Ini Sejarah Thionghoa di Kabupaten Bulukumba – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Makassar

Ini Sejarah Thionghoa di Kabupaten Bulukumba

FAJAR.CO.ID, BULUKUMBA – Sejarah masuknya bangsa Thionghoa di Kabupaten Bulukumba berawal di Tanete, Kecamatan Bulukumpa. Bahkan saat ini warga Thionghoa sudah menetap di Bumi Panrita Lopi berkisar 50-an tahun.

Warga pribumi yang hidup di lingkungan suku Thionghoa, Suparman menceritakan, pada awal tahun 60-an sejumlah warga dari negara tirai bambu itu merantau sampai ke Bulukumba menggunakan kapal kayu. Mereka menetap tidak jauh dari perbatasan kabupaten dan bekerja sebagai tukang kayu dan ada juga kerja serabutan.

“Ceritanya begitu, tidak langsung buka toko. Setelah keadaan ekonomi membaik baru beralih menjadi pengusaha kecil dengan membuka kios untuk berjualan,” katanya, Rabu 10 Februari.

Dilanjutkan Ketua Harian Yayasan Dharmamulia (membawahi Suku Thionghoa) Bulukumba, Christ Thamrin menuturkan, pada 1965 keluar peraturan pemerintah agar suku Thionghoa sebagai pendatang menetap di kota. Sehingga suku dengan ciri khas mata sipit dan berkulit putih itu meninggalkan Bulukumba yang pada saat itu masih berstatus onderafdeling (setingkat kecamatan) dan menetap di Bantaeng.

Sebagian lagi harus pulang ke negara asalnya. Namun seorang keturunan bangsawan memberikan ruang kepada Thionghoa untuk menetap dan membuka usaha di wilayahnya yakni di Ujungbulu.

“Ada PP (peraturan pemerintah) 65 mengharuskah semua ke kota dan kembali ke negaranya. Pada waktu itu ada namanya Karaeng Sappewali, memberikan ruang, disini mi kita punya bapak mulai usahanya,” kenang pemiliki toko mitra itu.

Seiring berjalannya waktu, lanjut Christ, sejumlah suku Thionghoa sukses dengan bisnisnya dan beberapa juga hidup sangat sederhana.

“Ada yang jadi tukang becak ada juga yang jadi sopir angkutan umum. Tidak semua sukses,” ujarnya. (Mustaqim/FAJARONLINE)

 

 

loading...
Click to comment
To Top