Azzam Cinta Seorang Ibunda – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Samudera Ilmu

Azzam Cinta Seorang Ibunda

Bila welas kasih seorang ibu pada anak, hanya sekadar menyusui sahaja. Maka apa beda seorang ibu manusia, dan seekor induk beruang kutub? Bila cinta kasih seorang ibu pada darah dagingnya, cuman sebatas kelembutannya dalam membelai, maka merpati pun melakukan hal yang semisal. Dengan bulu sayapnya nan selembut kapas itu, ia membelai dengan sayang akan anak-anaknya.

Ketika malam menghampiri hari, atau hujan menghujani, sang induk akan membentang sayap. Biarkan buah hatinya masuk bertudung. Di bawah naungan cintanya. Sepenuh sayang, sepenuh sifat melindungi.

Jika rasa sayang seorang ibunda, hanya seukuran tak menyakiti anaknya. Maka induk unta pun mengangkat kakinya, agar buah hati tak terinjak. Sekiranya, kehangatan cinta sang ibu, hanya dalam batasan memberi makan, dan menyuapi sahaja. Maka ayam betina pun, juga menggerakan kakinya untuk mencari asupan makanan pada anaknya.

Dan andaikata, kepedulian pada kesehatan fisik janin, sedari alam rahim adalah  pengejewantahan cinta seorang ibu manusia. Yang hanya sampai di situ saja. Tak lebih. Maka induk unggas pun rela menghabiskan separuh harinya, untuk mengeram telur. lalu terjaga temperatur kehangatan. Dan kelak, anak-anaknya terlahir dengan sehat.

Pun juga kiranya, keagungan dan keluhuran cinta seorang ibu dan ayah pada buah hatinya, adalah hanya sebatas menyekolahkan dan mengkuliahkan saja. Agar ia bisa menghidupi diri sendiri, kelak nanti. Lalu apa bedanya dengan singa, yang juga mengajarkan anaknya untuk berburu. Mencari dan menerkam mangsa. Untuk tetap bertahan hidup, mengisi hari-hari.

Oh ya, jika demikian. Lalu dimana letak beda antara manusia dan bangsa binatang? Tentu semua kita, tak ingin seperti orang-orang yang difirmankan Allah. “Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”[QS. Al-A’raaf: 179]

Karenanya, perealisasian kasih sayang insan beriman, pada anaknya. Tiada dicukup pada hal yang bersifat materi saja. Pun tidak sebatas inderawi semata. Tersebab senarai hal yang semisal, juga dititipkanNya pada makhluk lain. Yang notabene berderajat di bawah manusia.

Maka tidak hanya asupan jasmani yang diperhatikan bagi anaknya. Namun juga asupan ruhani. Memperhatikan makanannya, walau sedari alam rahim. Antara yang baik lagi halal dan yang tidak lagi haram.

“Aku tiada mengetahui,” demikian kata Isma’il, ayahanda Imam Bukhari. “Bahwa ada di antara hartaku satu dirham pun yang haram maupun yang syubhat”

Masya Allah.

Maka adalah Imam Bukhari, tak hanya lahir rahim seorang wanita sholihah. Dan Juga dibimbing oleh belain tangan seorang ibu yang sholihah. Tapi juga ia ditetek dari harta, yang syubhat tak punya tempat di dalamnya. Lalu, ia ibarat pohon kebaikan yang tumbuh di tanah yang baik, dan tidak disemaikan pada tanah yang bergaram.

Meski Imam Bukhari terlahir seorang yang buta. Namun karena do’a-do’a ibunya yang tulus. Dan juga harta yang jauh dari syubhat, menjadi senarai asbab bagi terkabulnya doa sang ibu. Sang Imam kecil sembuh dan bisa melihat. Bahkan penglihatannya lebih tajam. Sementara kekuatan hafalannya, tak perlu dikatakan. Sebab semua orang pun tahu, jika matahari itu bersinar tanpa perlu penjelasan.

Singkatnya, sang Amirul Mu’minin dalam bidang hadits ini, semenjak masih kecil. Bahkan sedari buana alam rahim. Ia telah diasup dengan nutrisi ruhani dan jasmani. Lalu jadilah ia seperti yang kita tahu.

***

Sebab itu, karena kita manusia dan bukan hewan. Tentu menifestasi cinta kita berbeda. Binatang tidak diminta pertanggung jawaban amal. Hewan melahirkan anaknya ke dunia, selain karena sunnatuLlah, juga untuk habitatnya terlestari. Sementara kita, juga agar kebaikan terlestari dan terjaga. Terus mengalirkan kebaikan. Tidak putus-putus. Sampai datang keputusan Allah jalla jalaaluh.

Click to comment
To Top