KPK Geledah Gedung Mahkamah Agung – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

KPK Geledah Gedung Mahkamah Agung

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggeledah sejumlah ruangan di kantor Mahkamah Agung (MA). Penggeledahan tersebut tindaklanjut atas ditetapkannya sebagai tersangka Kasubdit Kasasi dan PK MA Andri Tristianto Sutrisna (ATS) yang tertangkap dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT), Jumat (12/2) lalu.

“Dalam rangka penyidikan dugaan tindak pidana korupsi yang terkait dengan pemberian pada pejabat MA, hari ini penyidik melakukan penggeledahan di kantor MA pada jam 9 pagi. Sampai saat ini masih berlangsung,” kata Juru Bicara KPK Yuyuk Andriati dalam keterangan pers, Senin (15/2).

Sayangnya, Yuyuk belum menjelaskan secara detail soal lokasi ruangan yang digeledah penyidik di kantor MA tersebut. Tak hanya itu, Minggu (14/2) kemarin, KPK juga menggeledah empat lokasi berbeda. Yakni, dua unit apartemen milik pengusaha PT Citra Gading Asritama Ichsan Suaidi di Sudirman Park, Jakarta Selatan.  “Kemudian dua rumah kediaman ATS di kawasan Gading Serpong,” kata Yuyuk.

Kabag Pemberitaan KPK Priharsa Nugraha menambahkan, dari penggeledahan di empat lokasi tersebut, penyidik menyita beberapa barang. ‎”Dari penggeledahan itu penyidik menyita sejumlah dokumen dan barang elektronik,” ujar Priharsa.

Seperti diketahui, KPK menetapkan tiga tersangka dalam kasus suap terkait penundaan pemberian salinan putusan kasasi MA. Mereka adalah Kasubdit Kasasi dan PK MA Andri Tristianto Sutrisna (ATS), pengusaha Ichsan Suaidi (IS), dan pengacara Awang Lazuardi Embat (ALE).

Penetapan tersangka ketiganya menyusul OTT yang digelar KPK di Gading Serpong, Tangsel, Banten pada Jumat (12/2) lalu.

Ichsan yang merupakan terdakwa dugaan korupsi Labuhan Haji di Lombok Timur itu diduga bersama kuasa hukumnya Awang menyuap Andri untuk melakukan penundaan pemberian salinan putusan MA terkait perkaranya yang pada 9 September 2015 diputus majelis hakim agung. Sehingga, Ichsan urung dieksekusi sebagaimana amar putusan yang dibacakan Ketua majelis hakim agung Artidjo Alkostar pada saat itu, yaitu pidana penjara selama lima tahun.

[NEXT-FAJAR]

Atas perbuatannya, Ichsan (IS) dan Awang (ALE) diduga melanggar pasal 5 ayat 1 huruf a atau huruf b atau pasal 13 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tipikor jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana.

Sementara Andri (ATS) sebagai pihak penerima diduga melanggar pasal 12 huruf a atau b atau pasal 11 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tipikor.

Saat ini, tiga tersangka itu ditahan di rutan berbeda-beda. ALE ditahan di Rutan Polres Jakarta Pusat, ‎ATS di Rutan Polres Jakarta Timur, dan IS di Rutan Polres Jakarta Selatan untuk 20 hari pertama. ‎(put/jpg)

To Top