Ketika Orang Sabar pun Mengadu – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Samudera Ilmu

Ketika Orang Sabar pun Mengadu

Kendati selaksa hikmah, dapat kita ciduk dari telaga kisahnya nan jernih. Namun entah kenapa, serasa demikian sendu memaknai setiap ceriteranya. Narasinya memang sedih. Penuh sedu-sedan. Serta lika-liku. Mengoyak-ngoyak nurani.

Hingga bila kita memaknai dalam-dalam setiap yang tertulis, cairan bening akan akan mengendap di sudut mata. Lalu jatuh membasahi pipi. Ya, membacanya kita hampir-hampir akan menangis. Atau bahkan sesenggukan.

Dia seorang lelaki tua. Seperti jejak datuknya, tangannya biasa memegang tongkat untuk menopang tubuhnya yang semakin ringkih. Meski berusia senja, dirundung sedih tersebab perpisahan yang berkepanjangan dengan buah hati, sang penyejuk mata, sabarnya tetap renjana.

Ketika rasa rindunya semakin mendidih dan meluap-luap, lelaki tua dengan kesabaran yang seumpama cadas itu berujar, menyebut nama anaknya sepenuh cinta, sepenuh rindu.

“ Aduhai duka citaku terhadap Yusuf “ [ QS Yusuf : 84 ]

Kesedihan juga akhirnya membuat sepasang bibirnya tak tahan tuk mengadu :

“ Sesungguhnya hanyalah kepada Allah, aku mengadukan kesusahan dan kesedihaku “ [ QS Yusuf : 86 ]

Lelaki tua itu, Ya’qub namanya. Seorang Nabi.

Tidak sabarkah ia, hingga harus mengadu?

“ sabar, ‘’ demikian menurut salah satu pendapat yang disentil dalam kitab Ibnu Qayyim, Ihdatushobirin , “ adalah istiqomah menjalani perintah dan menjauhi laranganNya.”

Maka segala sedu-sedan, lika-liku hidup, jika diadukan hanya pada Allah semata, maka ia masih tergolong orang-orang yang sabar. Sabar, bukanlah bermkna tak ada pengaduan mutlak. Mengadu kepadaNya, yang senantiasa menampung  pengaduan hamba-hambanya adalah termasuk bentuk sebuah tawadhu akan lemahnya diri.

Adalah pemuka orang-orang sabar, penghulu para rasul, Muhammad ibnu Abdillah saw juga pernah bertutur dalam salah satu sabdanya. “ Ya Allah, aku mengadu kepadaMu atas ringkihnya kekuatanku, dan terbatasnya upayaku.“

Orang-orang sabar pun mengadu. Bukan kerana tak sabar. Tapi karena itulah sabar. Yakni hanya mengadu pada Allah semata saja.

***

Satu lagi kisah lain. Yang tak kalah hebat jadikan hati terenyuh. Mengoyak-ngoyak rasa belas kasih. Tapi begitulah, jika Sang Kekasih menguji kekasih. Seakan-akan di batas belas kasih. Senarai duka cita yang menyapanya, dan keteguhannya yang renjana, kini menjadi oase penuh hikmah. Pun manis terasa. Menjadi penawar dahaga bagi para musafir dalam rihlah yang sebentar ini.

Adalah Ayyub. Sang Nabi alaihissalam.

Entah berapa rentetan anak panah kedukaan melambraknya. Hingga nyaris, duka demi duka hancur terkeping-keping membentur duka yang lain.

Sebagaimana diceriterakan dalam At Tabshiroh, karangan Ibnu Jauzy, mula-mula rumahnya ambruk, menimpa anak-anaknya dan akhirnya meninggal. Tanaman dan binatang ternaknya raib dimakan hama dan wabah. Lalu, setelah semua itu duka yang paling anyar menimpa dirinya, adalah penyakit cacar yang menggerogoti kulit dan porinya.

Alhasil, Ayyub diasingkan. Kerana ia berbau tak sedap. Ia hidup di tempat pembuangan sampah. Tapi sang istri, tetap menjadi khadam baginya. Senantiasa membawakannya makanan.

Wahai, Nabiyullah Ayyub, setegar itukah engkau?

Salam kami terhaturkan padamu.

Hingga akhirnya, suatu ketika seuntai do’a yang sepenuh sopan terlisan. “ [Ya Tuhanku], sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit sementara Engkau Maha Penyayang di antar para penyayang “ [QS : Al Anbiya 83]

Salahkah ia mengadu? Tak sabarkah?

Sekali-kali tidak. Justru itulah sabar. Mengadu hanya padaNya. Orang-orang sabar pun mengadu. Bukan kerana tak sabar. Tapi karena itulah sabar. Yakni hanya mengadu pada Allah semata saja.

***

Sudahkah kita bersabar, mengadu pada Yang Mendengar? Apatahlagi hidup di serambi huru-hara akhir zaman, wabah dan hama dengan mudah dapat gerogoti hati kita. Fitnah begitu gampang ambruk membunuh tauhid anak-anak kita.

“Ya Allah, aku mengadu kepadaMu atas ringkihnya kekuatanku, dan terbatasnya upayaku.“

 

Click to comment
To Top