Empat Kasus Pembuangan Bayi di Bulukumba Belum Diungkap – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Empat Kasus Pembuangan Bayi di Bulukumba Belum Diungkap

FAJAR.CO.ID, BULUKUMBA — Sedikitnya empat kasus pembuangan dan penemuan bayi sepanjang 2014 – 2016, belum berhasil diungkap aparat Polres Bulukumba. Ironisnya seluruh bayi yang ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Dari data yang dihimpun, pada 2014 ada dua kasus yakni, penemuan mayat bayi di Tonrong, Desa Anrang, Kecamatan Rilau Ale pada Selasa 20 Januari. Bayi malang yang diperkirakan berumur 3 hari tersebut ditemukan di belakang rumah salah seorang warga dalam kondisi sudah tak bernyawa.

Enam bulan kemudian tepatnya 30 Juli, warga kembali menemukan sesosok mayat bayi di Tamangsongo, Kelurahan Palampang, Kecamatan Rilau Ale. Hingga kini motif dan pelaku pembuangan termasuk orang tua kedua bayi malang tersebut belum terungkap.

Memasuki 2015, warga kembali digegerkan dengan penemuan mayat bayi berjenis kelamin laki-laki yang sudah membusuk di Desa Balangpesoang, Kecamatan Bulukumpa pada Senin 24 Agustus. Kemudian awal 2016 juga diawali penemuan sesosok orok bayi yang tersangkut di karang pesisir pantai Lassang-lassang, Kelurahan Mariorennu, Kecamatan Gantarang. Hingga kini kasus tersebut juga belum berhasil diungkap kepolisian sempat.

Menanggapi fenomena tersebut, pemerhati perempuan dan anak, Hj. Hilmiyati Asip mengaku prihatin dengan kasus yang dianggap sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan tersebut. Perempuan yang juga anggota DPRD Bulukumba ini mendesak aparat penagak hukum untuk mengungkap kasus tersebut dan menghukum para pelaku agar kasus serupa tidak kembali terulang di kemudian hari.

“Ini harus diungkap secepatnya, jangan dibiarkan berlarut-larut karena akan berdampak pada kehidupan sosial masyarakat. Ini sudah termasuk kejahatan kemanusiaan dan pelakunya harus dihukum,” tegasnya, Selasa 9 Februari.

Politikus Hanura ini juga meminta pemerintah daerah memberikan perhatian serius atas kasus yang sudah sangat mengkhawatirkan. Termasuk peran masyarakat khususnya keluarga yang berperan penting dalam menjaga stabilitas kemanan terutama moral genarasi muda.

“Jadi ini bukan saja tugas polis atau pemerintah, tapi juga lingkungan masyarakat, keluarga khususnya orang tua. Karena kejadian ini kami duga disebabkan faktor ekonomi dan lingkungan sekitar. Jadi perlu ada langkah cepat untuk mengantisipasi agar kasus serupa tidak kembali terulang,” imbau Ketua Komisi A ini. (Mustaqim/fajaronline.com)

loading...
Click to comment
To Top