Setelah Gerhana Matahari, Akan Ada Bencana yang Besar yang Diramalkan – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Nasional

Setelah Gerhana Matahari, Akan Ada Bencana yang Besar yang Diramalkan

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Seorang astrolog yang mengklaim telah memprediksi serangan teror Paris mengatakan gerhana matahari pekan ini akan disusul bencana alam yang menyebabkan malapetaka di Eropa Utara.

Kosmobiolog Inggris Peter Stockinger, seperti dilansir Mirror, mengatakan posisi bintang-bintang sejajar saat peristiwa langka Rabu, 9 Maret ini, merupakan pertanda datangnya cuaca buruk, yang bisa jadi mendatangkan bencana.

Gerhana matahari total yang berlangsung Rabu (9/3/2016) adalah bagian dari Saros bulanan seri 130 yang berulang setiap 18 tahun 11 hari, dimulai pada tahun 1096 dan terus berlanjut hingga 2394.

Peter mengatakan, peristiwa ini dapat memicu kematian dan bencana. Setelah mempelajari grafiknya, menurut Peter, kecenderungan aktivitas hot spot adalah di Mesir, Italia, Spanyol, Turki dan Armenia, Prancis, Portugal, serta Jerman.

‘Master Astrolog’ itu menghabiskan 25 tahun mempelajari filosofi, astrologi, dan teknik astrologi Abad Pertengahan, Renaissance, dan Eropa Era Modern. Menurutnya, ramalan astrolog abad ke-17, William Lilly, bisa saja terjadi.

Pada 1647, Lilly mempublikasikan Astrologi Kristen, jenis pertama yang dicetak dalam bahasa Inggris. Dia dipuji karena mendidik “bangsa dalam krisis dengan bahasa bintang-bintang.”

Peter mengutarakan dalam blognya, Stars and Stone, “Menurut William Lilly, kita menghadapi bencana alam dan atau kematian seorang penting. Kejadian serupa dalam sejarah juga menunjukkan kemungkinan pembunuhan,” lanjutnya.

Dia menyebut, gerhana matahari terakhir yang terjadi pada 13 September 2015, disusul dengan serangan teror di Paris pada 13 November.

“Dalam sebuah posting blog yang dipublikasikan pada Agustus lalu, saya menulis tentang gerhana matahari total dan memprediksi kemungkinan terjadi pembunuhan di Paris. Sedihnya, ternyata benar.”

Gerhana matahari total berlangsung di Indonesia dan Samudera Pasifik, dan tidak terjadi di Inggris, tempat sang astrolog. Tapi itu bukan berarti Inggris lepas dari ‘ancaman’. Gerhana yang berlangsung selama empat menit sembilan detik di Malaysia, Filipina, Thailand, Pasifik, dan Hawaii, bergema ke seluruh dunia.

Karena itu, ujar Peter, masyarakat dunia harus waspada karena konsekuensinya punya jangkauan luas.

Peter juga memperingatkan gerhana matahari kali ini adalah pertanda buruk jika melihat posisi planet-planet dan bintang-bintang.

“Yupiter adalah planet yang berkuasa dalam gerhana kali ini,” kata Peter. “Pada waktu gerhana, dia akan berada di Virgo, posisi yang tak menguntungkan. Dia juga berjalan mundur, yang menambah tingkat kelemahannya. Yupiter pun berkonjungsi dengan North Lunar Node, yakni bintang yang tetap berkonjungsi dengan bintang Denebola.”

Dia melanjutkan, bintang tersebut mewakili penghakiman, putus asa, penyesalan, rasa malu di muka umum, ketidakberuntungan dari elemen alam, serta kebahagiaan dalam sekejap berubah jadi kemarahan.

“Denebola juga penentu manzilah bulan (lunar mansion) ke-10, al-Sarfa, yang menunjukkan perubahan cuaca. Karenanya kita kemungkinan bakal menghadapi badai atau tekanan udara yang sangat rendah, serta berakibat kapal-kapal karam,” ujarnya.

Peter menambahkan, satu aspek kunci gerhana dapat berkaitan dengan agama adalah ngototnya azab berperan dalam masyarakat Kristen.

“Sayangnya kita sudah menetapkan bahwa Yupiter adalah perlambang yang sangat jelek, yang tak diragukan lagi akan mengubah atribut positif jadi sebaliknya. Pada tingkatan personal, gerhana matahari ini dapat mengindikasikan bahwa ada penduduk yang kemungkinan terluka atau kehilangan nyawa dalam bencana terkait dengan buruknya cuaca, seperti banjir atau kapal hancur. Namun mereka juga dapat terancam akibat serangan pribadi atau balas dendam.” (Mirror/les/PS)


loading...
Click to comment
To Top