Buah Hati yang Didambakan – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Samudera Ilmu

Buah Hati yang Didambakan

Hannah namanya. Hannah binti Faqudz. Seorang wanita sholihah, yang juga diperistri oleh seorang lelaki sholih. Namanya Imran. Sebuah nama yang kemudian terabadikan oleh firmanNya dalam Al quran. Al-Imran. Pun, ia adalah sebuah nama yang serupa dengan ayahanda seorang rasul nan mulia. Musa bin Imran alaihissalam.

Sebagaimana dambaan bagi tiap pasang kekasih yang diberkahi. Memperoleh buah hati yang akan menjadi penentram dan penyejuk mata adalah cita yang luhur. Bahkan anak manusia yang kufur kepada Allah, pun merindukan kehadiran seorang anak. Karena naluri cinta keibuan dan fitrah welas kasih seorang bapak menuntut mereka akan hal itu.

Namun, orang beriman memiliki cara paham yang cukup berbeda. Pandangannya melampaui batasan zaman. Jauh melewati saujana. Jika orang-orang biasa hanya merindukan seorang anak, hanya untuk mengisi anggota keluarga semata sahaja, atau tersebab suara fitrah keibuan dan kebapakan menuntutnya, pun atau tersebab factor lainnya.

Maka para mu’minin, memandang sang buah hati adalah tabungan kebaikan. Mata air-mata air ganjaran, yang akan selalu menghilirkan kebaikan ketika segala amal telah putus tiada. Orang-orang beriman, tiada datang dan melemparkan anak mereka ke dalam episod sejarah manusia begitu sahaja, lalu pergi. Seakan seorang petani yang melemparkan benih di ladang penuh benalu dan belukar, dan berharap ia menjadi pohon yang baik.

Maka inilah Hannah putri Faqudz. Telah mengajarkan kita mata kuliah yang seindah permata.  Hingga Allah pun abadikan perkataannya, ketika menadzarkan janin yang sedang tumbuh dalam rahimnya.

Alkisah, sebagaimana yang dikatakan Muhammad Ibnu Ishaq, dan dinukil Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Hannah, yang ketika itu telah lama nian belum memiliki anak, tampak terenyuh. Naluri keibuannya seakan terjamah. Dan bergetar oleh gerak-gerik seekor induk burung, yang sepenuh cinta membelai anak-anaknya. Pemandangan itu, menyusup ke hati. Dan menggelorakan hajatnya yang luhur. Meluap-luap. Menjadi-jadi. Dia ingin memiliki anak.

Setelah kejadian itu, Allah mengabulkan pintanya. Hannah mengandung seorang bayi, yang menjadi calon seorang wanita mulia. Maryam. Ibundanya Isa alaihissalam kelak nantinya. Calon anak manusia yang telah dirasakan kehadirannya di alam rahim tersebut, oleh Hannah kemudian dinazarkan untuk berkhidmat dengan segenap usianya di Baitul Maqdis.

“[Ingatlah], ketika isteri ‘Imran berkata: ‘Ya Rabbku, sesungguhnya aku menadzarkan kepada-Mu anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah [nadzar] itu dariku. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Mahamendengar lagi Mahamengetahui.’ [QS. 3:35]

Akan tetapi betapa disayang, anak yang dilahirkan ternyata wanita. Namun, kerana inilah cita yang luhur. Maka tiada meluruh oleh takdir, bersebab anak yang yang dikandung bukan lelaki. Yang kala itu, menjadi syarat mutlak, bila ingin dikhidmatkan. Tersebab tekad nazar telah membulat, maka Maryam kecil itu pun tetap dikhidmatkan.

Duhai, bila kiranya tiap-tiap insan muslimah mempunyai kebulatan azzam dan cita, yang seluhur Hannah. Meniatkan kebaikan untuk setiap benih yang disemai, pada kukuh rahimnya. Lalu ia mendidiknya, sedari alam perut. Menghindari makanan yang haram atau hatta syubhat. Agar daging janin anaknya, tumbuh dari yang halal. Menjauhkan ia dari music dan lainnya. Pun melazimi ketaatan, hingga seakan bayi itu turut bersamai ia dengannya. Berdzikir, sholat, sholawat, tilawah atau yang lain.

Bagai benih tanaman, yang dirawat di bedeng persemaian. Sampai ketika anak tanaman itu benar-benar akan dipindah dari tanah yang bergembur, ke tanah yang agak padat. Ia telah cukup matang.

Semoga Allah mencintainya, Hannah, Ibunya Maryam, neneknya Isa ‘alaihissalam.

***

Getar hikmah yang hampir sama, juga bisa kita rasakan pada ceritera lain. Tapi masih sezamannya. Pun masih sekerabat dengan Hannah binti Faqudz.

Adalah saudari Hannah, juga pernah mengalami hal serupa. Sudah nian lama, ia belum melihat ada kehidupan di dalam rahimnya. Tak ada isyarat, ada bayi di alam itu. Sementara suaminya, juga telah mulai beruban dan meringkih. Suaminya, bukan sebarang manusia. Dialah Dzakariyah, nabiyuLlah ‘alaihissalam.

“Ya Tuhanku,” demikian Dzakariya berdoa di mihrabnya. Sementara suaranya sepenuh lembut. “Sungguh [semua] tulangku telah lemah, dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepadaMu, Ya Tuhanku, dan sungguh aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai”.

Begitulah keinginan orang-orang beriman. Luhur dan tiada meluruh oleh keadaan yang nyaris tak sisakan asa.

***

Duhai, bila kiranya tiap insan muslim, mengazzam niatkan, setiap benih yang tersimpan di sulbinya. Untuk sebuah cita yang mulia kelak. Seumpama Hannah putri Faqudz, atau NabiyuLlah Dzakariyah alaihissalam.

“Ya Rabbana, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” [QS. Al Furqon: 74]

Click to comment
To Top