Inilah Kesamaan Pain dan Dajjal dalam Manga Naruto – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Interest

Inilah Kesamaan Pain dan Dajjal dalam Manga Naruto

pain dan dajjal

PAIN atau nama sebanarnya Nagato adalah ketua Akatsuki, mempunyai Mata DEWA (rinnegan) dalam agama buddha dan mesir, mampu menghidupkan orang yang telah mati dan mencipta sesuatu mengikut kehendaknya.

Pain digambarkan memiliki pengetahuan sejarah masa lalu berbagai macam desa, dan juga yang mendasari kondisi polotik dan ekonomi pada kebanyakan negara.

Dari kalimat Pain, anda bisa mendapatkan informasi bahwa Pain sebenarnya adalah manusia yang didewakan oleh Amegakure. Amegakure menganggap Pain adalah Dewa Pelindung. Hal yang sama dengan sosok Firaun di Mesir yang menganggap dirinya tuhan. Lihat gambar di bawah:

naruto pain

BUNYI PERCAKAPAN DI GAMBAR:

“Sensei. You’re still just a person…
I don’t expect you to understand what I’m telling You.
As a God, what I say, what I think, becomes the Law of a God”
Artinya:
Guru. Kamu masih seorang manusia…
Saya tidak berharap Anda untuk memahami apa yang saya katakan kepada Anda.
Sebagai Tuhan, apa yang saya katakan, apa yang saya pikirkan, menjadi Firman Tuhan/Hukum Allah.

Kesamaan Dajjal dengan Pain

Dajjal adalah dari Kalangan Manusia Biasa

Dajjal adalah seorang anak Adam yang mempunyai ciri-ciri yang jelas, akan dapat dikenali oleh setiap mukmin apabila ia telah keluar, sehingga mereka tidak terkena fitnahnya. Fitnah Dajjal adalah fitnah yang paling besar di muka bumi.

Seorang yang masih muda, wajahnya merah, pendek, kakinya bengkok, rambutnya keriting, mata sebelah kanannya buta (menonjol keluar) bagaikan buah anggur yang mengapung, di atas mata kirinya ada daging tumbuh, tertulis di antara kedua matanya: ك ف ر /كافر (kafir) dapat dibaca oleh setiap Mukmin yang bisa baca tulis dan yang tidak bisa baca tulis. Dajjal adalah seorang yang mandul tidak mempunyai anak.

Dengan Ijin Allah, Dajjal Mampu Menurunkan Hujan

Rasulullah saw bersabda:

“… Dia datang kepada suatu kaum mendakwahi mereka. Mereka pun beriman kepadanya, menerima dakwahnya. Maka Dajjal memerintahkan langit untuk turun hujan dan memerintahkan bumi untuk menumbuhkan tanaman, maka turunlah hujan dan tumbuhlah tanaman….” (HR Muslim No. 2937).

Mampu Mematikan dan Menghidupkan kembali Manusia
Rasulullah saw bersabda :
“Keluarlah pada hari itu seorang yang terbaik atau di antara orang terbaik. Dia berkata: ‘Aku bersaksi engkau adalah Dajjal yang telah disampaikan kepada kami oleh Rasulullah n.’ Dajjal berkata (kepada pengikutnya): ‘Apa pendapat kalian jika aku bunuh dia dan aku hidupkan kembali apakah kalian masih ragu kepadaku?’ Mereka berkata: ‘Tidak.’ Maka Dajjal membunuhnya dan menghidupkannya kembali….” (HR. Muslim no. 2938)

Rasulullah saw bersabda:

“Menggergaji seseorang dan menghidupkannya kembali. (HR Muslim 2938/113).

Dajjal Mengaku Diri Sebagai Tuhan

Dajjal mengaku bahwa dirinya sebagai tuhan. Hal ditunjukkan dengan berbagai kemampuan yang dimilikinya. Sedangkan segala kemampuan itu tanpa ijin Allah tidak akan terjadi. Semua ini adalah ujian kepada manusia. Rasulullah saw bersabda:

Sungguh, aku telah menceritakan perihal Dajjal kepada kalian, hingga aku khawatir kalian tidak lagi mampu memahaminya. Sesungguhnya Al Masih Dajjal adalah seorang laki-laki yang pendek, berkaki bengkok, berambut keriting, buta sebelah, matanya tidak terlalu menonjol dan tidak pula terlalu tenggelam. Jika kalian merasa bingung, maka ketahuilah bahwa Rabb kalian tidak buta sebelah.” (HR. Abu Daud no. 4320. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

 

CARA MENGHINDARI FITNAH DAJJAL

Ada banyak cara yang disampaikan Rasulullah saw dalam berbagai hadits untuk menghindari fitnah Dajjal. Yang disampaikan di bawah ini hanyalah satu cara. Yaitu menghafal sepuluh ayat pertama dari surat al-Kahfi. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُوْرَةِ الْكَهْفِ، عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ.

“Barangsiapa yang hafal sepuluh ayat pertama dari surat al-Kahfi, dia terjaga dari fitnah Dajjal.” (HR. Muslim (no. 809) dan Ahmad (VI/449) dari Sahabat Abu Darda’ Radhiyallahu anhu.).

———————–

Referensi: almanhaj.or.id, asysyariah.com, rumasho.com, lumansupra.wordpress.com

 

loading...
Click to comment
To Top