Stok Beras Sepanjang tahun 2016 Diprediksi Aman. Pakar Sarankan Bulog Ambil Momentum Ini – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Nasional

Stok Beras Sepanjang tahun 2016 Diprediksi Aman. Pakar Sarankan Bulog Ambil Momentum Ini

FAJAR.CO.ID- Polemik kekurangan beras 2015 dan keraguan data pangan, mulai terjawab. Fakta di saat musim paceklik beras melimpah di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) dan di pasar sentra beras lainnya pada Januari-Februari 2016 naik di atas 100% dibandingkan periode yang sama 2015.

Jumlah itu  diikuti turunnya harga beras di pasar, sehingga menggugurkan berbagai pendapat yang beredar selama 2015 bahwa data pangan BPS tidak valid dan negara dalam kondisi terancam pangan.

BPS merilis data Angka Sementara (ASEM) produksi padi tahun 2015 sebesar 75,36 juta ton GKG atau naik 6,37% dibandingkan tahun 2014. Data ASEM ini menunjukkan bahwa pasokan beras 2015 berlebih (surplus).

Naiknya produksi ini berkat kerja keras 56,6 juta petani padi yang didukung secara penuh oleh Penyuluh, TNI, KTNA, Dosen/Mahasiswa dan Pemda. Mereka bersama-sama menjalankan program Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan dukungan Komisi IV DPR-RI dan unsur lainnya.

Seperti diketahui, El-Nino 2015 memang berdampak pada mundurnya waktu tanam dan turunnya luas tanam terutama Oktober 2015, namun berkat antisipasi dini dan penanganan kekeringan secara masif, maka luas tanam di luar bulan tersebut meningkat.

Luas panen padi 2015 naik 318.168 ha (2,31%) dibandingkan 2014 dan produktivitasnya naik 3,97% menjadi 5,33 ton/ha.

Peningkatan produksi ditunjang oleh program 2015 yang meliputi: penyaluran pompa air dan Alsintan lainnya, pembangunan rehabilitasi embung, long-storage, rehabilitasi jaringan irigasi, hujan buatan, asuransi pertanian, gerakan percepatan tanam padi

Dalam kondisi seperti itu, Kementerian Pertanian (Kementan) bisa memastikan ketersediaan beras dipastikan melimpah. Mengingat bulan Februari-April 2016 dipanen sekitar 31,2 juta ton GKG setara 18,7 juta ton beras. Sedangkan konsumsi beras penduduk hanya 2,6 juta ton per bulan.

Meski begitu, hal yang perlu diantisipasi adalah harga gabah di petani, Bulog wajib turun ke lapangan menyerap langsung ke petani minimal 4-5 juta ton beras di saat panen raya ini. Misalnya, Harga GKP di Cilacap Jateng  3600-3800″ Ngawi Jateng 3600-3800.

Menurut pakar ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis  dari Universitas Indonesia  (FEB UI), Rizal E Halim, disinilah peran Bulog sebagai penyanggah harus berfungsi secara maksimal.

Jelas Rizal, pemerintah harus memikirkan ini karena bila rantai distribusi ingin dipangkas, maka harus ada institusi yang mewakili pemerintah untuk menjalakankan fungsi distribusi yang mampu dengan cepat menyerap gabah hasil panen petani.

“Namun kadang prosedural yang rumit jadi masalah. Terkait Bulog, sangat dibutuhkan dukungan Kementerian BUMN dan Mendag bahkan presiden. “Merubah paradigma yang sudah lama terbangun di Bulog memang harus melibatkan Kemen BUMN dan mendag untuk ikut memberikan penekanan”, pungkasnya. (FO)

Click to comment
To Top