Sukses Manfaatkan Dana Pinjaman, Menkeu Apresiasi Nur Alam – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Sukses Manfaatkan Dana Pinjaman, Menkeu Apresiasi Nur Alam

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) Nur Alam mendapat apresiasi langsung dari Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro. Apresiasi tersebut diungkapka Bambang dalam sambutannya di acara silaturahmi bersama PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa (8/3).

Untuk diketahui, dalam acara tersebut Nur Alam menjadi satu-satunya Gubernur yang diundang atas keberhasilannya dalam rangka pengelolaan dana pinjaman dari SMI untuk pembangunan infrastruktur didaerah.

“Sepanjang tahun 2015 kita telah membiayai Rp 24,7 triliun untuk pembiayaan pembangunan infrastruktur. Dan dalam kesempatan ini, saya memberikan apresiasi kepada Gubernur Sulawesi Tenggara Bapak Nur Alam atas keberhasilannya dalam pengelolaan dana pinjaman tersebut guna membangun infrastruktur untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat,” kata Bambang.

Sementara itu, Nur Alam usai acara mengungkapkan sejauh ini Pemerintah Sultra telah melakukan pinjaman sebesar Rp 400 miliar. Angka tersebut tentunya sangat besar untuk Sultra jika dibandingkan dengan provinsi lain yang memiliki APBD yang lebih besar.

“Sejauh ini Pemprov Sultra sudah meminjam Rp 400 miliar. Angka tersebut untuk Sultra sangat besar, berbeda dengan DKI yang memiliki APBD Rp 86 triliun sementara Sultra hanya Rp 2 triliun,” jelas Nur Alam.

Dana pinjaman tersebut telah digunakan untuk membangun sejumlah infrastruktur untuk pelayanan publik, diantaranya rumah sakit Bahteramas yang menjadi terbesar dikawasan timur Indonesia. “Dari hasil pembangunan tersebut berhasil. Terbukti dari peningkatan PAD 12 kali lipat yang awalnya hanya kurang lebih Rp 5 miliar sekarang menjadi kurang lebih Rp 60 miliar lebih. Dan yang terpenting pelayanan yang semula kebanyakan di Makassar itu sudah berkurang karena fasilitas dan dokter sudah tersedia di rumah sakit baru,” tambahnya.

Dijelaskan, keberhasilan lainnya adalah karena adanya produk yang disiapkan oleh pemerintah, seperti infrastruktur mulai dari jalan, terminal hingga rumah sakit. Dari produk-produk itu, tentu ada yang namanya skala prioritas daerah untuk dibangun.

“Cuma yang jadi masalah adalah APBD kita tidak siap untuk itu. Untuk memanfaatkan ini dan terbukti itu (pinjaman melalui SMI) adalah proses yang paling cepat, mudah, murah, transparan dan akuntabel. Sehingga proses pembangunan dan perwujudan daripada skala prioritas yang kita maksud itu segera bisa terbangun hingga pelayanan juga bisa cepat terealisasi kepada masyarakat,” paparnya.

[NEXT-FAJAR]

Atas keberhasilan-keberhasilan tersebut, rencananya pemerintah Sultra akan kembali mengusulkan pinjaman kepada SMI yang diperuntukkan untuk pembangunan infrastruktur jalan lingkar dalam yang menghubungkan kawasan-kawasan produktif yang ada di Sultra. Rencananya untuk tahun depan Pemprov merencanakan akan meminjam tambahan sebesar Rp 100 miliar untuk beberapa ruas jalan produktif.

“Karena jalan-jalan nasional kita sekarang sudah terbangun untuk lingkar luar. Tapi lingkar dalamnya yang menghubungkan kawasan-kawasan produktif itu juga harus dibangun, dan itu menjadi tanggung jawab provinsi. Sebab apapun yang dibangun jalan nasional jika tidak dihubungkan dengan jalan provinsi yang menghubungkan kawasan produksi satu dengan yang lain itu juga tidak optimal investasi yang dilakukan oleh pemerintah,” ujar gubernur dua periode ini.

Selama ini, lanjutnya ada beberapa daerah yang takut untuk mengambil pinjaman karena takutnya menjadi utang daerah dan sulit untuk dikembalikan. Namun, Nur Alam sendiri memiliki pandangan berbeda. Menurutnya, pemerintah daerah jangan pernah takut untuk mengambil pinjaman, karena dibalik itu tentunya ada benefit yang akan diperoleh jika berhasil dalam mengelola dana pinjaman tersebut untuk pembangunan infrastruktur.

“Dalam cara mengelola dana pinjaman, jangan takut meminjam selama pinjaman itu itemnya bagus. Karena jika berhasil maka pelayanan bisa cepat dan tentunya pengembaliannya juga bisa cepat dan layak. Sehingga itu sebetulnya hanya numpang budget. Artinya, ada budget kita yang dipercepat dengan cara meminjam dulu dari SMI setelah itu baru dikembalikan,” jelasnya.

“Karena pada akhirnya infrastruktur itu harus dibiayai, daripada kita menggunakan waktu yang panjang misalnya 10 tahun baru selesai karena hanya mengandalkan APBD, maka lebih baik kita pinjam sehingga bisa diselesaikan satu atau dua tahun. Tahun ketiga sudah ada pengembalian dan pelayanan. Nah itulah benefit yang diperoleh. Dari pinjaman lalu, untuk rumah sakit akan lunas tahun depan, sedangkan untuk jalan tiga tahun lagi sudah selesai,” tutup Nur Alam. (hrm)

loading...
Click to comment
To Top