Kesungguhan Sebuah Sumpah – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Samudera Ilmu

Kesungguhan Sebuah Sumpah

Foto: pixabay.com

“Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa”

Dari untai kata-kata Patih Gajah Mada yang menyejarah itu, kita bisa menyaksikan jilatan lidah api membakar sukmanya. Api itu seakan mendedas, berkeretak di dalam dadanya hingga tergambar gelora ambisinya sepenuh ubun-ubun.

Kurang lebih, secara harfiah menurut pendapat yang masyhur, penggalan kalimat tersebut bermakna, “jika telah mengalahkan nusantara [senarai pulau di luar kekuasaannya], saya baru akan melepaskan puasa.”

Konon, kalimat itu merupakan ambisinya untuk menaklukan negeri-negeri seberang. Dan kesenangan, ia gadai taruhkan untuk keberhasilannya. Terlepas dari kontroversi yang membelit ceriteranya, penggalan kata sumpahnya menjadi cermin kesungguhan jiwa Gajah Mada.

Walhasil, kekuasannya sebentang jamrud khatulistiwa. Dari pulau Gorom, Seram Bagian Timur, Seram, Ambon hingga Pahang, Malasyia. “Lamun kalah ring Gurun [Gorom], ring Seran [Seram], Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang [malasyia], Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa” Demikian ia menyebut nama-nama nusantara yang ingin ditapakinya.

Namun betapa disayang, karena penuturan kisah dan riwayatnya yang tidak menggunakan mata rantai sanad, seperti dalam Islam. Lagi-lagi hal ini menjadi kontroversi. Sehingga ketika ingin menperoleh kisah dari sumber yang jernih, sangat membingungkan. Dan hanya berujung pada debat tanpa pangkal.

Terlepas dari silang pendapat yang tak bertandas itu. Kita mungkin semua sekata bahwa sumpah adalah cerminan kesungguhan hati, yang terlisan dalam bibir.

Baik. Sekarang kita keluar dari lembah sejarah penuh genangan kontroversi. Kita menuju sumber air mata pengetahuan dan panduan. Yang tak keruh dan akan terjaga selalu kebeningannya.

Ketika itu jauh ke dalam labirin waktu. Pepohon yang dijadikan untuk bahtera Nuh pun, mungkin masih menyerupai sesemakan. Atau mungkin belum ada. Bapak manusia, Nabi Adam, juga belum memijak kaki di bumi.

Adalah Iblis, tersebab kedengkiannya yang sepenuh nadi, dan api kesombongan yang bergelora dalam dada. Telah membulatkan tekadnya sebagai pelaku antagonis, dan dengan segenap kesungguhan dan kelihaiannya, ia pun telah bersumpah dengan sumpah yang selayaknya bikin kita bergidik. Dan lebih siap siaga.

“Demi kekuasaan Engkau,” demikian sumpah Iblis, seperti yang difirmankan Allah, dalam Surah Shod : 82 “aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis”

Subhana Allah

Iblis telah bersumpah menabuh perang. Dengan segenap kesungguhan. Ia sedang tidak bersenda gurau. Terompet telah ditiupnya, dan sepanjang hayatnya ia telah berikrar untuk menyesatkan bani Adam.

Sepenuh kesabarannya, baik yang terserak atau pun yang terhimpun akan ia kumpulkan untuk sebanyak mungkin mencari kawan. Bara api yang tersirat dari kata-katanya, terlihat betapa membara. Dan suara mendedas seolah terdengar darinya, bagai jilatan nyala api raksasa menghanguskan reranting kering.

“Saya benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur [QS :  Al-A’raf : 16-17].

Pada tiap celah Iblis telah bersumpah akan mendatanginya. Harusnya kita bergidik. Lebih ikhtiyar.

Ya Rabbana

“Ya Allah, aku mengadu kepadaMu atas lemahnya kekuatanku dan terbatasnya upayaku” sabda sang Rasul, menjadi pelajaran bagi kita.

Tersebab, hanya dengan pertolonganNya sahaja, kita bisa selamat dari tipu daya setan. Ia telah bersumpah menyesatkan seluruh bani adam, kecuali yang mukhlis. Maka semoga Allah memasukan kita dalam daftar orang yang mukhlis.

loading...
Click to comment
To Top