan narasumber Wakil Ketua LPSK Askari Razak; Ketua Pengadilan Tinggi NTB Andriani Nurdin; dan Wakil Rektor Universitas Mataram HM Natsir. Seminar dipandu Wakil Dekan Fakultas Hukum Universitas Mataram Kurniawan.

Wakil Ketua LPSK Askari Razak yang menjadi salah satu narasumber pada kegiatan sosialisasi yang bekerja sama dengan Fakultas Hukum Universitas Mataram itu, mengungkapkan, berdasarkan hasil dari sejumlah penelitian perguruan tinggi, terungkap ada belasan alasan, mengapa seseorang itu enggan menjadi saksi tindak pidana, mulai dari takut, adanya intimidasi, bujuk rayu hingga ketakutan statusnya ditingkatkan menjadi tersangka. “Tapi, sampai kapan kondisi ini harus dibiarkan,” ujar Askari.

[NEXT-FAJAR]

Askari mengatakan, hadirnya UU Nomor 13 Tahun 2006 jo UU Nomor 31 Tahun 2014, memastikan negara hadir dalam melindungi dan memberikan bantuan bagi saksi dan korban tindak pidana. Kehadiran LPSK sebagai amanat dari UU Perlindungan Saksi dan Korban, berupaya menjawab tantangan itu. Dengan demikian, LPSK memosisikan diri untuk mendukung kerja aparat aparat penegak hukum dalam mengungkap sebuah tindak pidana.

Pada kegiatan seminar itu, sejumlah peserta mempertanyakan keengganan masyarakat bersaksi atau turut berpartisipasi pada pengungkapan tindak pidana, mulai alasan takut hingga ketiadaan biaya, manakala harus memenuhi panggilan penyidik untuk memberikan keterangan. “Takut bersaksi sudah menjadi pola pikir masyarakat, dan kenyataannya memang demikian. Kalaupun harus bersaksi, apa yang akan mereka dapatkan,” tanya Wandi, Ketua BEM Fakultas Hukum Universitas Mataram. (hrm)

To Top