Waduh! Aturan Munaslub Gokar Dinilai Bikin Calon Ketum Jadi Perampok – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Politik

Waduh! Aturan Munaslub Gokar Dinilai Bikin Calon Ketum Jadi Perampok

golkar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA- Partai Golkar sedang mempersiapkan format untuk mencegah politik uang alias money politics saat perhelatan Munaslub 7 Mei nanti. Salah satu yang berkembang adalah kewajiban calon ketua umum menyetor Rp 20 miliar ke panitia. Namun, format ini dianggap kebliger, karena sama saja memaksa calon untuk merampok guna memenuhi syarat itu.

Kabar ini pertama kali diungkapkan tim sukses Ade Komarudin (Akom), Ahmadi Noor Supit dalam program Primetime MetroTV, Senin petang kemarin. Menurutnya, angka itu digagas Steering Committee (SC) yang dipimpin Nurdin Halid. “Ada usulan hampir Rp 20 miliar satu calon,” bebernya.

Saat dikonfirmasi, Ketua Organizing Committee (OC) Zainudin Alami tidak membantah kabar itu. Menurutnya, usulan itu mengemuka agar pelaksanaan Munaslub yang akan digelar 7 Mei lebih transparan. Uang dari para calon ketua umum itu nantinya dibagikan secara rata kepada para peserta, sehingga bisa menutup praktik politik uang dan jual beli suara.

“Untuk menghindari politik uang, partisipasi yang diberikan ke daerah dikumpulkan di satu tempat lalu penyelenggara beri ke peserta. Tidak ada calon yang secara langsung memberikan. Jadi, para peserta tidak tahu uang itu dari calon siapa,” ucapnya di Jakarta, Selasa (12/4).

Namun, kata Amali, aturan kewajiban setor belum final. Kewajiban itu baru sebatas usulan. “Saat rapat disinggung, berapa sih? Ada yang ngomong begini dan begitu. Kemudian ada yang usul angka Rp 20 miliar. Tapi, itu belum jadi keputusan,” terangnya.

Meski belum diputuskan, para kandidat calon ketua umum sudah keberatan. Pihak Ade Komarudin misalnya, menyebut kewajiban itu justru akan mendorong kandidat untuk menghalalkan segala cara agar bisa memenuhi syarat dan lolos menjadi calon ketua umum. Sebab, tidak semua calon memiliki dana banyak.

“Kalau kebijakan ini benar-benar dilaksanakan, sama saja para kandidat disuruh merampok atau korupsi. Karena hampir semua calon ketua umum adalah anggota DPR,” ucap tim sukses Akom, Bambang Soesatyo, Selasa malam.

Ketua Komisi III DPR itu menduga, panitia Munaslub Golkar terinspirasi konsep yang diterapkan di Kadin dan Hipmi saat Munas lalu. Memang, di dua organisasi pengusaha itu, kandidat diminta menyumbang untuk membiayai Munas.

“Tapi kan kandidat di Kadin dan Hipmi itu pengusaha tajir. Sudah begitu, jumlahnya juga tidak fantastis, hanya sekitar Rp 1 hingga 3 miliar,” jelasnya.

Kubu Akom tidak setuju dengan usulan itu. Bagi Bambang Soesatyo, usulan itu dianggap kemunduran Golkar.

“Kalau alasan untuk menghindari money politics, itu mengada-ada. Kalau alasan panitia butuh dana untuk penyelenggaraan, ya lebih baik berterus terang saja. Saya yakin para kandidat rela dan ikhlas patungan,” tegasnya. [rus/rmol]

loading...
Click to comment
To Top