Bacalah dengan Nama Rabb-Mu – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Samudera Ilmu

Bacalah dengan Nama Rabb-Mu

Parasnya menawan mata. Perangainya, apatahlagi, menyebabkan hati pasti tertawan. Dari binar mata, terpancar kejujuran. Diamnya mengandung wibawa dan bicaranya adalah hikmah.

Dialah sang Pilihan.

Namun sudah beberapa kali, lelaki yang berperangai bagai manikam itu sering sorangan. Kebiasaan masyarakat, tempat ia terlahir sulit untuk ia latah. Banyak musykil, yang sulit nalarnya mencerna. Senarai ihwal, menjadi asbab dirinya untuk lebih banyak berkontemplasi. Dan larut menjauh dari masyarakat.

Sang penyejuk mata, istrinya yang dermawan nan mulia, seakan menjadi khadam. Selalu mempersiapkan bekalnya jika ia ingin pergi menyendiri.

***

Malam merangkak. Temaram. Lalu gelap berubah sempurna

Jauh dari penduduk negeri kampung yang renyap tertidur. Di atas sebuah bukit, dalam rongga gua yang gelap, sempit dan sunyi.

“Bacalah…!” seru sebuah suara membelah kesunyian.

Iqra. Bacalah. Dialah wahyu pertama yang mengawali kenabian. Sebuah kata perintah yang tak dangkal. Namun jauh dan dalam.

Malam itu adalah malam yang terpilih. Yang terjadi pada manusia berpekerti luhur nan terpilih. malam itu kemudian menyejarah dan mulia lebih dari seribu bulan. Waktu itu, sejahtera membentang hingga sinar fajar membelah langit yang gelap.

***

“Bacalah..!”

Namun bukan sekedar membaca. Bacalah yang bermakna agar hidup lebih bermakna. Bacalah yang bermanfaat agar umur habis penuh manfaat. Bacalah yang bergizi agar pengetahuan dan pekertimu sehat tak pesakitan.

Lebih dari itu, membaca bukan sekedar untuk mengisi kantong pengetahun semata. Namun membaca, harus bisa mengantarkan seorang insan untuk bisa memisahkan dan membedakan, memilah dan menyingkirkan, antara mana yang palsu dan mana yang yang hakiki. Yang bathil dan yang Haq.

‘’Anda adalah apa yang anda baca” Demikian kata sebuah ungkapan hikmah. Pasalnya, yang dibaca itu juga mempengaruhi pembacanya. Jika makanan, adalah nutrisi untuk tubuh, maka bacaan adalah nutrisi untuk otak, yang akan bermuara pada pekerti ketika ia telah terpatri di hati.

Bagai lalat, tersebab makanannya sampah dan kotoran maka yang diberi tak lain kecuali penyakit. Sementara lebah, semakin banyak, semakin bernutrisi kuntum yang dihinggapi, semakin baik dan lezat madunya.

‘’Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Alquran dan mengamalkannya” Sabda Rasulullah, yang dimaktub oleh Imam Bukhari, dalam shohihnya.

Alquran, kitab yang lebih baik dan bernutrisi dari sekian ribu kuncup bunga. Membacanya, bisa membuat anda bak lebah yang palik baik madunya. “Perumpamaan orang beriman itu bagaikan lebah,” kata Rasulullah suatu ketika, dalam riwayat Imam Ahmad, “ia makan yang bersih, mengeluarkan sesuatu yang bersih, hinggap di tempat yang bersih dan tidak merusak atau mematahkan (yang dihinggapinya).”

Alquran, kitab paripurna, yang hari ini masih tetap bersih dan murni, dari campur tangan manusia yang kerap hasilkan keruh. Entah sudah berapa banyak niatan busuk terbilang, untuk mencemari sumber mata air pengetahuan ini, namun kitab ini masih terjaga.

Adalah Imam Al Ghazali, di akhir pengembaraannya dalam belantara kata-kata dan pencarian kebenaran, ia menyesal. Menatap harum usianya, yang hangus percuma di atas tumpukan buku-buku filsafat.

Di akhir hayat, ia kemudian kembali mempelajari Al quran dengan segudang penyesalan di dada. Hingga dalam sebuah gubahan syair, ia abadikan perumpamaan dirinya, bagai unta yang mati kehausan di atas sahara, sementara kantong air ada di punggungya.

Sang Imam, penulis Ihya Ulumuddin itu, akhirnya meninggal dengan tangan yang menggenggam erat kitab Shohih Bukhori.

Sesungguhnya beruntunglah bagi orang yang ingin mengambil ibroh pada setiap peristiwa yang terkisahkan.

loading...
Click to comment
To Top