Hingga Perpisahan Menyatukan Kita – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Samudera Ilmu

Hingga Perpisahan Menyatukan Kita

Perpisahan, betapa sendunya terasa. Udara serasa menjadi jarum. Tapi dalam menyikapinya,  orang yang mafhum, memiliki cara pikir yang beda. Tersebab, di sebalik ketidak bersamaan, ada cinta merenjana. Ada rasa sayang yang terpupuk.

Perpisahan adalah kemestian dari adanya pertemuaan. Maka tak perlu sebegitu sedu-sedannya, pun tak perlu sebegitu remuk-redamnya. Hingga seolah engkau lintang-pukang ingin menantang takdir. Iringilah setiap perpisahan bersama asa bahwa akan ada sua kelak, agar duka tidak tinggi bertahta di hati. Dan sadarilah, pada tiap-tiap pertemuaan bahwa ada perpisahan. Agar supaya eforia tak menguasai hati.

“Di antara sebaik-baik perkara yang mengiringi setiap perpisahan adalah harapan akan adanya pertemuan kembali. Dan di antara sebaik-baik perkara yang iringi setiap pertemuan adalah kesadaran akan adanya perpisahan”. Begitulah sebuah ungkapan bijak

Tersebab, perpisahan adalah keniscayaan. Maka semua simpul tali ikatan akan putus. Kebersamaan sesama saudara dalam keluarga, perlahan akan memudar ketika masing-masing telah bersitri atau bersuami. Dan cepat atau lambat kematian pun akan datang dan memisahkan, antara mereka yang telah bercinta dalam ikatan keluarga atau lainnya.

“Until Death Do Us Part” Demikian judul syair gubahan White Lion, yang secara harfiah kurang lebih bermakna “Hingga Kematian Memisahkan Kita.” Terlepas hukum haram lagu dan musiknya, goresan syairnya itu, kalau boleh dibilang lahir dari sebuah kepasrahan akan kematian. Yang akan menjadi belati untuk memotong temali cinta.

Namun orang beriman memiliki ceritera sendiri tentang kematian dari lain sisi. Kematian adalah perpisahan yang menyatu abadikan. Yang membawa kebersamaan dalam ruang yang fana menuju keabadian yang tak bertandas. Tentu, bila simpul tali keluarga, atau tali ikatan apa pun yang membuat mereka bersama itu, direkat temalikan dengan cinta karena Allah dan benci karena Allah.

Maka bagi kita, bukan ‘Until Death Do Us Part’ namun ‘Until Death Unify Us.’ Bukan kematian yang memisahkan tapi kematian yang akan menyatukan kita. Bukan ‘ selamat ya, moga langgeng sampe kakek-nenek.’ Tapi ‘selamat ya, moga langgeng sampe JannahNya dengan wajah muda ceria kembali’

Betapa Indahnya, bukan?

Kala cerita perpisahan Ya’qub, sang nabi yang sabar dan Yusuf, sang nabi yang rupawan usai di ujung episode kehidupan yang menderai air mata dan menggerimiskan hati. Sang nabi yang pernah dijual sebagai hamba belian itu berseru, “Engkau menangis, duhai ayah hingga penglihatanmu hilang. Tidak tahukah engkau bahwa kiamat akan menghimpukanku denganmu!” Sebagaimana dikisahkan dalam At Tabshiroh.

“Duhai anakku,” jawab Ya’qub syahdu, “aku khawatir agamamu dirampas, sehingga kita tidak dapat berkumpul lagi”

Masya Allah.

Kematian secara manusia memang menyedihkan. Meski terdapat hikmah dibalik tirai takdirNya, namun air mata, rasa sedih, pun juga adalah kasih sayang yang dititipkanNya. Selama lisan berujar dalam keridhoan dan tidak meratap, maka bukan menjadi dosa.

Ketika mendung perpisahan datang, tersenyumlah walau sesungging kerana ada pertemuan disebaliknya. Dan ketika pertemuan datang, maka mengernyitlah barang sesaat, karena ada perpisahan biasa membuntuti sesudahnya.

Ya Allah, kumpulkan kami bersama orang-orang shalih di dunia dan di akhirat. Himpunkanlah kami karena cinta kepadaMu.

Click to comment
To Top