Firasat Buruk Keluarga Korban Sandera Abu Sayyaf – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Daerah

Firasat Buruk Keluarga Korban Sandera Abu Sayyaf

FAJAR.CO.ID,  Tiap malam menjelang, Idawati tak bisa tidur, Perasaan gelisah menampar kesendiriannya, Di siang hari hatinya juga tidak menemukan ketenangan. Suaminya, Suriansyah, suaminya Suriansyah, yang di sandera kelompok Abu Sayyaf di Filiphina, tak ada kabar berita.

Ya, lelaki yang dia nikahi 2011 itu, adalah satu dari 10 awak kapal Brahma 12. “Sampai sekarang, saya belum mendapat informasi apapun soal nasib suami saya,” kata Idawati, yang ditemui Kendari Pos di kediamanya, kemarin di Kelurahan Watubangga, Baruga.

Perempuan ini mengaku, sudah pernah ada beberapa orang dari TNI dan Polda Sultra, untuk memberi kabar soal penyanderaan itu. Tapi dua institusi itu hanya memberikan semangat kepadanya agar tetap bersabar menunggu negosiasi pihak pemerintah dengan otoritas Philipina. “Belum ada perkembangan lagi (soal informasi penyanderaan) yang saya dapat,” katanya.

Wanita berhijab ini menambahkan, pihak perusahaan yang tempat suaminya bekerja juga kerap menghubungi ayah mertuanya, meminta agar bersabar dan perbanyak berdoa.

“Perusahaan seharusnya bertanggungjawab atas tragedi tersebut sebagaimana yang tercantum dalam kontrak kerja. Selain itu saya juga sayangkan sikap Filipina yang belum mau mengizinkan TNI masuk wilayah mereka membebaskan suami saya dan rekan-rekannya,” ujar Idawati dengan nada sendu.

Ibu dua orang anak ini juga menambahkan, sebelumnya suaminya diberitakan disandera, dia sudah memiliki firasat yang kurang baik. Anak bungsunya Azza Aisiyah Suriansyah yang kini duduk di bangku kelas satu di SDN 7 Baruga kerap bangun tengah malam dan menangis.

“Sebagai seorang istri pastinya memiliki firasat yang kurang. Memang anak saya itu dekat sekali dengan ayahnya,” tambahnya.

Wanita kelahiran Kendari, 11 Desember 1985 mengatakan, suaminya bekerja di kapal batubara Kalimantan sejak 2009. Ia telah berapa kali pindah-pindah perusahaan tempat dia bekerja. “Ia terakhir ke Kendari bulan 10 tahun 2015. Setelah itu berangkat dengan komunikasi terakhir pertengahan Maret dia berada di Banjarmasin. Suami saya memang alumni pelayaran dari salah satu universitas  di Jakarta” terangnya.

Hal senada diutarakan ayah Suriansyah, Darmin Tahlib. Beliau juga memiliki firasat kurang baik sebelumnya anaknya disandera oleh milisi tersebut. “Awalnya, ketika anak saya ke Filipna kok tidak memberi tahu. Padahal biasanya, kalau dia mau kemana-mana selalu bilang,” katanya.

Darmin menambahkan, pihak perusahaan tempat anaknya bekerja juga sering menghubunginya, tetap hanya diminta bersabar dan perbanyak berdoa.  (had/adk/jpnn/Fajar)

Click to comment
To Top