Irinya Kurniawan Dwi Yulianto pada Malaysia – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Bola

Irinya Kurniawan Dwi Yulianto pada Malaysia

MILO Football Clinic Day03

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Masa depan sepak bola Indonesia tengah memasuki masa-masa pelik. Sulit berprestasi, PSSI sebagai federasi juga tengah dililit konflik. Maka lengkaplah derita para pelaku cabang yang sebenarnya paling digemari publik di negeri ini.

Kondisi ini pun tak luput dari perhatian Kurniawan Dwi Yulianto. Namun, salah satu striker terbaik yang pernah dimiliki Indonesia tersebut tak mau larut dalam perseteruan panjang antara PSSI dengan Kemenpora. Si Kurus, sapaan Kurniawan, lebih bersemangat ketika membicarakan pembinaan pemain usia dini.

“Mereka masa depan sepak bola Indonesia. Harus ditangani dengan benar,” ungkap Kurniawan di sela-sela pelaksanaan  MILO Football Championship di Lapangan Pertamina, Minggu, 24 April. 

Bukan karena kini beristri orang Malaysia yang membuat Kurniawan mengaku iri dengan kondisi sepak bola di negara tetangga tersebut. Namun lebih pada keseriusan Malaysia membina pemain muda yang mereka miliki. Secara aktif mereka mengirim pemain-pemain muda berbakat untuk menimba ilmu di klub-klub besar Eropa.

“Hebatnya mereka tak perlu berurusan dengan federasi. Banyak pihak yang tergerak untuk membantu membina pemain muda. Mengirimkan dua hingga tiga pemain ke klub Eropa, dan ini sudah dilakukan sejak lama,” jelas Kurniawan.

Pria yang kini merintis karier sebagai pelatih dengan mengambil lisensi C AFC tersebut, mengaku program pengiriman tim seperti Primavera dan Baretti ke Italia, hingga SAD ke Uruguay, tak efektif. Berkumpul bersama sejumlah pemain dari Indonesia, membuat mental pemain tak ditempa dengan baik. Tak ubahnya hanya memindahkan proses latihan ke luar negeri.

Kurniawan mengaku kesulitan beradaptasi ketika harus bermain di Swiss. Dia belum siap karena tak terbiasa dengan suasana tim profesional di Eropa. “Kaget karena banyak hal yang tak kita temui bahkan selama di Italia sekalipun,” akunya mengenai alasan kegagalan bersinar di benua biru.

“Lebih baik kita mencontoh apa yang dilakukan Malaysia sekarang. Mengirim pemain ke klub berbeda dan membuat mereka terbiasa dengan kehidupan profesional. Kalau masih seperti pola Primavera dan Baretti, kita sulit bersaing,” jelasnya. (fmc)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

loading...
Click to comment
To Top