Goda Publik Sosmed dengan Keindahan Destinasi Wisata – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Budaya & Pariwisata

Goda Publik Sosmed dengan Keindahan Destinasi Wisata

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Social Media (Sosmed) suka atau tidak suka, sudah seperti negara tersendiri, punya rakyat, punya komunitas. Karakternya beragam, ada yang pro, ada yang kontra, ada yang ekstrim, ada yang fanatik, ada yang happy, ada yang unhappy, tetapi itulah suara-suara hati dan pikiran publik yang terbaca dari Medsos.

“Kalau bicara Strategi Media, ada empat channel yang kami pakai. Paid Media atau media berbayar, Own Media atau media yang kita miliki sendiri, Social Media atau media sosial, dan Endorser Media atau menggunakan orang perpengaruh untuk mempromosikan destinasi kita. Saya biasa menyingkat dengan POSE,” jelas Menpar Arief Yahya, di Jakarta.

Deputi Pengembangan Destinasi dan Industri Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Dadang Rizki pun menterjemahkan teori Menpar Arief Yahya. Dia sudah mulai membuat kanal “Cerita Destinasi” di Facebook. Foto-foto destinasi, berikut dengan sekelumit cerita seputar objek wisata itu, menjadi daya tarik netizen untuk berkunjung dan share ke friends-nya di Medsos itu. Pria asal Jawa Barat itu mengatakan bahwa peran masyarakat di sosial media juga membantu pengembagan destinasi yang dimiliki Indonesia.

”Silakan selfie, atau foto-foto di tempat wisata kita, silakan mengambil gambar yang bagus, lalu tampilkan di Cerita Destinasi. Kami memberi ruang untuk mengirimkan karya foto dan cerita Anda kok. Narsis demham latar belakang tempat wisata, lalu upload di media sosial manapun, akan membuat destinasi kita lebih luas tersebar ke mana-mana,”ujar Dadang.

Era selfie memang tidak bisa dihindarkan. Semua orang paling suka kalau foto, lalu di upload di medsos, dan dikomentari banyak followers atau friends-nya. ”Sisipkan objek wisata dan keindahan alam Indonesia! Karena itu akan membuat destinasi semakin dikenal, dan foto selfie-nya lebih keren,” ucapan Dadang.

Orang Indonesia konon paling aktif di Medsos. Di akhir tahun 2015 saja, Opera Mediaworks dan Mobile Marketing Association (MMA) merilis data terbaru tentang perilaku pengguna smartphone di negara P6 (The Power 6), yakni India, Malaysia, Filipina, Thailand dan Vietnam, serta Australia, termasuk Indonesia. Dari data itu, pengguna perangkat mobile Indonesia lebih sering mengakses situs media sosial dengan persentase 38 persen.

Tak hanya Indonesia, negara lain yang memiliki jumlah pengakses situs media sosial cukup besar adalah India, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Selain media sosial, dua konten yang juga sering diakses pengguna perangkat mobile di Indonesia adalah toko aplikasi untuk perangkat mobile (mobile store) dengan persentase 22 persen dan konten olahraga dengan persentase 12 persen.

 

Penggunaan feature phone yang masih cukup tinggi disebut jadi alasan akses ke mobile store masih tinggi di Indonesia. Sebab, pengguna feature phone membutuhkan kanalmobile store untuk mengakses konten dan aplikasi.

Bahkan disebutkan 88,5% unique user di mobile store dan portal operator berasal dari feature phone. Selain data pengguna konten mobile, Opera juga merilis data tentang perilaku dan minat pengguna perangkat mobile di negara-negara tersebut. Dari data yang dikumpulkan diketahui bahwa ada 4 segmen konsumen mobile, yakni Savvy Shoppers, High-Tech Enthusiasts, Travelers, dan Gamers.

Di Indonesia, konsumen mobile yang paling besar adalah Savvy Shoppers dan Travelers. Negara lain yang juga memiliki jumlah Savvy Shoppers terbesar adalah India, Malaysia, dan Vietnam. ”Cara pak Menteri Arief Yahya yang melek sosial media itu tep. Keindahan alam kita banyak menghiasi sosial media. Ke mana saja orang berjalan-jalan, ujungnya pasti upload di Facebook,” ujar Sekjen Asosiasi Perjalanan Asia Pasifik (PATA), Ratna Soebrata.

