Ahok Mau Menyerah Jika Aturan KPU Berlaku – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Nasional

Ahok Mau Menyerah Jika Aturan KPU Berlaku

FAJAR.CO.ID, JAKARTA- Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menampilkan sikap berbeda saat menghadapi kabar bahwa dukungan calon independen harus memakai materai. Pernyataannya seperti menyerah. Tapi, di mata pakar politik, Ahok hanya pura-pura dan cari alasan agar bisa pindah jadi jalur independen ke jalur partai.

Kabar dukungan calon independen harus memakai materai baru muncul dua hari belakangan. Aturan itu ada dalam PKPU Nomor 9/2015. Aturan ini sebenarnya sudah diterapkan di Pilkada serentak 2015, tapi baru diketahui Ahok kemarin.

‎Ahok terlihat kesal dan frustasi dengan aturan tersebut. Dia pun menuding aturan tersebut sebagai salah satu cara menjegalnya untuk maju melalui jalur independen di Pilkada DKI 2017.‎ “Aduh, aku masa bodoh lah. KPU mau bikin apapun,” ucapnya di Balaikota, tadi siang (Rabu, 20/4).

Kata Ahok, aturan menggunakan materi tersebut akan membuat biaya calon independen menjadi sangat mahal. Untuk menyediakan materai saja bisa memakan biaya Rp 6 miliar. Rinciannya, dukungan 1 juta di kali materia Rp 6.000. “Duit dari mana kita?” cetusnya.

‎Ahok pun memperlihatkan sikap menyerah. Kata dia, kalau semua dukungan KTP yang sudah terkumpul selama ini ditolak KPU, dia mau menyerah. “Kalau dia bilang saya nggak boleh ikut gara-gara nggak ada materai, ya sudah, nggak usah ikut. Kan mereka (lawan-lawan di Pilkada) maunya saya nggak jadi gubernur kan? Ya sudah,” ucapnya.

Ini adalah benturan kedua Ahok dalam mengumpulkan dukungan dari independen. Dua bulan lalu dia dan para relawannya yang dikenal dengan sebutan Teman Ahok harus mengulang mengumpulkan KTP dukungan. Sebab, dalam dukungan pertama yang dikumpulkan, Ahok tidak mengesankan nama calon wakilnya.

Saat itu Ahok tidak menyerah. Dia bersama Teman Ahok langsung mengumpulkan KTP dukungan dari awal lagi. ‎Tapi, saat ini dia seperti mau menyerah. Kata Ahok, kalau tidak boleh maju lagi, ‎dirinya memilih memfokuskan kerja sampai akhir masa jabatannya.

“Saya sampai Oktober 2017 saya berusaha semampu saya. Habis itu, silakan pesta pora. Orang pengin banget jadi gubernur. Orang nggak pernah kasih program apa kalau jadi gubernur. Saya sampai hari ini nggak dengar programnya apa. Jadi kalau mau jadi gubernur, ambil aja deh. Kalau cuma gara-gara KTP saya nggak bisa ikut,” tegasnya.

Pakar politik Prof Asep Warlan Yusuf membaca sikap Ahok tadi dari sisi yang berbeda. Dalam amatannya, Ahok sebenarnya tidak frustasi atau menyerah. Ahok sedang berstrategi untuk membelokkan jalur dukungan dari independen ke partai politik.

“Ini sebuah taktik dari Ahok untuk kembali ke partai. Dia lagi cari pembenaran. Dia ingin mengatakan ke para relawannya, bahwa maju dari jalur independen begitu mahal,” ucapnya, dalam perbincangan dengan redaksi, malam ini.

Mengapa Ahok ingin ke jalur partai? Menurut Asep, Ahok kini mulai sadar pentingnya dukungan politik. Ahok sadar saat dirinya dihajar habis dalam kasus reklamasi Teluk Jakarta dan pembelian lahan Rumah Sakit Sumber Waras. Dalam dua kasus ini, tidak ada partai yang membela. Ahok pun harus menahan semua ‎tudingan sendirian.

“Dia single fighter. Dia jadi sasaran sendirian, tidak ada yang membela. Ini yang membuat Ahok sadar dirinya butuh dukungan partai politik,” jelasnya. [sam]

Click to comment
To Top