Kasus Suap Bupati Buton Kembali Mencuat – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Hukum

Kasus Suap Bupati Buton Kembali Mencuat

FAJAR.CO.ID, KENDARI — Lama tak terdengar, kasus dugaan suap pada Pilkada Buton tahun 2012, yang melibatkan Samsu Umar Abdul Samiun kembali mencuat kepermukaan. Sejumlah media online nasional melansir terkait rencana Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang berjanji akan menuntaskan tunggakan kasus terdahulu terkait dugaan suap penanganan sengketa Pilkada di Mahkamah Konstitusi (MK) yang menjerat Akil Mochtar hingga dihukum penjara seumur hidup.

Dilansir bahwa, salah satu kasus terkait suap Akil yang akan diusut KPK adalah penanganan sengketa Pilkada Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra). Pasalnya, Samsu Umar Abdul Samiun yang kini sebagai Bupati Buton diduga menyuap Akil sebesar Rp1 miliar agar menang dalam gugatan Pilkada Buton.

Wakil Ketua KPK, Laode M. Syarif mengatakan, dugaan suap penanganan sengketa Pilkada Buton ini akan didalami dan dipelajari. Menurut dia, hal itu dilakukan agar tunggakan kasus ini bisa cepat diselesaikan pihaknya.

Secara terpisah, Wakil Ketua KPK, Basaria Panjaitan akan memerintahkan untuk mendalami dugaan suap penanganan sengketa Pilkada Buton ini sebelum ditingkatkan ke tahap penyidikan.

Pada persidangan mendengarkan kesaksian Umar Samiun dengan tersangka Akil Mochtar, Samsu Umar mengaku pernah memberikan uang Rp 1 miliar untuk Akil sekira tahun 2012. Umar Samiun mengakui, pemberian uang Rp 1 miliar itu berkaitan sengketa pilkada Buton yang bergulir di MK. Namun pemberian itu bukan sebagai suap, tetapi tekanan karena adanya permintaan.

Praktik dugaan suap ini bermula dari pelaksanaan Pilkada Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara yang digelar pada Agustus 2011. Ada sembilan konstentan Pilkada Buton waktu itu yakni, Agus Feisal Hidayat – Yaudu Salam Ajo, Ali La Opa – La Diri, Azhari – Naba Kasim, Jaliman Mady – Muh Saleh Ganiru, Samsu Umar Abdul Samiun – La Bakry, La Sita – Zuliadi, La Ode M Syafrin Hanamu – Ali Hamid, Edy Karno – Zainuddin, serta pasangan Abdul Hasan – Buton Achmad.

Berdasar penghitungan suara Komisi Pemilihan Umum (KPU) Buton, pasangan Agus Feisal Hidayat-Yaudu Salam Ajo. Agus Feisal Hidayat adalah putra Sjafei Kahar, Bupati Buton saat itu. Namun Pilkada itu digugat sejumlah pasangan calon, termasuk Lauku dan Dani, pasangan yang tidak diloloskan KPU Buton sebagai konstentan Pilkada.

[NEXT-FAJAR]

MK membatalkan putusan tersebut dan memerintahkan KPU Buton untuk melakukan verifikasi administrasi dan verifikasi faktual serta melakukan pemungutan suara ulang. Hasil pemungutan suara ulang yang dilakukan ternyata Umar Samiun-La Bakri berhasil unggul atas pasangan Agus Feisal Hidayat-Yaudu Salam Ajo.

Kasus itu kemudian bersengketa lagi di MK, menyusul gugatan yang dilayangkan pasangan Agus Feisal Hidayat-Yaudu Salam Ajo. Namun, MK menolak mengabulkan  gugatan yang diajukan, sehingga Samsu Umar dan La Bakry menjadi pemenang Pilkada Buton.

Terkait perkara suap Akil Mochtar ini, penyidik lembaga antirasuah sudah menjerat kepala daerah atau pihak-pihak terkait yang memberi suap ke Akil agar dimenangkan dalam gugatannya di MK. Mereka diantaranya mantan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah bersama adiknya Tubagus Chaeri Wardhana dalam Pilkada Lebak dan Banten hingga yang terakhir divonis bersalah dalam dugaan suap sengketa Pilkada di MK, Bupati Empat Lawang, Budi Antoni Aljufri dan Istrinya Suzanna. (KP)

Click to comment
To Top