LGBT di Medan Sudah Berani Terang-terangan – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Daerah

LGBT di Medan Sudah Berani Terang-terangan

FAJAR.CO.ID, MEDAN – Belakangan ramai diberitakan perihal keberadaan kaum Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender yang disingkat LGBT. Di Kota Medan fenomena kaum ini sudah awam. Bahkan beberapa dari mereka menunjukkan jati diri dengan terang-terangan.

Psikolog dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Irna Mirnauli menuturkan, membahas LGBT sangat sensitif. Karena di satu sisi tekanan dari masyarakat, norma, budaya, agama, tidak ada satupun yang menerima keberadaannya.
Meski begitu, di sisi lain upaya-upaya yang dilakukan kaum ini untuk diterima di masyarakat kelihatannya makin besar. Bahkan, secara terang-terangan melalui media sosial sudah berani mengenalkannya.

“Kelompok LGBT melihat, apa yang dilakukan mereka bukan suatu penyimpangan. Di kalangan psikiater sendiri, misalnya di Amerika tidak lagi dianggap sebagai penyimpangan dan sudah normal. Karena, mereka sudah mencoba melakukan penelitian dan psikotes antara kelompok LGBT dengan kaum yang normal. Lalu hasil psikotes diberikan kepada psikolog tanpa identitas atau anonim. Kemudian, psikolog disuruh memilah dari psikotes tersebut mana yang milik LGBT dan yang bukan. Ternyata, dari hasil psikotes yang dianalisis tersebut para psikolog tidak bisa membedakannya,” ungkapnya.

Lanjut Irna, tak jauh beda dengan Amerika, di Belanda juga keberadaannya sudah diakui. Bahkan, misalnya dalam kurikulum sekolah juga sudah masuk. Artinya, upaya memperkenalkan LGBT sejak dini telah dilakukan dan diakui oleh negara tersebut.

“Budaya yang memiliki nilai agama yang kuat pasti akan menentang keberadaan LGBT ini. Sebab, dampak yang ditimbulkan dari kelompok LBGT ini sangat besar, mulai dari penyakit kelamin hingga memutuskan untuk menikah dan mengasuh anak. Bagaimana jadinya bila anak diasuh oleh orang tua yang sejenis? Pastinya akan menimbulkan kebingungan identitas terhadap sang anak,” sebutnya.

Menurut Irna, apakah perilaku tersebut (LGBT, red) normal atau abnormal (tidak normal) dapat dilihat dari indikatornya. Ketika jumlahnya banyak dan mayoritas, maka dianggap normal. Namun jika sebaliknya tentu abnormal.

Kemudian, perilaku tersebut apakah menimbulkan tekanan atau stress terhadap yang melakukannya. Kalau stress tentunya dianggap tidak normal. Pada kasus LGBT ini, sebagian besar mereka sudah berhasil mengatasi pemikirannya, sehingga tidak stress lagi dengan kondisi dirinya. Namun, mungkin orang di sekelilingnya stress. Indikator selanjutnya adalah sesuai dengan agama, norma dan budaya yang berlaku di negara tempat tinggalnya. Bila berseberangan tentunya itu merupakan perilaku menyimpang.

“Masalah menerima atau tidaknya, menurut saya seharusnya diterima. Tetapi, soal dibenarkannya keberadaan kaum LGBT masih menjadi masalah. Kalau menurut saya, sebenarnya mereka itu tidak ingin seperti itu. Jadi, kondisi seperti itu semacam diluar kehendak mereka juga,” tutur Irna.

Dijelaskannya, faktor penyebab terbentuknya individu LGBT karena sudah tertanam dalam diri mereka masing-masing. Misalkan, faktor genetisnya yaitu faktor otaknya. Jadi, menurut penelitian bahwa yang berjenis kelamin itu adalah otak manusia. Namun, ketika jenis kelamin otaknya tidak sejalan dengan kondisi dirinya maka menimbulkan masalah seperti terhadap kelompok LGBT.

“Bagi kelompok yang normal termasuk beruntung, kelamin otak sejalan dengan kondisi dirinya. Misalnya, ada orang yang merasa dirinya perempuan dan organ tubuhnya juga perempuan. Namun, jika sebaliknya, merasa laki-laki tetapi organ tubuhnya perempuan maka menimbulkan masalah,” cetusnya.

Disinggung mengenai dari faktor keluarga terbentuknya individu LGBT, sambung Irna pengaruhnya tidak terlalu besar. Begitu juga dengan faktor lingkungan. Namun, kecenderungan diri merupakan faktor yang cukup kuat. Misalkan, dari gaya hidup yang tidak sesuai dengan budaya atau norma yang ada di negara tempat tinggalnya. Kecenderungan yang dimiliki kelompok LGBT, sepertinya saling mengenali sehingga mereka kemudian membentuk kelompok yang ingin keberadaannya diakui.

“Kelompok ini biasanya akan menjaring remaja karena masih mencari jati diri atau identitasnya. Sebab, kaum remaja ini ingin diakui keberadaannya,” cetusnya.

Dia menambahkan, faktor lainnya yang juga bisa terjadi diakibatkan oleh trauma sejak kecil akibat penyiksaan atau kekerasan seksual. Sehingga, ketika tumbuh dewasa si individu LGBT ini tetap trauma. Kemudian, dampak dari kekerasan dalam berpacaran yang memiliki trauma mendalam, sehingga mereka memiliki pandangan yang salah tentang lawan jenis.(ris/prn/ful)

loading...
Click to comment
To Top