Pengamat Kritik Marwan Jafar, Harusnya Jokowi Malu – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Nasional

Pengamat Kritik Marwan Jafar, Harusnya Jokowi Malu

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Kekecewaan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Marwan Jafar terhadap perusahaan penerbangan milik negara, Garuda Indonesia tidak menggambarkan sama sekali adanya revolusi mental di jajaran kabinet Jokowi. Bahkan sikap politisi PKB itu sama seperti kementerian yang dipimpinnya, yakni ‘ndeso dan tertinggal’.

“Seharusnya sebagai atasan, Jokowi malu jika ada menterinya yang bersikap seperti raja sebagaimana ditunjukkan oleh Marwan,” kata pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI), Muhammad Budyatna kepada wartawan di Jakarta, Jumat (26/2/2016).

Budyatna melontarkan sindiran ini terkait sikap menteri Marwan Jafar yang menumpahkan kemarahannya terhadap Garuda Indonesia di depan peserta seminar nasional “Peta Desa untuk Percepatan Pembangunan Desa dan Kawasan Pedesaan”.

Dihadpan peserta seminar, Marwan menceritakan bahwa dirinya ditinggal oleh Garuda Indonesia yang berangkat pukul 08.00 WIB menuju Yogyakarta, karena telah datang ke Bandara. Dia pun kemudian mengambil penerbangan pukul 10.00 WIB, namun pesawat tersebut terlambat atau delay dan baru diterbangkan pukul 11.30 WIB.

“Kalau kita ketinggalan dua sampai tiga menit saja sudah ditinggal, tapi kalau delay bisa dua sampai tiga jam kita tidak dapat apa-apa,” ujarnya menumpahkan kekecewaannya itu.

Melanjutkan pernyataannya, Budyatna mengatakan, padahal Marwan marah-marah karena kesalahannya sendiri yang telat datang ke Bandara dan tambah marah-marah ketika ternyata pesawat berikutnya telat. Mestinya hal itu tidak dia lakukan karena sebagai menteri harus menunjukkan sikap membumi dan tidak sok kuasa seperti pejabat-pejabat jaman dulu.

“Slogan revolusi mental Jokowi, jelas telah dilanggar oleh pembantunyanya sendiri. Jokowi harusnya malu memiliki anak buah yang seperti ini,” tambah Budyatna.

Diingatkan bahwa Jokowi dipilih oleh masyarakat karena citranya yang merakyat, sehingga jika ada pembantunya yang bersikap seperti raja, tentunya hal ini tidak akan diterima oleh masyarakat.

“Lah bosnya (Jokowi) saja untuk jadi presiden harus masuk gorong-gorong biar disukai rakyat dan akhirnya menang dalam pilpres, masa anak buahnya justru bersikap seperti raja. Bosnya saja merakyat, tapi yang jadi pembantu malah merasa jadi raja,” katanya.

Karena itu menurut Budyatna sikap Marwan sama seperti nama kementerian yang dipimpinnya, yakni ndeso dan tertinggal. Sebagai seorang menteri, harusnya Marwan bisa mencerminkan dirinya seperti seorang negarawan.

“Kalau sikapnya seperti ini yah persis sama dengan nama lembaga yang dipimpinnya. Marwan jelas ndeso dan tertinggal,” sindirnya lagi.

Marwan, kata Budyatna seharusnya tahu bahwa dimanapun di dunia ini, yang namanya pesawat komersil kalau kita telat maka pasti akan ditinggal, karena pesawat komersil punya jadwal yang ketat dan kalau ada kendala pasti ada penundaan dan penumpang harus menunggu.

“Ini menterinya seperti tidak pernah naik pesawat. Yah memang begitu di dunia perbangan, kita telat kita ditinggal, pesawat telat kita disuruh menunggu,” tegasnya

Ada Apa Marwan Bandingkan Garuda dengan Lion Air?

Dia pun menilai janggal seorang menteri bisa lebih membanggakan perusahaan penerbangan milik swasta daripada yang dimiliki negara. Sebagai anggota kabinet, tidak semestinya Marwan menjelek-jelekan perusahaan milik negara seperti Garuda, dan membanggakan perusahaan penerbangan swasta.

“Ini kok yah menjelek-jelekan Garuda Indonesia yang milik negara dan lebih membanggakan Lion Air yang miliki pengusaha swasta. Terlebih jelas Garuda Indonesia masih lebih unggul daripada Lion Air sendiri,” ujar Guru Besar FISIP UI ini lagi.

Budyatna mencium kalau motif pernyataan Marwan ini jelas sangat kental aroma politis dan ekonomis. Dia pun mensinyalir ada motif tersembunyi dibalik pernyataan Marwan karena bagaimanapun selama ini masyarakat mengetahui pemilik Lion Air, Rusdy Kirana adalah mantan wakil ketua umum PKB.

“Masyarakat tahu lah siapa Rusdy Kirana dan hubungannya dengan PKB, partai tempat Marwan bernaung Mantan Dekan FISIP UI ini pun pun meminta agar Jokowi memasukkan nama Marwan dalam daftar menteri yang harus diresufle dari kabinet,” tegasnya. (fmc)

loading...
Click to comment
To Top