Pasca Vonis 4 Tahun Penjara, IAS Tetap Pengendali Demokrat? – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Hukum

Pasca Vonis 4 Tahun Penjara, IAS Tetap Pengendali Demokrat?

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Peluang Ilham Arief Sirajudin (IAS) untuk maju ke Pemilihan Gubernur (pilgub) Makassar kini tertutup suda, Hal ini menyusul setelah Hakim Pengadilan Tipikor Jakarta menjatuhkan vonis hukuman kepada Mantan Wali Kota Makassar dua periode tersebut empat tahun penjara dan denda Rp 100 juta subsidari 1 bulan kurungan penjara.

Meski demikian, IAS diprediksi masih cukup berpengaruh terhadap usungan Demokrat baik di Pilgub maupun di Pilkada 2018 meski lewat balik jeruji besi. Tentunya tiap putusan yang diambil Demokrat dengan lewat pertimbangan IAS. Menanggapi hal tersebut, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Sulsel, Ni’matullah mengatakan sangat sedih dan tidak menduga IAS sapaan akrab Ilham Arief Sirajuddin akan divonis seberat itu.

Menurutnya, Ilham adalah sosok yang begitu diidamkan partai Demokrat Sulsel. “Saya sangat sedih dan tidak menyangka, saudara saya IAS akan dihukum seberat itu sebab beliau (IAS, red) sangat begitu ditokohkan partai demokrat Sulsel,” ujarnya. Menyangkut untuk Pilgub 2018 mendatang, Ni’matullah mengatakan masih belum memikirkannya.

Sebab saat ini, menurutnya Demokrat Sulsel masih bersedih dan fokus mendoakan IAS agar tabah dalam menjalani proses hukumnya. “Saya masih belum mau berkomentar tentang itu (Pilgub) sebab kita (Demokrat Sulsel, red) masih bersedih, kita hanya fokus untuk mendoakan Pak IAS agar tabah dan sabar dalam cobaan yang diberikan,” ucapnya.

[NEXT-FAJAR]

Lain halnya dengan Sekretaris Devisi Pro Rakyat DPD Sulsel, Asrun Tukan. Menurut dia partai Demokrat Sulsel hanya fokus pada Musyawarah Daerah pada 9-12 Maret mendatang. Menurutnya, untuk kader yang akan diusung masih belum bisa dipastikan sebab harus ada proses dan mekanisme yang mesti dilalui sebelum diusung.

“Partai Demokrat masih fokus untuk melaksanakan Musda, nantilah kita lihat siapa yang akan diusung sebab masih banyak proses dan mekanisme yang akan dilalui kader untuk diusung nantinya,” jelasnya.

Sementara Direktur Indeks Politica Indonesia (IPI), Suwadi Idris Amir mengatakan arah partai Demokrat pada Pilgub 2018 mendatang adalah mengusung kader internal. Namun, kader internal Demokrat yang mumpuni untuk diusung pada Pilgub hanya tertuju pada sosok Ilham Arief Sirajuddin yang saat ini tersandung kasus korupsi dan sudah divonis 4 tahun.

Oleh karena itu, lanjut Suwadi, buntut dari terlalu mempopulerkan Ilham Arief Sirajuddin, partai Demokrat telah terlambat untuk memunculkan kader internal untuk diusung pada Pilgub. Sehingga, ia menilai partai Demokrat harus bergerak cepat untuk menjaring kader eksternal yang punya peluang untuk diusung pada Pilgub nantinya.

“Partai Demokrat terlalu menokohkan dan mempopulerkan Ilham, sehingga hal ini menjadi sebuah kesalahan yang tidak bisa dihindari, sehingga untuk memunculkan kader internal untuk diusung pada Pilgub sudah sangat terlambat, yang harus dilakukan partai Demokrat adalah mengambil inisiatif untuk menjaring tokoh eksternal yang punya kans untuk diusung seperti Agus Arifin Nu’mang, Ikhsan Yasin Limpo atau Nurdin Abdullah,” tegasnya.

[NEXT-FAJAR]

Ia menambahkan, alternatif lain yang perlu dilakukan partai Demokrat adalah mempersiapkan kader internal untuk diusung sebagai calon wakil gubernur. Suwadi menilai, banyak kader internal yang Demokrat yang punya potensi dan kapabilitas untuk sebagai kosong dua pada Pilgub antara lain, Ni’matullah dan Bahrum Daido.

“Mau tidak mau ketika Demokrat ingin menjadi bagian penting pada Pilgub mendatang, harus mengambil alternatif lain dengan menargetkan kosong dua untuk kader internal seperti Ni’matullah dan Bahrum Daido anggota DPR RI dari dapil tiga, kalau Syamsul Rizal saya kira masih terlalu dini untuk diusung,” pungkasnya.

 Pakar Politik Universitas Bosowa (Unibosowa) 45 Makassar, Arief Wicaksono mengatakan, meski IAS dalam menjalani masa tahanan namun jalinan komunikasi dan koordinasi antar sesama elite politik khususnya di Demokrat Sulsel tetap akan berjalan. “Meski pak IAS di tahanan, menurut saya komunikasi politik tetap berjalan dan masih berpengaruh, bahkan pak IAS bisa dipastikan tetap bermain disetiap momen politik,” ujarnya saat dikonfirmasi via telepon, Senin (29/2) malam.

IAS sendiri kata Arief merupakan representasi geopolitik yang berpengaruh di basis massa yang riil. Selain itu dalam internal Demokrat bisa di dengar. “Selain Makassar, pak IAS cukup berpengaruh dan menguasai wilayah Bone, Soppeng, Wajo (Bosowa) serta sebagian kawasan Ajattapareng. Berpengaruh hingga ke tingkat beberapa daerah lainya di Sulsel,” katanya.

Dia menambahkan, IAS juga memiliki loyalis di internal Demokrat yang punya komitmen bersama semasa memimpin Makassar selama sepuluh tahun. “Elit loyalis IAS di Demokrat tak mungkin melupakan budi baik IAS. Jadi wajar dia masih berpengaruh dalam percaturan Pilgub dan Pilwalkot 2018 mendatang,” jelasnya. (E/Rakyatsulsel.com/Fajar.co.id)

loading...
Click to comment
To Top