Mengikat Cinta Bersama Temali yang Kokoh – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Samudera Ilmu

Mengikat Cinta Bersama Temali yang Kokoh

Segenap puji hanya milik Allah semata sahaja. Yang dengan berserah dan menyerah diri padaNya adalah sebagai suatu kemenangan. Yang Memuliakan orang yang berendah, dengan sujud sedatar bumi. Sepenuh puji hanya milikNya semata. Dialah Raja Diraja. Yang telah dan akan berfirman,

“Milik siapakah kerajaan hari ini“ [QS Al Mu’min : 16]

Hening.

Tak ada decah embun yang jatuh dari gurat wajah dedaun. Tak ada kicau beburung di atas reranting. Hanya suara jubel gelombang manusia yang telah berkumpul di Mahsyar. Maka hari itu,

“Milik Allah yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan” [QS Al Mu’min : 16]

Sholawat dan salam terhatur selalu pada sang panutan sepanjang hayat. Yang dengan bersholawat padanya, para malaikat menghatur kembali sholawat pada pemberi sholawat.

***

“Dan dijadikanNya di antara kamu, rasa kasih sayang“ [ QS Ar Rum : 21]

Cinta.

Betapa ia sederhana dalam kata. Namun terkadang, mengemudi hati di jalan ini seakan bagai berpelana, mengendarai tunggangan di jalan lurus tanpa aral. Tentram terasa, namun menghanyutkan. Hingga banyak yang melaju tak terkendali, lalu terjun dalam lembah curam. Jalan ini pun nikmat terkecap, namun bisa berujung memabukan. Terkisah sudah, senarai insan telah menjelma majnun karenanya.

Adalah karena rasa ini, banyak pembunuhan dan bunuh diri telah terjadi. Baik kerana ceriteranya bertandas pada patah hati, ataupun kecemburuan semata.

Memang benar, rasa yang bertahta di hati ini adalah fitrah. Selama dia bukan orang yang sakit jiwa, maka tak satupun manusia mampu lari darinya. Namun, sekalipun ia adalah fitrah, ia juga bisa berubah petaka hingga datangkan murka dari tujuh petala langit.

Semuanya, jika yang mekar itu, dikelilingi dan dijaga dengan pagar-pagar syariat. Selama ia tidak keluar dari bingkaiNya, maka ia suci tak ternoktah. Adapun jika melenceng, maka akan ternoda. Dan akan menghilir menuju muara penuh nestapa. Lalu di muara kesudahan hidup manusia, ia akan berseru :

“Aduhai celaka, betapa binasa. Andai saja dulu tak kujadikan si Fulan itu sebagai kekasih” [QS Al Furqan : 28]

Cinta yang tak pernah terkecewakan adalah yang dibangun di atas pondasi yang kuat. Dan yang ditambatkan pada pepohon dan temali yang kokoh. Benci dan cinta karena Allah, adalah ia temali yang kokoh itu.

Benci dan cinta karena Allah menjadi tali yang menyatukan mereka dalam berhimpun dan berpisah. Segala tali ikatan yang dibangun dalam pondasi ini, maka akan meminus sesal bahkan tak ada sama sekali.

Tersebab cinta dimana mereka terhimpun itu hanya demi menuju cinta Rabb. Yang telah menduduki tahta tertinggi di hati mereka. Hal ini juga yang harus mendasari setiap ikatan, baik ikatan keluarga, ikatan ukhuwah atau bahkan ikatan sepasang lelaki dan perempuan.

Ikatan cinta yang direkat dengan temali yang kokoh ini, pun akan mendapat naungan dari Allah ketika hari tak ada naungan, selain naunganNya.

“Dua orang yang saling mencintai kerana Allah” demikian penggalan sebuah Hadits, yang menjelaskan tentang golongan yang mendapat naungan “keduanya berkumpul dan berpisah kerana Allah”

Maka beruntunglah mereka. Tersebab didunia mereka dinaungi rahmat. Dan di akhirat mereka pun ternaung. Dan alangkah celakanya, jika para kekasih di dunia ini kelak justru saling mengumpat dan mencela, menggugat dan berbantah.

“Para kekasih pada hari itu, sebagian menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Kecuali orang-orang yang bertaqwa.” [QS Az Zukhruf: 67]

“Aduhai celaka, betapa binasa. Andai saja dulu tak kujadikan si Fulan itu sebagai kekasih” [QS Al Furqan : 28]

Duhai Rabbi

Click to comment
To Top