NGERI! Tujuh Orang Bawa Parang, Satu Mahasiswa Asal Ambon Tewas – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Kriminal

NGERI! Tujuh Orang Bawa Parang, Satu Mahasiswa Asal Ambon Tewas

NGERI! Tujuh Orang Bawa Parang, Satu Mahasiswa Asal Ambon Tewas

FAJAR.CO.ID, MALANG – Bentok antarkelompok mahasiswa terjadi di area kampus Universitas Wisnuwardhana, Jalan Danau Sentani, Kecamatan Sawojajar, Kota Malang, dini hari kemarin (20/3).

Akibat bentrok tersebut, seorang mahasiswa bernama Nasehon Leplepem alias Moger tewas. Diketahui Nasehon adalah mahasiswa asal Ambon, Maluku, yang sedang kuliah di Sekolah Tinggi Manajemen Informatika (STMIK) ASIA.

Nasehon tewas setelah ditusuk di bagian dada sebelah kanan hingga tembus ke bagian kiri.

Setelah terjadi keributan, sekitar pukul 02.30, korban segera dilarikan ke RS Lavalette. Sayang, nyawanya tidak tertolong. Sekitar pukul 05.27, korban menghembuskan napas terakhirnya.

Jenazah Nasehon langsung dibawa ke Instalasi Kedokteran Forensik Rumah Sakit Saiful Anwar (IKF RSSA) untuk dilakukan otopsi.

Kapolres Malang Kota AKBP Decky Hendarsono yang kemarin meninjau secara langsung proses otopsi itu enggan memberikan keterangan detail.

”Sementara ini kami masih belum bisa memberikan keterangan. Kami proses terlebih dahulu bagaimana kejadiannya,” kata dia.

Decky melanjutkan, sementara ini kepolisian juga masih menunggu laporan kejadian yang masuk. ”Kami tinjau TKP (tempat kejadian perkara) serta menunggu laporan yang masuk dari pihak korban,” tambah mantan Kapolres Kota Batu ini.

Salah satu saksi mata bernama Edy Ambon mengatakan, kejadian tersebut berlangsung begitu cepat. Rentetan peristiwa tersebut di awal saat ada acara pengukuhan komunitas mahasiswa rantau di Universitas Wisnuwardhana.

Usai acara pengukuhan pada pukul 19.30, panitia menyiapkan acara lanjutan bertajuk dansa sebagai tradisi seperti di kampung halaman.

Hingga pukul 24.00, acara berlangsung dengan tertib. Kemudian datang tujuh orang yang memakai pakaian kurang sopan. Kemudian panitia meminta saran dari Edy sebagai sesepuh. Edy menyarankan agar meminta ketujuh orang tersebut memakai pakaian yang lebih sopan dan diperkenankan mengikuti acara ini setelah ganti pakaian.

Ketujuh orang tersebut kemudian pergi. Dan setengah jam setelah itu, mereka kembali ke lokasi acara. ”Saya mendapat laporan dari adik-adik saya bahwa ketujuh orang itu membawa parang,” kata dia.

Edy kemudian meminta saran dari pihak keamanan dan menyepakati agar mengusir ketujuh orang tersebut agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

Edy ketika itu maju dan membawa ketujuh orang tersebut keluar ruangan. Saat itulah dia menyadari ada empat parang dan satu pisau yang mereka bawa.

”Tiba-tiba saja mereka mengeluarkan semua senjata tajam itu dan mengancam saya. Saya bilang tidak takut dengan senjata tajam itu,” ujarnya.

Teman Edy yang mengetahui hal tersebut pun tidak terima, mereka emosi dan sempat terjadi adu mulut. Ketujuh orang ini kemudian bisa dipaksa mundur. Akhirnya saat keadaan bisa dikuasai, panitia menyepakati agar acara ini segera dibubarkan.

Seluruh hadirin akhirnya pulang bersama-sama demi menjaga keadaan agar tetap kondusif.

Namun, ketujuh orang ini kemudian bertambah menjadi sebelas orang dan mencegat kelompok Edy di pintu keluar gedung. Kelompoknya pun terpecah keluar dari pintu yang lain. Ternyata, sekitar 15 orang dari kelompok yang sama sudah menguasai areal parkir. Sehingga terdapat 26 orang yang kemudian bertikai melawan kelompok Edy.

”Kami melawan mereka hingga kelompok kami terpecah. Yang saya ingat ada empat adik (junior) yang saya lindungi. Ternyata, tiba-tiba ada laporan masuk bahwa bung Moger sudah jatuh,” jelasnya.

Ke depannya, Edy akan menyelesaikan kasus ini secara hukum. Sambil terus bekerja sama dengan pihak kepolisian.

”Laporan kami memang belum masuk, tapi sudah saya ceritakan seperti apa kronologisnya secara lengkap kepada polisi. Kami tidak akan melakukan tindakan yang di luar hukum, kami percaya pada aparat bisa mengadili pelaku,” tegasnya.(ded/c2/riq/sam/jpnn/fajar)

 

loading...
Click to comment
To Top