Tidak Punya Biaya, Bocah Penderita Penyakit Langka Semakin Kritis – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Makassar

Tidak Punya Biaya, Bocah Penderita Penyakit Langka Semakin Kritis

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Ainur Asyila, Bocah tiga tahun,  penderita penyakit langka Myastenia Gravis kembali kritis. Warga BTN KODAM III BLOK A6 NO.11, Kota Makassar, Sulawesi Selatan kini meringkuk di RSCM Jakarta.

Andi Harmiah, ibunda pasien dengan kelumpuhan otot ini mengatakan Asyila diminta menjalani operasi besar. Sebab, semakin hari kondisi putei keduanya tersebut terus menurun.

“Asyila harus dioperasi dan kami bingung soal biaya,” katanya sembari menangis, Minggu, 21 Fabruari.

Dalam ilmu kedokteran penyakit saraf (neurologi), MG termasuk jenis penyakit sulit yang tingkat kegawatannya sangat tinggi, dimana penderita mengalami kelumpuhan otot secara bertahap dan jika akut akan mengalami gagal napas yang bisa mengakibatkan kematian.

Gejala penyakit ini salah satunya, mengalami kelelahan terus-menerus, dan pagi hari saat bangun tidur, terasa ada ketidakberesan dengan mata yang kelopaknya menjadi separuh tertutup. Lalu, siang hari mata menjadi tertutup karena merasa ngantuk dan lemas.

Sekedar diketahui, Myasthenia gravis termasuk penyakit langka. Penderitanya boleh dibilang 1 di antara 1.000. MG disebabkan karena terjadinya kekacauan penyimpangan antara saraf dan otot (neuro muscular junction disorder), yang antara lain mempengaruhi kekebalan tubuh manusia.

Penyakit yang menimpa anaknya ini mulai menjalar sejak tahun 2013 lalu, dimana saat diperiksakan ke rumah sakit, ternyata dokter mendiagnosa Asyila menderita penyakit Myastenia Gravis.

Meski mendapatkan pengobatan rutin dari dokter, namun penyakitnya bertambah parah bahkan Asyila saat ini ketergantungan obat.

Asyila, hingga sekarang belum mendapatkan perawatan medis yang semestinya lantaran berasal dari keluarga kurang mampu. Kini orangtua Asyila, hanya bisa pasrah melihat kondisi anaknya yang diharuskan meminum obat 6 kali sehari, jika terlambat semenit saja meminum obat dia akan lumpuh tak bisa bergerak seperti mumi.

Ironisnya lagi, obat yang dikomsumsi tidak dijual di Makassar, melainkan harus dipesan khusus di Jakarta, belum lagi harga obat tersebut sangat mahal dimana dengan dosis 40 miligram harus ditebusnya dengan harga Rp 10 ribu perbijinya, sebotol Rp. 1,5 juta ditambah biaya perawatan, karena harus bolak balik rumah sakit.

Pengobatan yang harus ditempuh Asyila, yakni melalui terapi Stem Cells, tapi pengobatan itu hanya ada di Jakarta. Dan itu membutuhkan biaya besar, hingga mencapai ratusan juta.

Sementara untuk membeli obat sehari-harinya saja sudah tidak mampu lagi, Sebenarnya ada proses penyembuhan di Makassar tapi harus melalui operasi belah dada, tapi ibunya Andi Harmiah (29) akrab disapa ibu Mia, tidak berani.

Ayah Asyila, Muhammad Syaeful (36) yang setiap harinya bekerja sebagai pedagang roti mantao disalahsatu pinggir jalan di kota Makassar. Sedangkan Ibunya hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Mereka hidup pas-pasan dengan mengontrak rumah.

Kepada para penderma yang terketuk hatinya dan ingin menolong. Bantulah asyila. (MUHAMMAD SYAIFUL 3419-01-027849-53-0 BANK BRI). (Hamdani Saharuna/Fajar)

loading...
Click to comment
To Top