Sekuntum Nasehat, Penyentuh Hati – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Samudera Ilmu

Sekuntum Nasehat, Penyentuh Hati

AL-QURAN

KITA hanyalah sepenggal generasi, yang hadir untuk mengisi riwayat sejarah anak manusia di bumi. Sebagaimana mereka yang telah berkesudahan, kita datang dan lalu akan pergi. Hadir dan akhirnya akan menghilang ditelan zaman jua.

Duhai kawan yang dicintai.

Di mana Nero yang membakar Roma? Di manakah gerangan Nebukadnezar? Kemana kah Firaun dan balatentaranya? Mana jari-jemari yang jelmakan bebatuan seumpama istana? Mereka semua takluk di hadapan cakar-cakar kematian. Mereka menyerah di hadapan sebuah makhluk tak bersosok, mati.

Manusia mana yang dapat mengelak darinya? Sesiapa yang meninggalkan rekam jejak yang teladan, akan menjadi buah tutur yang indah dan terpuji. Dan sesiapa yang sisakan jejak diri dengan keburukan, ia menjadi buah tutur yang tercela.

“Di mana jasadnya?” Begitulah orang-orang akan bertanya ketika anda meninggal. Karena, yang pertama kali hilang dari anda ketika mati, adalah nama.

“Miringkan jasadnya” Begitulah kata orang yang memandikan. Seakan kau tak lagi bernama.

“Hadapkan wajahnya ke arah kiblat” Demikianlah orang yang menguburmu akan berkata.

Setelah pengurusan jenazahmu telah selesai, maka gumpalan tanah jatuh menimbun jasadmu. Saat itulah jasadmu juga mulai akan sirna. Kau tak lagi berjasad. “Dimana kuburnya?” Demikian orang-orang yang ingin berziarah bertanya. Dan bakteri-bakteri pengurai akan bekerja. Hingga yang tersisa hanyalah tulang-belulang.

Alkisah, sebagaimana dinukil dalam At Tabshiroh, seorang tampak tercengung. Matanya agak terbelalak. Secara tak sengaja ia melewati sebuah pemakaman. Hingga ia menatap lekat sebuah onggokan tulang di hadapannya. Perlahan ia mengusapnya dengan lembut. Lalu tulang remuk seperti menjelma bulir-bulir pasir.

“Beginilah aku kelak” katanya terhenyak.

Dengan azzam yang kuat untuk bertaubat, ia pun menjalani hari-hari dengan segenap ketaatan. Bila malam tiba ia mulai meratap dan menangis dengan kesedihan dan penyesalan akan dosa-dosa.

“Duhai anakku, kasihanilah dirimu.” Suatu ketika ibunya merasa iba.

“Duhai Ibunda” jawabnya, “ sesunggunya aku mempunyai perjalanan jauh di hadapan Rabb Yang Maha Mulia, maka aku tidak tahu apa aku akan diperintahkan ke naungan yang menaungi ataukah ke keburukan yang membinasakan. Sungguh aku takut kepayahan yang tidak ada kesenangan setelahnya, dan celaan yang tiada pemaafan”

***

Ya Allah, kurniakanlah ketaatan pada kami hingga kematian menyapa. Lindungilah kami, dalam naungan perlindunganMu yang kokoh, dari segala setan dan balatentaranya.

loading...
Click to comment
To Top