Festival Bau Nyale 2016 Hebohkan Lombok – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Budaya & Pariwisata

Festival Bau Nyale 2016 Hebohkan Lombok

FAJAR.CO.ID, LOMBOK – Anda pernah mendengar Bau Nyale? Juga pernah membaca kisah Puteri Mandalika yang jelita dan cinta damai? Itulah salah satu kekuatan legenda di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. “Kami punya acara Festival Bau Nyale 2016 yang memberi dampak positif bagi kedatangan wisman dan wisnus di Lombok,” kata Esthy Reko Astuty, Deputi Bidang Pengembangan Pasar Pariwisata Nusantara, Selasa 1 Maret 2016.
Angka kunjungan wisatawan nusantara dan manca negara melonjak tajam. Tingkat hunian hotel juga ikut terkatrol naik. Gaungnya, makin terdengar ke luar negeri. Bau Nyale adalah keluarnya sejenis cacing setahun sekali di Lombok, yang dikaitkan dengan legenda Puteri Madalika.
“Saya sempat melakukan survey kecil-kecilan di sekitar Pantai Kuta, Mandalika, Lombok. Tidak ada satu pun hotel maupun home stay yang kosong. Hotel melati sampai hotel berbintang seperti Novotel sudah full booked sejak seminggu sebelum acara,” kata Esthy Reko Astuti, Deluti Perempuan yang berkerudung ini.
Esthy tak asal bicara. Saat Festival Bau Nyale digelar akhir pekan silam, pantai di wilayah selatan di Lombok Tengah dipadati puluhan
ribu manusia. Warga tumpah ruah mengikuti ritual bau nyale, dari Pantai Seger Desa Kuta, hingga Selong Belanak. Pantai Awang, An,
Gerupuk, Selong Belanak, Mawun, Mawi, Tampah dan beberapa titik lainnya, juga penuh oleh lautan manusia.
Hal itu diamini Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB, Lalu Moh Faozal. Lautan manusia memang tumpah ruah di garis pantai yang membentang
hingga 76 km itu. Baginya, Festival Bau Nyale adalah suatu yang unik.bDan yang terpenting, ini adalah upaya pemerintah menanamkan
nilai-nilai pengorbanan layaknya Putri Mandalika.
“Ritual bau nyale merupakan satu-satunya ritual terunik sepanjang sejarah. Ritualnya menyedot pengunjung yang banyak. Dan ini sudah
diakui dunia,” ujarnya.
Dari paparan Faozal, ada peningkatan kunjungan wisatawan sekitar 20 persen bila dibanding 2015. Dan 70 persen tamu yang menginap di sekitar Pantai Kuta, tak lagi didominasi turis lokal. Sekarang, dominasinya dikuasai turis asal Singapura, Hong Kong, Eropa dan Amerika Serikat.
Menpar Arief Yahya menyebut setiap daerah punya kisah cerita yang tercipta dari nenek moyang turun temurun. Salah satu keunikan dan dapat pikat bagi wisatawan adalah storyline itu sendiri. “Wisman yang datang ke Indonsia iti 60 persen ingin melihat budaya, 35 persen baru nature. Sisanya 5 persen adalah manmade. Karena itu jika sudah memiliki kisah cerita budaya yang kuat. Harus dieksplorasi viral, yang bisa menyebar ke mana-mana,” kata Menteri Pariwisata Arief Yanya. (*)

Click to comment
To Top