Kasus DBD di Bekasi Meningkat – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Daerah

Kasus DBD di Bekasi Meningkat

2646_2027_15-06-MDN-fogging

FAJAR.CO.ID, BEKASI – Dinas Kesehatan Kota Bekasi mencatat telah terjadi 1100 kasus demam berdarah dengue (DBD) sejak Januari hingga Maret 2016 ini. Jumlah ini merupakan yang terbesar di Bekasi dalam beberapa tahun terakhir. Angka tersebut juga dipastikan akan terus bertambah, mengingat 2016 masih tersisa sekitar sembilan bulan lagi.

”Kalau tahun 2015 lalu, selama dua belas bulan, hanya mencapai 1.006 kasus. Tapi tahun ini baru tiga bulan saja sudah mencapai 1.100 kasus. Bagaimana menghadapi bulan selanjutnya tentu mengalami peningkatan terus,” kata Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan pada Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Tetty Manurung, Sabtu (26/3).

Catatan yang dimiliki Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Januari 300 kasus, Februari 500 kasus, dan di bulan Maret mencapai 300 kasus. Dari jumlah itu, 17 diantaranya meninggal dunia. Untuk wilayah yang terdeteksi paling tinggi adalah Mustikajaya, dengan total kematian 3 orang.

Tetty menambahkan, kasus DBD ini rata-rata didominasi oleh pasien anak-anak. Namun, kata dia, warga Kota Bekasi yang terjangkit demam berdarah tak hanya terkena gigitan nyamuk Aedes Aegypti di wilayah setempat. Bisa juga kata dia,  terjangkit di wilayah lain, sebab kasus demam berdarah juga meningkat di daerah lain. ”Hampir di semua daerah kasus demam berdarah meningkat,” katanya.

Meski begitu, Tetty mengaku, sampai saat ini pemerintah daerah belum menetapkan kejadian luar biasa. Hanya saja, pemerintah kini sedang menggalakkan gerakan serentak pemberantasan sarang nyamuk (PSN) seperti yang dilakukan di Kecamatan Mustikajaya. ”Warga inginnya serentak di semua kecamatan,” jelasnya.

Menurut dia, pemberantasan sarang nyamuk (PSN) berbeda dengan fogging. Dimana warga harus melakukan kegiatan menutup lubang air, menguras bak mandi, dan mengubur barang bekas. ”Kalau dilakukan fogging terus menerus, dikhawatirkan nyamuk malah menjadi kebal,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kota Bekasi Reni Amalia, menambahkan, ada beberapa faktor yang menyebabkan penderita DBD sampai meregang nyawa. Di antaranya keluarga pasien tak memiliki pengetahuan cukup mengenai penyakit mematikan itu. Bahkan gejala awal pun dianggap ringan. ”Jadinya, penanganannya menjadi terlambat,” imbuhnya.

Reni mengungkapkan beberapa faktor yang membuat nyamuk Aedes Aegypti, penyebar demam berdarah, berkembang. Di antaranya lingkungan yang kurang bersih, membiarkan genangan air. ”Kepedulian masyarakat dibutuhkan agar nyamuk tak berkembang,” tandasnya. (dny/dil/jpnn)

loading...
Click to comment
To Top