Hasto Kristiyanto: PDIP Lahir dari Kekerasan Sejarah – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Politik

Hasto Kristiyanto: PDIP Lahir dari Kekerasan Sejarah

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – PDI Perjuangan ingin menjawab kritikan dan sorotan masyarakat terkait peran partai politik. Kini, DPP PDIP sedang memusatkan perhatian ke sektor pendidikan partai.

Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan, saat ini peran partai politik disorot masyarakat luas, karena dianggap tidak memiliki daya kreatif untuk membangun iklim politik yang positif bagi rakyat banyak.

“Kritikan kami anggap sebagai bentuk “sodoran kegelisahan rakyat”. Dan melalui kritik inilah PDI Perjuangan melakukan otokritik untuk terus memperbaiki diri. Sebab, PDI Perjuangan adalah partai yang lahir dari kekerasan sejarah, dari perjuangan untuk menegakkan ‘api cinta’ pada bangsa ini,” kata Hasto membuka pelatihan tim kampanye PDI Perjuangan di kantor DPP, Lenteng Agung, Jakarta, Selasa (5/4).

PDI Perjuangan, kata Hasto, adalah partai yang pernah berdiri sendirian melawan kekuasaan otoriter Orde Baru. Hal ini bisa dilihat dalam catatan para wartawan progresif yang setia berjuang bersama Ibu Megawati Soekarnoputri mendobrak kekuasaan otoriter Orde Baru sebagaimana tercatat dalam Buku Megawati dalam catatan wartawan: Menangis dan Tertawa Bersama Rakyat.

“PDI Perjuangan di bawah kepemimpinan Ibu Megawati Soekarnoputri tercatat sebagai peletak dasar demokrasi. Sejarah mencatat bagaimana pemerintahan di masa Orde Baru saat itu, menginjak-injak demokrasi, dan lahirlah kekuatan arus bawah yang tidak bisa dibendung oleh kekuatan lebih dari 1 juta pucuk senapan sekalipun,” tukas Hasto.

Dia menyampaikan, pada pilkada serentak tahun lalu, PDI Perjuangan tercatat sebagai partai dengan kemenangan terbesar.
“Bahkan 8 dari 10 daerah, dengan perolehan kemenangan di atas 82%, adalah kepala daerah yang merupakan kader-kader PDI Perjuangan sendiri. Bagi kami, selama kapal dengan haluan ideologi ini terus menjadi pegangan, hantaman kritik sedahsyat badai pun bisa kami terima, karena itulah realitas demokrasi yang hidup. Demokrasi tanpa kritik dan otokritik, hanya membuat partai ini berdiri di menara gading kekuasaan,” papar Hasto.

PDI Perjuangan, kata Hasto, juga memerlukan kader yang bisa menerobos ke bawah, menjadi inspirasi gambaran ideal politik, dan menjadi pemimpin di masyarakat paling bawah, serta menjadi pandu masyarakat.

“Partai bukanlah sekadar kumpulan orang yang membicarakan rumor. Partai juga bukan gerombolan orang per orang. Partai adalah sebuah gerakan ideologis yang sistematis, mengakar pada kebudayaan bangsa. Inilah yang menjadi alasan, mengapa dalam pilkada, kami menempuh jalan kepartaian untuk rakyat, dan tidak memberikan dukungan jalan perorangan sebagaimana akhir-akhir ini bergema kuat di ibukota negara kita,” tandas Hasto. (adk/jpnn)

loading...
Click to comment
To Top