Bersama Allah, Cinta Tak Bertepi – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Samudera Ilmu

Bersama Allah, Cinta Tak Bertepi

Bermula dari negeri Sakura, Jepang.

Adalah Kuroki, ceritera bersama sang permaisurinya, terkadang membuat banyak kita tercengung. Hamparan bebunga yang tergelar di laman rumahnya, menjadi burhan. Betapa besar cinta terkulum di dalam dadanya.

Tersebab kesetian, kerja kerasnya telah menyulap hamparan rerumputan dan pepohon yang melingkari rumahnya, menjadi suatu taman yang tergelar bagai permadani. Tamannya itu, pada bulan Maret dan April akan bermekar nan semerbak. Hingga mengundang 7.000 pengunjung tiap tahunnya.

Namun disebalik indahnya hamparan bunga-bunga itu, yang mengundang pengunjung manusia, pun kumbang dari seantero Sakura. Terdapat kisah yang mengharu-biru. Mengenyuh hati.

Dalam keharmonisan, mereka berdua telah mecapai usia senja. Layaknya insan lain, ketika telah mejalin kasih dalam ikatan keluarga. Bunga-bunga kebahagian memerekah di dalam hati. Hingga pernah Kuroki membatin, jika bersama kekasihnya itu, mereka akan melancong mengelilingi sepenuh penjuru Jepang.

Tapi betapa disayang. Istri Kuroki tetiba mengalami kebutaan. Hingga harapan yang pernah dibatinkannya luruh seketika. Ia benar-benar terpukul dengan kejadian yang tak pernah dinyana tersebut. Seiring dengan perjalanan waktu, Kuroki mulai memutar otak. Serpihan-serpihan asa yang terserak ia kumpulkan.

Kali ini, menurutnya, ia tak akan berambisi mendatangi setiap Jepang. Namun seantoro Jepang-lah yang ia datangkan ke dalam genggamannya. Kuroki kemudian bekerja dan membuat taman tersebut. Walhasil, para pengunjung telah berdatangan ke laman rumahnya untuk menikmati keindahan hamparan bunga. Istrinya pun tak lagi merasa kesepian.

Menakjubkan.

***

Kisah Kuroki bersama sang istri, menjadi bukti bahwa cinta mereka tak setipis retina. Kendati ia sepeka kulit mata. Tersebab butanya si terkasih, tak menjadi rintangan yang berarti. Pun mereka membuktikan, bahwa rasa itu tak setipis kulit ari. Dimana kulit bisa menua, atau rusak dalam sedetik dengan setetes raksa.

Andai kata mereka berdua mengikat ikatan keluarga dengan simpul tali yang lebih kukuh lagi. Tauhid. Maka mungkin kebersamaan mereka akan menembus batas barzakh. Abadi di taman syurga yang seharum kesturi. Yang keindahannya tak pernah dilihat, walau dalam khayal.

Maka dalah meniti rihlah yang sebentar ini. Dan dalam membangun ikatan kecil bernama keluarga, di alam yang fana ini, Rasul pernah berpesan agar memilih karena agamanya.

“Seorang wanita, dinikahi karena empat perkara” demikian suatu ketika Nabi member penjelasan, “karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dank arena agamanya. Maka pilihlah karena agamanya. Niscaya kamu beruntung.” Sambungnya.

Beruntung, tersebab dia tak hanya menjadi sebaik-baik perhiasan di dunia. Namun  di surge pun mereka diiri, dicemburu oleh bidadari-bidadari nan jelita. Di sana, mereka berkumpul, berbarengan dengan kelurganya.

“Dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah. Dan dia akan kembali kepada keluarganya yang sama-sama beriman” [QS : Al insyiqa : 8-9]

Masya Allah

Maka pada tiap-tiap kawan yang telah mimilih pendamping rihlah. Pun pada yang masih berkelana mencari, ikatlah ikatan itu bersama temali Allah yang kukuh. Agar bahtera keluarga tak karam, tapi menuju pulai keabadian. SurgaNya.

Di sini kita bermula, Di surge kita berjumpa. Insya Allah.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top