Perajin Sangkar Burung Mranggen Berharap Perhatian Dari Pemerintah – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

Perajin Sangkar Burung Mranggen Berharap Perhatian Dari Pemerintah

FAJAR.CO.ID, DEMAK – Sebagian besar warga yang berada di Desa Kebonbatur, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, memiliki aktivitas berkelanjutan yaitu Kerajinan Tangan Sangkar Burung. Itulah daerah tersohor di Demak sebagai daerah sentra produksi yang usahanya  tersebut sudah bertahan hingga tiga generasi.

Hampir setiap rumah bisa dilihat ada aktivitas membuat sangkar. Entah itu hanya berupa rangka dasar maupun finishing seperti mengoles vernis.

Slamet (33), perajin sekaligus pengusaha sangkar burung asal Dukuh Kadilangan RT.2/8  Desa Kebonbatur mengatakan bahwa kerajian sangkar burung yang ditekuninya itu merupakan turun temurun dari nenek moyangnya dulu.

‘’Kerajinan Sangkar burung di Desa ini sudah dari Generasi pendahulu hingga sampai ke genarasi kami, dan ini sudah menjadi mata pencaharian warga sini sehari-hari untuk menyambung hidup,” kata Selamet Kepada Rakyat Jateng saat ditemui di rumahnya.

Dalam sepekan, sambung Slamet, dirinya bisa dua hingga tiga kali mengirim 100-200 sangkar hingga ke Jakarta. Harga jual sangkar bervariasi tergantung tingkat kerumitan antara Rp140.000 – Rp1, 5 juta. Ciri dari pembeda sangkar burung buatan dari Desa Kebonbatur, menurutnya, adalah bentuknya yang kotak dan terbuat dari limbah kayu jati.

Menurutnya, keawetan sangkar burung dari Desa Kebonbatur ini tidak lagi diragukan. Sangkar burung yang juga dikombinasikan dari bambu ini bisa bertahan hingga 10 tahun.

‘’Sangkar burung dari Solo bentuknya bundar, tapi kalau dari Desa Kebonbatur Demak bentuknya khas yaitu kotak,’’ imbuhnya.

Disinggung soal sepi pemesanan dari luar daerah atau agen, Slamet menuturkan perajin merasakan betul sepi pada saat krisis moneter dan imbas demam batu akik.

“Sepi dari pemesanan, saya ingat betul waktu pada krisis moneter dan imbas demam batu akik waktu itu, selebihnya normal – normal aja,” tuturnya.

Hal senada juga disampaikan Sutikno (46), salah satu perajin mengaku keterampilan membuat sangkar burung didapatnya secara turun temurun dan tidak ada sepinya. Untuk menghasilkan sangkar burung bukan pekerjaan mudah, bahkan cukup rumit serta butuh ketelatenan yang ekstra.

“Bahan yang kami gunakan yaitu limbah kayu jati, misal kisaran pembuatan sangkar burung ukuran 37 cm x 50 cm, dalam 1 kwintal dapat menghasilkan lima belas sangkar burung,” katanya.

Bentuk dari kerajinan yang dilakoninya itu,  Sutikno menyebut ada banyak jenis sangkar burung. Seperti sangkar model hongkongan, solonan dan cak rowo.

Dan dirinya berharap kepada Pemerintah Kabupaten Demak, untuk kerajinan di Desa Kebonbatur yang satu- satunya sebagai cikal bakal ekonomi berkelanjutan itu, dapat diperhatikan secara khusus, terutama bantuan tambahan modal untuk produksi setiap harinya.

“Kami ingin kepada Pemerintah atau Dinas terkait dapat memberikan batuan modal atau pelatihan kepada kami, agar kami dapat berkarya terus,’’ tandasnya. (fiz/rakyatjateng)

 

To Top