BEJAT: Anak Kandung Sendiri Dicabul – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Kriminal

BEJAT: Anak Kandung Sendiri Dicabul

FAJAR.CO.ID, SURABAYA – Sikap bejat seorang ayah bernama DL terhadap anak kandungnya, AN, meninggalkan jejak trauma mendalam. Bukan hanya prestasi sekolah anaknya yang merosot, tapi ketika disebut kata papa, mimik dan mood AN langsung berubah.

Kini dia tidak lagi tinggal bersama keluarganya di Kenjeran. Korban sudah berada di rumah aman.

AN dipindah setelah polisi menangkap DL di rumahnya. Sejak kasus itu terungkap ke polisi, AN langsung dievakuasi lantaran keluarganya dianggap kurang tepat untuk menjadi tempat berlindung lagi. “Khawatirnya malah ada apa-apa,” kata seorang sumber kepada Jawa Pos.

Salah satu pertimbangan utamanya, korban sudah menerima perlakuan cabul lima tahun. Selama itu tidak ada keluarga korban yang melapor ke polisi meski sudah mengetahui. Akibatnya, AN menjadi bulan-bulanan pelampiasan cabul bapak kandungnya.

Tekanan tersebut mengakibatkan AN frustrasi. Akibatnya, prestasi akademiknya menurun drastis. Pihak sekolah yang mengetahui hal itu langsung tanggap. Melalui serangkaian psikotes, terungkap korban sedang menghadapi masalah berat.

AN tidak hanya mengalami trauma. Ketika mendengar kata papa, mimik korban langsung berubah drastis. Tak jarang dia juga histeris mendengar kata itu. Papa adalah panggilan untuk bapak kandungnya. Sosok itu seolah menjadi hantu. Ketika mengingat namanya saja, AN sangat ketakutan.

Saat ini AN tinggal di rumah aman dengan pengawasan ketat Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) serta Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jatim. Di rumah tersebut dia tetap bisa melanjutkan sekolah. Bahkan mendapat pendampingan agar bisa menghilangkan trauma.

Kepala Divisi Advokasi LPA Jatim Edward Dewaruci mengatakan, korban memang mengalami trauma berat. Dia menjadi tidak mudah percaya kepada orang lain dan pembawaannya curiga. “Ciri mudahnya, korban menjadi pendiam sekali,” ucapnya.

Menurut Edward, korban harus mendapat perlakuan khusus. Itu dilakukan agar trauma yang dialami tidak berkepanjangan. Keberanian dan rasa percaya diri korban juga harus segera dipulihkan. Sebab, jika tidak, korban akan tetap tenggelam dalam perasaannya.

Direktur Surabaya Children Crisis Center (SCCC) tersebut mengacungkan jempol untuk sekolah AN. Dia menganggap kasus seperti itu selama ini tidak pernah mendapat dukungan dari sekolah. “Kalau ditemukan, terkadang korbannya malah dikeluarkan dari sekolah,” ucapnya. (eko/c9/fat)

loading...
Click to comment
To Top