Wisata Gorontalo Antusias, Bandara Djalaludin Diperbesar – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Budaya & Pariwisata

Wisata Gorontalo Antusias, Bandara Djalaludin Diperbesar

berita_255238_800x600_1222

JAKARTA – Kementerian Perhubungan telah menyelesaikan pembangunan gedung terminal baru Bandara Djalaludin Gorontalo. Gedung terminal baru yang terdiri dari 2 (dua) lantai itu seluas 11.865 meter persegi, dan mampu menampung penumpang dan penjemput 2.500 orang. Sepuluh kali lebih besar dari kapasitas sebelumnya yang sudah sesak jika diduduki 250 orang.

Bandara Djalaludin Gorontalo merupakan Bandar Udara kelas 1 (satu) yang berada di Kabupaten Gorontalo, 18 km dari Ibu Kota Kabupaten Limboto, Provinsi Gorontalo. ”Daya tampung sudah ditingkatkan, tentu saja ini akan memberi peluang untuk menaikkan jumlah flight ke badara itu. Pariwisata berpotensi untuk ditingkatkan lebih banyak. Kami gembira, karena ini akan sangat mendukung, sebelum banyak festival digelar di daerah kami,”ujar Kepala Promosi dan Informasi Dinas Pariwisata Gorontalo, Fahmi Ihsan.

Seperti diketahui, empat festival akan digulirkan di Gorontalo tahun 2016 ini. Festival-festival tersebut adalah Pesona Festival Otanaha dan Pesona Festival Danau Limboto, Pesona Festival Saronde dan Festival Pesona Boalemo. Lebih detailnya, Pesona Festival Otanaha dilaksanakan 28-31 Mei, Festival Danau Limboto akan 16-26 November, Festival Pesona Boalemo 27-3 Desember, Pesona Festival Saronde akan 1-4 Desember.

”Ini yang dimaksud dengan infrastruktur akses, atau sarana dan prasarana yang mendukung. Terima kasih Kemenpar, terima kasih Kemenhub, terima kasih Garuda Indonesia dan semua maskapai yang akan menambah frequensi ke Gorontalo. Kami juga berterima kasih kepada semua pihak yang bisa mewujudkan mimpi kami satu persatu. Percayalah, Gorontalo sangat indah dan kaya akan atraksi baik budaya maupun alam,” ujarnya sangat meyakinkan.

Gedung terminal baru Bandara Gorontalo ini dibangun sejak tahun 2013 sampai  dengan tahun 2015 dengan total pembiayaan sebesar Rp 146 M. Dana itu berasal dari anggaran Kementerian Perhubungan. Gedung terminal baru Bandara Djalaludin Gorontalo merupakan bagian dari pengembangan fasilitas darat bandara. Lantai dasar berfungsi sebagai tempat check in, drop off, baggage claim, serta area publik dan karyawan. Sementara untuk lantai dua, berfungsi sebagai ruang tunggu penumpang dan area publik & karyawan.

Selain pembangunan terminal baru, Bandara Djalaludin Gorontalo juga mengembangkan area parkir bandara yang semula hanya seluas 3.902 M2 untuk 150 mobil, sekarang menjadi 46.411 M2 dan mampu menampung 1.820 mobil. Sehingga total biaya untuk pengembangan sisi fasilitas darat Bandara Djalaludin Gorontalo sebesar Rp 187 milyar.

Pada sisi udara juga telah dilakukan pengembangan apron yang semula hanya berukuran 230 x 80 M dan hanya mampu menampung 2 unit pesawat sejenis 737-800 serta 1 unit sejenis ATR, menjadi 130 x 291 M dan mampu menampung 3 unit pesawat sejenis 737-800 serta 2 unit sejenis ATR. Bandara Djalaludin Gorontalo mampu didarati Pesawat Boeing 737-900 ER dan maskapai yang sudah beroperasi diantaranya Garuda Indonesia, Lion Air, Sriwijaya Air, Batik Air, Wings Air dan Avia Star.

Bandar Udara Djalaluddin Gorontalo resmi menjadi Bandara Kelas I tahun 2014. Ini merupakan satu-satunya sarana transportasi udara yang terletak di Provinsi Gorontalo. Seiring dengan peningkatan jumlah penumpang baik yang datang dan pergi di bandara ini, Kementerian Perhubungan melakukan perbaikan. Ini sejalan dengan fokus kerja Menteri Perhubungan Ignasius Jonan untuk terus meningkatkan kapasitas sarana dan prasarana jasa transportasi serta meningkatkan kualitas pelayanan jasa transportasi.

Menpar Arief Yahya menyambut baik realisasi perbaikan infratruktur bandara itu. Karena aksesibilitas dan konektivitas dari dan menuju Gorontalo akan semakin baik. “Ini kesempatan bagus untuk menaikkan jumlah kunjungan wisatawan, baik mancanegara maupun nusantara. Saran saya, segera perbaiki semua destinasi pariwisata yang ada di daerah, lalu dipromosikan besar-besaran,” jelas Arief Yahya di Jakarta.

Dia menjelaskan, rumus destinasi pariwisata itu 3A (Akses, Atraksi dan Amenitas). Tetapi untuk menjadi destinasi kelas dunia, harus memenuhi standar 14 pilar yang dinilai oleh World Economic Forum (WEF). “Saya ingin, Gorontalo juga mengelola destinasinya dengan standar global. Kalau semua unsur sudah ready, Kemenpar akan mempromosikan destinasi itu ke seluruh dunia melalui semua saluran komunikasi,” kata Arief Yahya.

PT Angkasa Pura II menegaskan keamanan di seluruh kawasan bandara dan keselamatan bagi penumpang pesawat merupakan prioritas utama. Koordinasi  dengan TNI dan Polri makin intensif dan mengantisipasi setiap ancaman keamanan di bandara sebagai pintu gerbang internasional. “Ada 13 bandara yang peningkatan keamanan ditingkatkan,” kata Presidir Angkasa Pura II Budi Karya Sumadi.

Mantan Dirut Ancol ini juga mengatakan sejak Desember 2015 status kemananan bandara telah ditingkatkan dari status hijau menjadi kuning, sesuai Instruksi Dirjen Perhubungan Udara Nomor  5 tahun 2015. Perubahan status tersebut dikeluarkan sebagai langkah antisipasi menyusul kondisi keamanan di berbagai negara di Eropa pasca aksi teros di kota Paris, Prancis. “Bandara-bandara di bawah pengelolaan AP II sejak tahun 2015 telah meningkat status dari hijau menjadi kuning, yang berarti  pengamanan lebih diperketat,” kata Budi Karya.

Karena itu frekuensi patroli pengamanan ditingkatkan, untuk menyisir area publik, area parkir, dan memeriksa kendaraan secara acak atau random. Khusus di Soekarno-Hatta, selain Aviation Security juga bersiaga terjadi penambahan personil Polri dan TNI. Bandara adalah salah satu obyek vital nasional. Pihaknya juga mengoperasikan 1.500 CCTV untuk memantau 24 jam.

Sementara itu, salah satu langkah pengamanan yang sempat dikeluhkan penumpang yaitu penggunaan anjing pelacak, maka  pihak Angkasa Pura II memastikan bahwa penggunaan anjing pelacak bukan untuk mengendus barang penumpang melainkan kendaraan pembawa barang atau mobil boks. (fajar.co.id)

loading...
Click to comment
To Top