SIMAK: Ini Hukum Lomba Burung Kicau dalam Islam – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Hiburan

SIMAK: Ini Hukum Lomba Burung Kicau dalam Islam

FAJAR.CO.ID, – Dalam Islam, Hukum pemeriharaan Burung Kicau yang dikurung di dalam sangkar, memang diperbolehkan, hal ini sebagai mana tertera dalam hadis-hadis shohih dan zumhur (Mayoritas) para ulama.

Dalam Alqur’an Allah T’ala berfirman:

Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebagiannya kamu makan. dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan. dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dan (dia telah menciptakan) kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.. (QS. An-Nahl: 5 – 8).

Allah tegaskan dalam ayat di atas, salah satu manfaat hewan piaraan adalah ‘kamu memperoleh pandangan yang indah padanya’.Sekalipun hewan ini tidak ditunggangi, dia bisa menjadi pemandangan menarik bagi pemiliknya. Orang jawa menyebutnya ’klangenan’. Dirawat hanya untuk dipandang dan dijadikan hiasan. Fungsi semacam ini, ada pada burung kicau yang sekarang lagi pada rame.

Dalam hadis Nabi Salallahu’alaihi wassalam diriwayatkan ;

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Saya memiliki seorang adik lelaki, namanya Abu Umair. Usianya mendekati usia baru disapih. Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, beliau memanggil, ‘Wahai Abu Umair, ada apa dengan Nughair?’ Nughair adalah burung yang digunakan mainan Abu Umair. (HR. Bukhari 6203, Muslim 2150, dan yang lainnya).

Al-Hafidz Ibnu Hajar menyebutkan beberapa pelajaran yang disimpulkan dari ini. diantara yang beliau sebutkan, “(Hadis ini) bolehnya memelihara burung dalam sangkar atau semacamnya.” (Fathul Bari, 10/584).

Lantas Bagimana Jika Burung yang dipelihara tersebut dijadikan sebagai ajang lomba? bagaimana dalam Islam mengaturnya?

Jumhur ulama membolehkan perlombaan yang tidak menyediakan hadiah berdasarkan riwayat Abu Daud dari Aisyah bahwa dirinya bersama Nabi saw saat safar (bepergian). Aisyah berkata,”Aku mendahului beliau saw dan aku pun mengalahkan beliau saw dengan berlari. Tatkala badanku mulai gemuk aku mencoba mendahului beliau saw namun beliau saw mengalahkanku.’ Beliau saw bersabda,’Inilah balasanku.’

Sementara para ulama Abu Hanifah berpendapat bahwa perlombaan hanya dibolehkan pada onta, kuda dan anak panah berdasarkan riwayat Ahmad dari Abu Hurairoh bahwa Rasulullah saw bersabda,”Tidaklah ada perlombaan kecuali pada onta, kuda dan anak penah.”. Mereka juga menambahkan perlombaan lari berdasarkan hadits Aisyah diatas.

Jumhur Fuqaha berpendapat bahwa tidak diperbolehkan adanya hadiah kecuali didalam perlombaan melempar anak panah, onta dan kuda. Sementara para ulama Hanafi berpendapat bahwa perlombaan hanya pada empat, yaitu : onta, kuda, anak panah dan berlari.

Hadiah itu dikeluarkan oleh imam, pemimpin atau sejenisnya maka ini dibolehkan dan tidak ada perselisihan didalamnya, baik hadiah itu diambil dari harta peribadinya atau dari baitul mal karena didalam hal itu terdapat kemaslahatan yaitu anjuran untuk mempelajari jihad dan memberikan manfaat bagi kaum muslimin.

Hadiah itu diambil dari kedua kelompok yang berlomba yaitu berupa taruhan, atau semacam uang pendaftaran, Para fuqoha berpendapat bahwa hal itu tidaklah diperbolehkan dan termasuk dalam kategori judi yang diharamkan karena setiap dari kedua orang yang bertanding itu tidaklah luput dari untung atau rugi.

Baik uang yang dikeluarkan oleh keduanya untuk hadiah itu dalam jumlah yang sama besar, seperti : setiap mereka mengeluarkan 10 dinar. Atau pun tidak sama jumlahnya, seperti : salah seorang mengeleluarkan 10 dinar sedangkan yang lainnya cukup dengan 5 dinar. (al Mausu’ah al Fiqhiyah juz II hal 8433)

[NEXT-FAJAR]

Dari pendapat diatas dapat diketahui bahwa tidak diperbolehkan adanya hadiah didalam suatu perlombaan kecuali pada onta, kuda atau anak panah dikarenakan ketiganya itu merupakan sarana-sarana jihad.

Karena pemberian hadiah pada ketiga jenis itu dapat menjadi dorongan bagi para pemiliknya untuk senantiasa meningkatkan kemampuannya baik dalam mengendarai onta, kuda atau melempar anak panah atau juga bagi masyarakat yang menyaksikannya sehingga mereka terdorong untuk memiliki keahlian seperti mereka yang berlomba. Dengan demikian didalam lomba ketiga jenis itu terdapat manfaat bagi manusia.

Adapun perlombaan burung berkicau dengan mendapatkan hadiah yang diambil dari uang pendaftaran, maka tidaklah diperbolehkan dikarenakan dua sebab :

1. Perlombaan itu tidaklah memiliki manfaat baik kepada pemiliknya atau pun masyarakat dan ia termasuk kedalam bab sia-sia, bermain-main yang tidak dibenarkan. Disamping burung berkicau juga tidak termasuk didalam sarana-sarana jihad. Hal itu didasarkan pada hadits Abu Hurairoh—diatas—bahwa Rasulullah saw bersabda,”Tidaklah ada perlombaan kecuali pada onta, kuda dan anak penah.”

2. Apabila hadiah yang didapat yaitu berupa sertifikat dan sejumlah uang yang didapat pemenang berasal dari uang pendaftaran seluruh perserta maka ia termasuk kedalam kategori judi dikarenakan setiap dari peserta hanya memiliki dua kemungkinan yaitu mendapatkan keuntungan yang lebih besar daripada uang pendaftaran yang diberikannya jika dirinya menang atau ia akan mendapatkan kerugian dengan kehilangan uang pendaftaran yang diberikannya jika dirinya kalah. Perbuatan seperti ini pernah marak dimasa jahiliyah yang kemudian diharamkan Allah didalam Al Qur’an :

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah termasuk perbuatan syaitan.” (QS. Al Maidah : 90) Wallahu A’lam..   Lebih Jelasnya : Klik Disni 

loading...
Click to comment
To Top