Tarif Bebas, Rela Lepas Keperawanan demi HP – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Daerah

Tarif Bebas, Rela Lepas Keperawanan demi HP

psk1

FAJAR.CO.ID, KONAWE SELATAN – Bisnis esek-esek di deretan warung penjual jagung rebus (PJR) di Pondidaha, Konawe, Sulawesi Tenggara berkembang cukup pesat. Di sana, ‘birokrasinya’ tidak terlalu ribet. Untuk bisa kencan dengan gadis-gasis penjual jagung, komunikasinya lewat telepon seluler.

Praktik prostitusi di PJR tidak terlalu mencolok. Mereka tinggal memperlihatkan sedikit kemolekkan tubuhnya sambil membuka tutup panci jagung.

Para lelaki yang sudah tahu modus itu, cukup memelankan laju kendaraan pelan di seputaran PJR itu. Para wanita akan berusaha membuka tutup panci sambil berteriak dengan nada nakal. “Jagung mas..jagung mas” teriak mereka sambil memunculkan senyum terbaik.

Salah satu wanita yang masuk dalam lingkaran bisnis seks terselubung ini mengatakan, yang paling dominan memberikan jasa layanan ‘cinta satu malam’ adalah karena mereka butuh tambahan biaya untuk memenuhi gaya hidupnya. Biaya dari orangtua tidak sanggup lagi melunasi hasrat untuk mereguk segala kebutuhan.

“Kadang uangnya dibelikan untuk kebutuhan seperti beli pulsa atau kebutuhan lainnya. Saya lebih gelisah kalau ponsel tidak ada pulsanya daripada menahan lapar,” ujar LN (22), gadis penjaja jagung di kawasan PJR itu.

Dia bercerita, dirinya dengan yang lain bekerja sebagai penjual jagung dengan gaji sekitar Rp 400 ribu per bulan. Namun jika ada yang mengajak kencan dan cocok, bisa terus berlanjut. Mengenai tarifnya, tak ada standar. Yang penting ada kococokan tidak ada masalah, kadang juga tarif yang harus dibayar setiap kali kencan itu bervariasi bisa Rp 100-500 ribu.

Tapi hitungan tarif kadang juga tergantung pada siapa yang mengajak. Jika dari kalangan pria dengan kantong tebal dan umurnya terlalu jauh, tarifnya tentu menyesuaikan status sosial yang disandangnya.

Wanita lainnya D (20) mengaku tidak pernah menawarkan harga yang mahal kepada para lelaki yang membutuhkan jasanya. Jika beruntung, ia bisa menawarkan harga Rp 200 ribu. D sendiri mengaku sudah melakukan pekerjaan ini sejak usia 15 tahun.

Pertama kali keperawanannya dijual karena ia ingin memiliki sebuah handphone, tapi karena tidak punya uang sehingga terpaksa terjun ke dunia hitam.

“Ingin punya HP, tapi tidak punya uang, saat itu ada tawaran teman diajak om-om jalan di Kota Kendari nanti dikasih HP. Ya mau saja karena waktu itu saya juga masih kecil. Ternyata tidak diberi HP, tapi diberi uang.dan uang itu saya belikan HP,” kisahnya. (dedi finafiskar/adk/jpnn)

loading...
Click to comment
To Top