”Saya terkejut ketika turis asing di Bali tahu Karangasem dan Bali. Bagaimana dia memesan tiket hingga Bali, dia menjawab: lihat internet, pesan di internet, bayar di internet, dan saya datang ke negaramu,” ujar Bidang Promosi Dinas Pariwisata Karangasem, Bali, I Nyoman Adi Sudarmaya.(*)

JAKARTA – Social Media (Sosmed) suka atau tidak suka, sudah seperti negara tersendiri, punya rakyat, punya komunitas. Karakternya beragam, ada yang pro, ada yang kontra, ada yang ekstrim, ada yang fanatik, ada yang happy, ada yang unhappy, tetapi itulah suara-suara hati dan pikiran publik yang terbaca dari Medsos.

“Kalau bicara Strategi Media, ada empat channel yang kami pakai. Paid Media atau media berbayar, Own Media atau media yang kita miliki sendiri, Social Media atau media sosial, dan Endorser Media atau menggunakan orang perpengaruh untuk mempromosikan destinasi kita. Saya biasa menyingkat dengan POSE,” jelas Menpar Arief Yahya, di Jakarta.

Deputi Pengembangan Destinasi dan Industri Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Dadang Rizki pun menterjemahkan teori Menpar Arief Yahya. Dia sudah mulai membuat kanal “Cerita Destinasi” di Facebook. Foto-foto destinasi, berikut dengan sekelumit cerita seputar objek wisata itu, menjadi daya tarik netizen untuk berkunjung dan share ke friends-nya di Medsos itu. Pria asal Jawa Barat itu mengatakan bahwa peran masyarakat di sosial media juga membantu pengembagan destinasi yang dimiliki Indonesia.

”Silakan selfie, atau foto-foto di tempat wisata kita, silakan mengambil gambar yang bagus, lalu tampilkan di Cerita Destinasi. Kami memberi ruang untuk mengirimkan karya foto dan cerita Anda kok. Narsis demham latar belakang tempat wisata, lalu upload di media sosial manapun, akan membuat destinasi kita lebih luas tersebar ke mana-mana,”ujar Dadang.

Era selfie memang tidak bisa dihindarkan. Semua orang paling suka kalau foto, lalu di upload di medsos, dan dikomentari banyak followers atau friends-nya. ”Sisipkan objek wisata dan keindahan alam Indonesia! Karena itu akan membuat destinasi semakin dikenal, dan foto selfie-nya lebih keren,” ucapan Dadang.

Orang Indonesia konon paling aktif di Medsos. Di akhir tahun 2015 saja, Opera Mediaworks dan Mobile Marketing Association (MMA) merilis data terbaru tentang perilaku pengguna smartphone di negara P6 (The Power 6), yakni India, Malaysia, Filipina, Thailand dan Vietnam, serta Australia, termasuk Indonesia. Dari data itu, pengguna perangkat mobile Indonesia lebih sering mengakses situs media sosial dengan persentase 38 persen.

Tak hanya Indonesia, negara lain yang memiliki jumlah pengakses situs media sosial cukup besar adalah India, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Selain media sosial, dua konten yang juga sering diakses pengguna perangkat mobile di Indonesia adalah toko aplikasi untuk perangkat mobile (mobile store) dengan persentase 22 persen dan konten olahraga dengan persentase 12 persen.

Penggunaan feature phone yang masih cukup tinggi disebut jadi alasan akses ke mobile store masih tinggi di Indonesia. Sebab, pengguna feature phone membutuhkan kanalmobile store untuk mengakses konten dan aplikasi.

Bahkan disebutkan 88,5% unique user di mobile store dan portal operator berasal dari feature phone. Selain data pengguna konten mobile, Opera juga merilis data tentang perilaku dan minat pengguna perangkat mobile di negara-negara tersebut. Dari data yang dikumpulkan diketahui bahwa ada 4 segmen konsumen mobile, yakni Savvy Shoppers, High-Tech Enthusiasts, Travelers, dan Gamers.

Di Indonesia, konsumen mobile yang paling besar adalah Savvy Shoppers dan Travelers. Negara lain yang juga memiliki jumlah Savvy Shoppers terbesar adalah India, Malaysia, dan Vietnam. ”Cara pak Menteri Arief Yahya yang melek sosial media itu tep. Keindahan alam kita banyak menghiasi sosial media. Ke mana saja orang berjalan-jalan, ujungnya pasti upload di Facebook,” ujar Sekjen Asosiasi Perjalanan Asia Pasifik (PATA), Ratna Soebrata.

”Saya terkejut ketika turis asing di Bali tahu Karangasem dan Bali. Bagaimana dia memesan tiket hingga Bali, dia menjawab: lihat internet, pesan di internet, bayar di internet, dan saya datang ke negaramu,” ujar Bidang Promosi Dinas Pariwisata Karangasem, Bali, I Nyoman Adi Sudarmaya.(*)

loading...
Click to comment
To Top