Gerhana : Mentafakuri KuasaNya – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Samudera Ilmu

Gerhana : Mentafakuri KuasaNya

Segenap pujian hanya kepunyaan Allah semata sahaja. Dia-lah yang telah menjadikan angin berhembus semilir, membelai dedahan. Menyapu lembut bebunga yang semerbak dengan sapaan lembut, seakan selirih bisikan kekasih paling mesra.

Lalu bebunga tertingkah. Bergoyang dengan malu-malu bagai kisah perawan di malam pertama. Maka tiap kali penyerbukan belum terjadi, sekali lagi, angin berhembus bagai merayu-rayu. Hingga jatuhlah serbuk sari dan menempel pada kepala putik. Lalu terjelmalah penyerbukan sempurna. Dan pembuahan.

Sepenuh puji hanya milik Allah semata sahaja. Yang Maha Mendengar hajat hamba-hambaNya. Maka tiap kali tetanaman dan bebunga menghajatkan air. Sepoi setengah tergopoh-gopoh mengarak mega hitam di tepi ufuk. Menggulung dan memintalnya dan membentuk gemawan hitam kumolonimbus. Padat berbobot.

Maka tatkala sedikit sentuhan bayu menyapa, butiran-butiran kristal yang penuh barokah jatuh menyiram bumi. Dan pematang pun penuh teririgasi.

Maha suci Allah yang telah menjadikan matahari bercahaya dan rembulan hanya bersinar.

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya. Dan ditetapkanNya manzilah-manzilah [tempat-tempat] bagi perjalanan itu” [QS Yunus : 5]

Dialah yang telah menetapkan, pada senara wulan tertentu, bahwa rembulan akan bergeser dari bayang-bayang penumbra nan temaram, tempat mihrab biasa ia bertasbih. Perlahan menyeret langkahnya  pada bayang umbra yang gulita. Maka terciptalah gerhana rembulan  yang penuh mempesona mata.

Pun pada tahun-tahun yang telah digariskan juga. Rembulan akan tunduk pada ketetapanNya. Keluar dari poros mihrabnya yang lazim. Menengahi bumi dan mentari dalam satu garis shof yang sejajar. Maka cahaya mentari yang benderang lamat-lamat terhalang menyentuh paras bumi. Terjelmalah gerhana matahari yang menawan mata. dan memukau para astronot

Dan tahukah engkau, apa yang akan terjadi pada binatang ketika gerhana matahari itu?

Ayam akan memanggil dengan sepenuh cinta akan anak-anaknya. Mereka mengira malam telah tiba meski ia datang dengan sangat cepat. Sementara binatang-binatang malam akan keluar. Kelelawar akan membelalak matanya yang rabun. Memasang pendengarannya yang tajam. Lalu mengepak sayapnya. Keluar mencari makan. Mengira telah tiba malam.

Dan konon, kuda niil akan cemas. Ia menceburkan dirinya dalam genangan kubangan telaganya. Matanya menatap khawatir. Ia berpikir gerangan petaka apa yang akan menghantam bumi nantinya.

Lalu ketika piringan rembulan menarik dirinya dari mengahalangi cahaya mentari. Ayam jantan akan berkokok. Seakan mengisyaratkan kawannya, bahwa hari telah pagi.

Masya Allah.

Maha Besar Dia yang telah berfirman :

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda [kekuasaan] Kami di segenap ufuk, dan pada diri mereka sendiri. Hingga menjadi jelaslah bahwa Al quran itu adalah benar” [ QS Al Fushilat : 53]

Segenap puji hanya miliknya semata sahaja. Yang menampakan kuasaNya pada mereka yang mau berakal

****

Alkisah : adalah Ruben, seorang pria asal Australia. Dalam petualangan ruhaninya mencari kebenaran dan tujuan hidup. Ia pun memilih bersungguh-sungguh. Dia dibesarkan sebagai orang ateis, sementara orang tuanya dibesarkan sebagai Kristen.

Ditengah situasi yang patah arang dalam memilah mutiara dari pasir, membedakan manikam dari bebatuan, memilih kebenaran dari kebatilan. Takdir Ilahi mengantarkan dirinya untuk membaca kitab Al quran.

Namun meski beberapa kali membaca kalamNya, hatinya belum bergetar. Belum ada nuansa ruhani yang menyetuh hatinya. Sehingga irama iman belum berdetak. Ia pun telah mafhum akan semua bukti otentik ilmiah yang terkandung dalam Al quran. Perkembangan embrio, gunung yang merupakan pasak dan lain sebagainya.

Baginya, itu adalah penjelasan yang menakjubkan. Namun seakan ia terpasung oleh hatinya belum terjamah tangan rohani. Keadaannya, bagai dawai yang siap dimainkan sahaja.

Ketika itu malam sedang bergemintang, ia menutup kitab itu. Lilin telah ia nyalakan sedari tadi. Hening membening.

“Allah, inilah saatnya” ujar Ruben, suaranya memecah sunyi, “Inilah waktunya aku memeluk Islam. Yang aku butuhkan hanyalah sebuah tanda.” Sambungnya.

Hening.

“Hanya tanda kecil, tidak usah yang besar” ujarnya kembali dengan harap sepenuh dada. “Mungkin sebuah kilat, atau setengah rumahku ambruk”

Namun rupanya tak terjadi sesuatu pun yang diinginkannya. Api yang melelehkan lilin juga masih tetap seperti itu, walau ia berharap mugkin akan ada keanehan padanya. Seperti di dunia film. Namun, setitik keanehan yang menjadi tanda baginya tiada kunjung tiba.

Ruben pun kecewa. Baginya, ini mungkin terakhir kalinya ia menelaah Islam.

Dengan setumpuk kecewa di dada. Ia kembali membuka Al quran. Dan Allah Maha Besar, “Maha Suci Allah, di ayat selanjutnya halaman beriktunya” tutur Ruben, mengisahkan pengalaman yang tak bernilai harganya itu, walau dengan harta sepenuh bumi dan langit. “Untuk kalian yang meminta petunjuk. Tidakah telah Kami tunjukan? Lihatlah disekitarmu. Lihatlah bintang-bintang. Lihatlah matahari. Lihatlah air. Inilah tanda-tanda untuk orang yang berpengetahuan” ujarnya mensarikan Alquran Surat Al baqarah 164.

Hatinya pun bergetar. Seketika ia membenamkan wajahnya di tempat tidur dan merasa ketakutan. Ia pun bersyhadat.

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda [kekuasaan] Kami di segenap ufuk, dan pada diri mereka sendiri. Hingga menjadi jelaslah bahwa Al quran itu adalah benar” [ QS Al Fushilat : 53]

loading...
Click to comment
To Top