Ketahanan Pangan Kudus Latih Kantin Sehat – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Ketahanan Pangan Kudus Latih Kantin Sehat

FAJAR.CO.ID, KUDUS, RAJA – Maraknya penggunaan kandungan bahan tambahan pangan dalam jajanan anak membuat orang tua harus lebih memperhatikan kebiasaan jajan anak. Terlebih jajanan yang tak sehat ini berisiko membayakan kesehatan. Tak sedikit jajanan anak yang beredar luas di masyarakat mengandung bahan tambahan pangan (BTP) yang berbahaya.

Seperti pewarna sintesis dan pengawet berlebih yang melewati batas yang diperbolehkan oleh BPOM. Banyak pula di antaranya yang mengandung bahan tambahan bukan untuk pangan. Apalagi kalau bukan boraks, formalin, hingga pewarna tekstil, yang bila dikonsumsi akan memiliki efek samping yang berbeda pada setiap orang.

Melihat kondisi ini Kantor Ketahan Pangan Kabupaten Kudus melalui seksi keamanan pangan melakukan kegiatan sosialisasi keamanan pangan di 10 lokasi di wilayah kecamatan Mejobo.

“Selain menjelaskan tentang bagaimana jajanan yang sehat untuk anak-anak, juga lakukan pemberdayaan pada kantin SD . Sebab selain pedagang kaki lima, kantin juga harus mendapatkan pengetahuan tentang makanan yang sehat,” jelas Murdiyono, Kepala Seksi keamanan Pangan kantor Ketahanan Pangan kabupaten Kudus.

Menurut Murdiyono, mengonsumsi jajanan yang tidak sehat memicu berbagai macam penyakit, salah satunya tifus.

“Penyakit tifus menular lewat makanan. Kalau anak sekolah SD, SMP, SMA, biasanya rentan terkena tifus karena mengonsumsi jajanan tercemar yang mengandung bakteri Salmonella typhi,” terangnya.

Tidak hanya menyerang pencernaan, BTP yang berlebihan juga memicu masalah kesehatan lainnya. Konsumsi BTP yang berlebihan dapat menyebabkan reaksi alergi pada kulit dan saluran napas yang membahayakan permasalahan kesehatan lainnya. Seperti perlukaan pada lambung ataupun gejala seperti migrain, kelelahan, kesulitan tidur, mual dan muntah, tidak nafsu makan, diare, serta dampak jangka panjang yang dapat merusak fungsi hati.

“Kondisi ini sudah pasti akan menghambat kegiatan belajar anak dan berujung pada menurunnya nilai akademis siswa bersangkutan. Maka itu, mulai sekarang sebaiknya pihak sekolah dan ornag tua lebih memperhatikan jajanan yang biasa dikonsumsi anak, apakah sudah aman atau justru berpotensi menimbulkan penyakit. Lebih baik orang tua meluangkan waktu untuk menyiapkan bekal bagi anak di sekolah yang lebih terjamin keamanan maupun higienitasnya,” paparnya.

Jika pun tidak sempat untuk menyiapkan bekal dan terpaksa harus jajan di sekolah, Murdiyono menganjurkan untuk memilih jajan di kantin sekolah yang bersih serta menghindari jajan sembarangan. Asupan nutrisi yang berkualitas harus memenuhi standar gizi seimbang, yakni mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air.

Data BPOM dan Dinas Kesehatan menyebutkan, ada empat jenis jajanan bermasalah dan tak higienis. Diketahui jajanan bermasalah ini mengandung BTP berlebihan dan menggunakan bahan tambahan bukan untuk pangan. Di antaranya berbagai jenis es, sirup, jeli, dan bakso. (sf/RAKYATJATENG)

 

loading...
Click to comment
To Top