Ternyata, Australia dan Malaysia Ikut Dukung Proyek Blok Masela di Darat – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ekonomi & Bisnis

Ternyata, Australia dan Malaysia Ikut Dukung Proyek Blok Masela di Darat

blok masela
ilustrasi

FAJAR.CO.ID, JAKARTA- Malaysia dan Australia ternyata ikut membatalkan pengembangan LNG terapung (FLNG). Hal itu semakin menguatkan bahwa keputusan Presiden Joko Widodo mengembangkan lapangan abadi Masela di darat sangat tepat.

Proyek FLNG merupakan usulan dari dua perusahaan, yakni Inpex (Jepang) dan Royal Dutch Shell (patungan Belanda-Inggris). Proyek itu bernilai sekitar US$ 22 miliar. FLNG miliaran dolar yang dikembangkan Petronas, BUMN Malaysia, juga ditunda. Alasan penudaan karena harga LNG dan konsumsi LNG sedang lembek.

Menurut analisis JP Morgan, kelebihan pasokan LNG dunia menjadi alasan utama yang memicu penundaan atau pembatalan pengembangan proyek FLNG di dunia sepanjang Februari lalu.

Dia menjelaskan, konsumen LNG utama di Asia seperti Korea Selatan dan Jepang kini jelas mengurangi impor LNG-nya. China juga demikian. Akibat kelebihan suplai LNG pada akhir 2015 untuk kontrak pembelian jangka panjang ke Asia itu, maka harga LNG 2016 terpangkas setengah dari harga rata-rata 2014.

Analis migas BMI Research, Peter Lee beranggapan bahwa harga LNG bakal masih tertekan dalam lima tahun ke depan, sehingga pengembangan proyek kilang LNG skala besar harus sabar menunggu sumber-sumber pendanaan yang tertarik.

Proyek FLNG Prelude di cekungan Browse, sekitar 200 kilometer dari titik pantai terdekat Australia Barat, juga dibatalkan karena harga LNG dan minyak yang sedang nyungsep.

Koran Sydney Morning Herald, baru-baru ini memberitakan bahwa biaya pembangunan FLNG Prelude membengkak hampir 100 persen. Menurut perhitungan Woodside Petroleum yang mengincar aset tiga kontraktor FLNG Prelude: Shell Australia, Inpex dan Kogas bernilai A$ 40 miliar.

Menteri Besar Australia Baray, Colin Barnett juga menyatakan kekecewaannya. Sebab, mereka kemungkinan bakal kesulitan mengembangkan proyek bernilai A$ 50 miliar saat harga minyak dan gas sedang rendah sekarang. Harapnya, kesempatan akan datang lagi saat harga minyak dan gas pulih dua hingga tiga tahun lagi.

Woodside Petroleum menyatakan bahwa lapangan minyak, bukan LNG, di cekungan Browsemasih layak dikembangkan dengan teknologi yang sudah ditemukan dan yang lebih murah daripada teknologi Royal Dutch Shell.

Seharusnya Inpex dan Shell malah berterima kasih kepada Presiden Joko Widodo yang memutuskan kilang LNG Darat di Masela daripada kilang LNG terapung yang lebih mahal. Inpex dan Shel bukan malah mengancam akan membatalkan investasinya di Masela.

Perjuangan Menteri Koordinator Maritim dan Sumberdaya Dr. Rizal Ramli yang meninjau ulang keputusan kilang terapung Masela pada masa pemerintahan Presiden SBY (2010) membuahkan hasil dan didukung DPR, karena kilang darat sesuai dengan Pasal 33 UUD 45 dan nawa Cita Presiden Soekarno. [sam]

loading...
Click to comment
To Top