Semarak Wayang Pesona Indonesia di Parkir Timur – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Budaya & Pariwisata

Semarak Wayang Pesona Indonesia di Parkir Timur

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Ki Dalang Sujiwo Tejo boleh punya kreasi Wayang Jazz, Nanang Hape juga boleh mengenalkan Wayang Urban. Eko Nugroho tidak salah mengenalkan Wayang Bocor. Semua punya karakter, punya keunikan dan berbasis budaya lokal. Semua dibungkus dengan kreativitas.

Kementerian Pariwisata pun punya pendekatan baru menghabohkan wayang. Sebuah pertunjukan wayang siap dikemas dengan konsep modern. Bahasanya gampang dicerna dengan level intelektual terendah sekalipun. Lakonnya pun lebih aktual dan kontekstual dengan peristiwa terkini. Semua itu, bisa dinikmati di Semarak Wayang Pesona Indonesia yang akan digelar di Parkir Timur Senayan Jakarta, 26 Maret 2016.

Kementerian Pariwisata memang ingin membuktikan bahwa wayang pun tak lekang ditelan zaman. Seni tradisional ini bisa dinikmati oleh berbagai kalangan. Bisa menghibur. Bisa mendidik. Bahkan tema yang diangkat pun bisa diambil dari isu yang tengah hangat masyarakat.

“Pertunjukan ini dimaksudkan untuk mendorong kreativitas para seniman dan pelaku seni di bidang seni pedalangan dan pewayangan. Juga mendorong minat masyarakat untuk  berwisata budaya dengan lebih mengenal, memahami, dan menghargai atraksi wisata budaya dalam kreasi
seni pedalangan dan pewayangan,” papar Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara, Esthy Reko Astuti, yang didampingi Asdep Pengembangan Pasar Personal, Raseno Arya, Jumat (18/3).

Pesan yang ingin disampaikan, inilah persembahan Indonesia kepada dunia. Hal yang rasa-rasanya pantas mengingat lembaga PBB, UNESCO, telah menetapkan wayang Indonesia sebagai warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur pada 7 November 2003 lalu. “Yang lebih penting lagi, kami ingin meningkatkan citra wayang sebagai daya tarik bagi wisatawan,” tambah Esthy.

Nantinya, pementasan ini akan menyajikan empat jenis wayang. Ada wayang Ajen, wayang yang pernah dikolabarosikan dengan budaya Timur Tengah, Februari silam. Ada juga wayang kulit Langen Budaya Indramayu.

Dua lainnya, aka nada penampilan wayang kulit Tuton Jawa dan wayang golek Mursidin Banten. “Masing-masing punya ciri khas berbeda. Dan semuanya akan disajikan oleh dalang kondang,” terang Esthy.

Untuk lebih memperkenalkan seni pertunjukan wayang kepada generasi muda, Kemenpar  akan menyelenggarakan workshop seni pertunjukan wayang yang berlangsung pada sore hari sebelum acara malam pertunjukan.

“Tidak perlu takut menonton wayang, karena menonton wayang tidak akan membuat kita kuno. Semarak Wayang Pesona Indonesia 2016 akan membuktikan hal itu,” beber Esthy.

Menpar Arief Yahya yang memang hobi Wayang Kulit itu menyambut positif pagelaran berbasis wayang itu. Cerita wayang memang bukan cerita asli Indonesia, mahabarata, ramayana, bharatayuda, itu adalah cerita asal India. Keroncong juga bukan asli Jawa, Jogja atau Solo. Keroncong itu berasal dari Portugal. “Tapi tidak mengapa, budaya asli kita adalah sifat luwes, sifat yang bisa menerima dan berakulturasi dengan kebudayaan lain di dunia. Itu khas budaya Indonesia,” ungkap Menpar Arief Yahya. (*)

loading...
Click to comment
To Top