Wow! Sebanyak 435 Kepala Sekolah Dilantik di Tempat Pembuangan Sampah – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Makassar

Wow! Sebanyak 435 Kepala Sekolah Dilantik di Tempat Pembuangan Sampah

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR- Ini merupakan hal yang unik yang belum pernah terjadi sebelumnya, Walikota Makassar Danny Pamanto, melaksanakan proses pelantikan Kepala Sekolah semua tingkatan di Tempat Pembuangan Sampah (TPA) Antang, Kecamatan Manggala, Kota Makassar,  Sulawesi Selatan,  pada Rabu (30/3). Sebanyak 435 Kepala Sekolah resmi dilantik di tempat tersebut.

Bau busuk menyeruak mengiringi pengucapan sumpah jabatan. Danny Pomanto tentu punya alasan tersendiri mengapa para punggawa sekolah itu dilantik di tempat pembuangan sampah.

Boleh jadi, agar semua kepsek menjadi lebih peduli dengan lingkungan yang bersih, seiring dengan program Danny Pomanto soal Makassarta Tidak Rantasa (MTR).

Tapi di lain sisi, pelantikan para kepsek ini ternyata punya cerita tersendiri. Di balik lelang yang anggarannya melalui APBD ini,  menyisakan cerita miris bagi dunia pendidikan di Kota Makassar.

Awalnya, lelang jabatan kepala sekolah yang digagas Walikota Makassar Danny Pomanto, kepsek diharapkan bisa meminimalisir hingga menghilangkan pungutan liar (Pungli), namun belakangan muncul dugaan adanya permainan oknum pada lelang kepsek tersebut.

Salah satu calon yang tidak mau disebutkan namanya membeberkan, jika lelang jabatan kepsek yang dilakukan Danny Pomanto seolah-olah membuka keran pungli.

“Kami punya harapan dengan pernyataan pak Dany yang bilang tidak ada bayar-bayar dan tidak ada dekkeng-dekkeng,” katanya, saat ditemui, Selasa (29/3/2016).

Namun kenyataannya, kata dia, prosesnya malah dirusak oleh oknum-onum yang ingin memanfaatkan lelang jabatan kepsek tersebut. “Kalau dulu terang-terangan, jika mau jadi kepala sekolah, yang harus dihubungi jelas orangnya. Sekarang banyak tes, dan ternyata lebih banyak pungli,” jelasnya.

Dia menyebut, jika ada simbol-simbol yang mengarah untuk menghadap dengan beberapa orang agar langkahnya dimuluskan. “Sebagian teman malah terang-terangan dimintai sejumlah uang, tapi saya tidak mau,” katanya.

Bahkan, dia membeberkan ada istilah-istilah selama lelang kepsek dengan sebutan ketua kelas dan wali kelas. “Inilah sebutan-sebutan orang-orang yang ditemui jika ingin diloloskan,” tegasnya.

Pelantikan kepsek hasil lelang jabatan, lanjut dia, yang dilaksanakan di tempat sampah merupakan sebuah analogi semantik, busuk. “Ini karena melewati proses yang busuk, panjang dan menghabiskan anggaran,” cetusnya.

Ia menjelaskan, saat proses lelang jabatan kepsek sejak November 2015 lalu, ada beberapa kepala sekolah yang sudah di-non-jobkan, malah diluluskan. “Kenapa yang ditemukan kasusnya oleh ombudsman itu diikutkan tes per November,” jelasnya.

Sebelumnya, Ombusdman meminta agar kepala sekolah sekolah yang berdasarkan temuan dianggap melakukan pungli diantaranya SMAN 3 Makassar, SMAN 14 Makassar, SMAN 8 Makassar, SMAN 16 Makassar, SMKN 3 Makassar dan SMP 6 Makassar.

Dia menjelaskan, kalau hasil uji publik mengatakan, banyak kepala sekolah incumbent lolos itu dugaan, bukan temuan hukum. “Banyak temuan uji publik, kenapa tidak diumumkan itu, sementara temuan Ondbusman, sudah ada,” katanya.

Kalau uji publik memang tidak punya kekuatan hukum. Tapi ini ombudsman ada kekuatan hukumnya. “Temuan Ombudsman itu adalah temuan hukum dan harus diproses secara hukum,” tegasnya.

Bahkan, katanya lagi, uji kompetensi seolah-olah secara akademik tidak ada gunanya, karena digugurkan oleh uji publik. “Jadi ada logika-logika yang tidak benar,” jelasnya.

Selain itu, pengumuman hasil tes juga dinilai ada kejanggalan, lantaran pengumumannya yang ditunda-tunda. “Ada tes kesehatan, kok tidak diumumkan. Jadi wajar jika semua orang mengatakan ada permainan,” ujarnya. (pojoksulsel/Fajar)

 

 

 

loading...
Click to comment
To Top