Delapan Fakta Terkait Brigadir Petrus – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Hukum

Delapan Fakta Terkait Brigadir Petrus

FAJAR.CO.ID, PONTIANAK – Brigadir Petrus Bakus yang merupakan anggota Sat Intelkam Polres Melawi, Kalimantan Barat diduga mengalami gangguan kejiwaan. Pasalnya, dia dengan tega telah memutilasi dua anaknya yang masih balita, Fab, 4; dan Amo, 3.

Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti pun mengatakan, berdasarkan laporan yang dia terima, Petrus sebenarnya mengalami gangguan kejiwaan sejak kecil. Selain dugaan tersebut, sebenarnya banyak fakta menarik dari peristiwa pembunuhan itu.

Berikut delapan hal mengerikan dari peristiwa pembantaian yang dilakukan Brigadir Petrus terhadap dua anaknya:

1. Sering kesurupan sejak berumur 4 tahun
Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti mengakui bahwa Brigadir Petrus sering kesurupan sejak usia empat tahun.

2. Diduga mengalami gangguan jiwa sejak kecil tapi lolos jadi polisi
Berdasarkan informasi yang diterimanya, Kapolri Badrodin Haiti mengatakan bahwa Brigadir Petrus Bakus telah mengalami gangguan kejiwaan sejak kecil. Tapi anehnya, tak terdeteksi saat ia masuk sebagai anggota kepolisian.

Bahkan, Kapolda Kalbar Brigjen Pol Arief Sulistyanto menduga sang anak buah mengalami schizophrenia.

3. Bersikap aneh sebelum mutilasi dua anaknya
Istri Petrus, Windri  mengatakan, beberapa hari sebelum peristiwa mutilasi dua anaknya,  suaminya bertingkah aneh. Dia juga sering mengigau dan bersikap seolah sedang dikejar.

4. Malam-malam sebelum pembantaian, Brigadir Petrus membawa dua anaknya ke…
Sebelum membunuh Fab, dan Amo, Petrus mengajak kedua anaknya itu ke rumah komandannya, Kasat Intelkam Polres Melawi AKP Amad Amad Kamiludin yang sama-sama berada di kompel rumah dinas aspol Polres Melawi.

Tapi di sana, Petrus dan dua anaknya hanya bertemu  Kapolsek Menukung AKP Sofyan yang saat itu menginap di rumah dinas Amad.  “Ada apa malam-malam bawa anak ke sini?” tanya Sofyan. Dia pun menjawab. “Mau bertemu kasat Pak.”

5. Berkata: Mereka baik, mereka mengerti, mereka pasrah
Orang kali pertama tahu atas kejadian mutilasi itu adalah sang istri, Windri. Saat terbangun dari tidurnya, dia melihat sang suami berdiri dengan membawa parang di depan anaknya. Kedua anaknya sudah tergeletak tak bernyawa.  “Mereka baik, mereka mengerti, mereka pasrah. Maafkan papa dik,” ujar Petrus kepada sang istri

6. “Sudah saya bersihkan, Bang. Saya menyerahkan diri”
Windri langsung lari keluar rumah ketika melihat sang suami telah membantai dua anaknya. Dia berlari ke rumah dinas yang ditempati oleh Brigadir Sukadi, anggota Sat Intelkam Polres Melawi yang tak jauh dari rumahnya. Dia minta pertolongan.

Brigadir Sukadi yang sudah tidur terbangun dan membuka pintu lalu mengamankan Windri ke dalam rumah dan mengunci pintu rumah.  Kemudian, Brigadir Sukadi melihat Pelaku keluar rumah dan duduk di teras rumahnya, dan berkata “Sudah saya bersihkan, Bang. Saya menyerahkan diri”.

7. Potong kedua kaki dan tangan anak-anaknya
Kondisi dua Fab dan Amo sangat mengenaskan. Dari informasi yang dihimpun jpnn.com, Fabian yang berjenis kelamin laki-laki mengalami luka pada bagian leher. Sedangan tangan kiri dan tangan kanan terpotong di atas siku. Tak hanya itu, kedua kakinya juga terpotong di atas lutut.

Begitu juga Amora, dia juga ditemukan dengan luka mengenaskan. Anak perempuannya yang masih berusia 3 tahun itu mengalami luka di bagian leher. Kedua tangan dan kakinya juga terpotong.

8. Mutilasi anak untuk persembahan
Menurut Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti berdasarkan laporan dari Kapolda Kalbar Brigjen Arief Sulistyanto, tujuan Brigadir Petrus tega membantai dan memutilasi kedua anaknya adalah untuk persembahan. “Tadi malam anaknya dimutilasi untuk persembahan,” kata Badrodin. (mas/boy/jpnn)

To Top