Protes Tayangan TV, Forum Ulama Datangi KPI – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Nasional

Protes Tayangan TV, Forum Ulama Datangi KPI

FAJAR.CO.ID, JAKARTA—Rombongan perwakilan Forum Ulama Peduli Penyiaran Indonesia mendatangi kantor pusat Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) di jalan Gadjah Mada No. 8 Jakarta Pusat, Rabu siang (02/02).

Kedatangan para ulama selain memprotes tayangan Televisi yang semakin tidak mendidik dan merusak moral anak-anak dan generasi muda, juga sekaligus memberikan dukungan kepada KPI agar bertindak tegas terhadap stasiun televisi melanggar aturan.

Dalam kesempatan itu, Gus Maulana Albantani selaku dewan pembina FUPPI menyampaikan dengan tegas bahwa, media televisi telah menjadi cermin budaya tontonan bagi pemirsa dalam era informasi yang semakin berkembang pesat.

Hal yang dikhawatirkan dari paket acara televisi yaitu pengaruh yang dapat menjadikan perilaku pemirsa ke arah yang cenderung negatif. Demikian disampaikannya kepada wartawan.

Selain itu, televisi yang dulu mungkin hanya menjadi konsumsi kalangan dan umur tertentu saja, akan tetapi saat ini bisa dinikmati dan sangat mudah dijangkau oleh semua kalangan tanpa batas usia. Banyak paket-paket acara televisi yang layaknya dikonsumsikan bagi orang dewasa ternyata ditonton oleh anak-anak.

Tayangan televisi ditengarai telah mempengaruhi munculnya perilaku negatif (agresif dan konsumtif) di kalangan anak-anak dan remaja.

Hampir seluruh sajian acara di televisi disuguhkan untuk konsumsi penonton dewasa. Sementara acara untuk anak-anak boleh dibilang sangat minim. Selain itu, sebagian besar jam tayang televisi (terutama TV swasta) menyajikan tayangan-tayangan yang bersifat informasi dan hiburan. Bahkan dapat dikatakan bahwa wajah tayangan televisi kita didominasi oleh sinetron dan informasi selebriti.

Dia melanjutkan, ironisnya, alur cerita yang ada belum beranjak dari isu perselingkuhan, percintaan, dan kekerasan. Situasi ini semakin diperparah oleh jam tayang yang “memaksa” anak-anak ikut menonton.

Bila dicermati lebih mendalam, ternyata dampak tayangan TV tidak hanya mempengaruhi pola tingkah laku, tetapi juga mempengaruhi pola tutur kata anak.

Ungkapan “papa jahat” atau “mama jahat” acap diucapkan seorang anak manakala orang tuanya tidak mengabulkan permintaan anaknya. Contoh lain, seorang anak juga sering mengatakan kata-kata yang mengandung unsur kekerasan atau kata-kata negatif seperti “bodoh”, “aku bunuh kau”, “aku benci kamu”, atau “emangnya gue pikirin”.

KPI sebagai representasi publik harus benar-benar independen dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya, bukan menjadi agen-agen dari media-media raksasa di Tanah Air. Sehingga berita harus benar-benar Edukatif Informatif, BUKAN Polutif.

Dalam hal upaya KPI melakukan Uji Publik terhadap media-media penyiaran di Tanah Air. Forum Ulama Peduli Penyiaran Indonesia menyatakan sikap sebagai berikut:

  1. Mendukung KPI bersikap tegas dalam menjalankan fungsi pengawasan penyiaran agar konten siaran televisi lebih berbudaya dan Islami.
  2. KPI harus mengambil sikap tegas dengan mencabut dan atau tidak memperpanjang izin stasiun televisi yang menyudutkan Islam dan mendegradasi budaya ketimuran.
  3. KPI harus membuka secara transparan kepada publik terkait hasil evaluasi atau audit terhadap 10 stasiun televisi yang telah beroperasi selama 10 tahun.

Sebagai bentuk dukungan kepada KPI, FUPPI juga memberikan Piagam penghargaan sebagai “Mujahidah Penyiaran Indonesia” kepada Azimah Subagijo selaku Komisioner KPI atas dedikasinya memperjuangkan aspirasi FUPPI selama ini. (fmc)

 

loading...
Click to comment
To Top