IL9 : Program 35.000 MW Belum Cukup – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Nasional

IL9 : Program 35.000 MW Belum Cukup

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Institut Lembang Sembilan (IL9) menyayangkan jika ada pihak yang menyebut, program pemerintah membangun pembangkit listrik 35.000 Megawatt (MW) terlalu besar. Pasalnya, dari kajian IL9, justru dengan 35.000 MW saja, ternyata belum cukup untuk memenuhi kebutuhan pasokan listrik secara nasional.
Pulau Sumatera misalnya, data IL9 menunjukkan permintaan pasokan listrik tumbuh rata 9,4 persen per tahun. Sedangkan pertumbuhan kapasitas pembangkit justru hanya tumbuh hanya pada kisaran 5,2 persen per tahun. Lalu, Kalimantan permintaan pasokan listrik tumbuh 10,5 persen per tahun sedangkan kapasitas pembangkit hanya tumbuh 1 persen.
Begitu pun dengan Pulau Sulawesi pertumbuhan permintaan cukup tinggi yakni 11,5 persen per tahun. Bandingkan dengan pertumbuhan kapasitas pembangkit listrik yang hanya pada angka 2,7 persen per tahun. Secara nasional, data yang dimiliki IL9 disebutkan 10 persen rumah tangga belum teraliri listrik.
Sekjen DPP IL9, Eva Kusuma Sundari menegaskan, posisi IL9 yakni mendukung penuh realisasi program listrik 35.000 MW. IL9 kata Eva akan ikut berkontribusi dalam membantu realisasi program ini sebelum periode kepemimpinan Jokowi-JK berakhir pada 2019 mendatang. Apalagi, dengan pertumbuhan industri serta infrastruktur yang digenjor, maka kebutuhan listrik pun akan meningkat.
“Kami berpendapat, dengan 35.000 MW saja ini belum cukup. Itu artinya sudah ada keinginan pemerintah untuk melakukan sesuatu. Ini harus terealisasi. Lalu, harus dipikirkan agar tidak hanya pada angka 35 ribu itu. Hitung-hitungan kami, itu tidak cukup,” kata Eva usai bertemu dengan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla di Kantor Wapres, Kamis, 3 Maret.
Selain itu, Eva menegaskan, IL9 yang ikut mendorong program ini akan menggelar rembuk kelistrikan nasional pada 30 Maret mendatang di Jakarta. Ini dilakukan untuk melahirkan beberapa masukan guna pencapaian program ini. Termasuk menjadi salah satu ruang untuk mengajak pihak swasta berperan dalam pemenuhan kebutuhan listrik masyarakat ini.
Bahkan kata Eva, sudah ada delapan perusahaan swasta yang menyatakan komitmennya untuk ikut merealisasikan program ini dengan berinvestasi pada pembangunan pembangkit listrik. Rembuk ini juga disebutkan Eva sebagai jalan untuk membuka mata bagi PLN tentang perlunya percepatan pemenuhan pasokan listrik nasional. “Kelompok swasta harus dilibatkan,” ujarnya.
Ketua Pengarah Rembuk Nasional Kelistrikan, Sukriansyah S Latief mengatakan, PLN harus menangkap peluang kerjasama dengan pihak swasta dalam pemenuhan kebutuhan listrik. Apalagi, kata Sukriansyah, nantinya semua pasokan listrik juga tetap dialirkan PLN. Keterlibatan Swasta pun akan mengurangi beban APBN.
“Kita tahu bahwa kalau pakai dana APBN kan terbatas. Nah, kalau swasta terlibat, kan tidak pakai uang APBN. Itu bentuknya investasi lalu dijual ke PLN untuk disalurkan ke masyarakat. Disini harus dilihat, bahwa swasta bisa membantu memenuhi kebutuhan masyarakat,” sebutnya.
Wapres, Jusuf Kalla menyampaikan bahwa idealnya dalam pencapaian program 35.000 MW listrik, maka setidaknya mesti terealisasi 7 MW per tahun. Itu dengan kalkulasi bisa terealisasi seluruhnya hingga sampai 2019 mendatang. Namun, kata JK ini menjadi tantangan untuk melibatkan pihak swasta di dalamnya.
JK kemudian mengapresiasi apa yang telah diinisiasi IL9 untuk menggelar rembuk nasional soal kelistrikan. Rembuk ini menurutnya, bisa menjadi ajang untuk melahirkan berbagai analisa-analisa faktual tentang kebutuhan listrik. Sekaligus menjadi kesempatan untuk melahirkan strategi realisasinya. (arm)

loading...
Click to comment
To Top