Apa Kabar Wahai Hati? – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Samudera Ilmu

Apa Kabar Wahai Hati?

FAJAR.CO.ID, – Hanya kepada Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, sepenuh puji dan syukur tanpa tepi. Dia meninggikan derajat hamba-hamba, yang mau berhina diri, dengan sujud sedatar telapak kaki di hadapanNya. Menghamba padaNya semata, adalah kemerdekaan yang hakiki. Menyerah diri padaNya, adalah kemenangan yang sebenarnya.

Dia-lah Raja Diraja. Di hadapanNya, semua raja kelak akan datang berstatus hamba. Bertekuk lutut lagi tersandera oleh dosa-dosa. Maka selamatlah orang yang selamat. Dan betapa celaka bagi sesiapa yang celaka. Aduhai, sementara di sana ada jilatan lidah api menyala-nyala. Membakar di telapak kaki, namun mendidih di ubun-ubun. Membakar di kulit tapi terasa sampai ke ulu hati. Na’dzubiLlahimindzaalik.

Sholawat dan salam terhatur selalu pada kanjeng panutan sepanjang masa, pembawa kabar gembira dan peringatan, Rasul Muhammad saw.

***

Hati, betapa ia punya posisi penting bagi keselamatan di akhirat kelak. Bila segenap indera dipermisalkan seperti sebuah pasukan perang, maka adalah hati panglimanya. Begitupun, jika kiranya seluruh indera diperumpakan bagai system pemerintahan, maka dialah hati sebagai kepala negaranya. Baik buruk keadaan, ditentukan oleh keputusan-keputusan hati.

Maka di alam hati, di sana akan ada senantiasa gejolak. Dan gonjang-ganjing pertarungan antara haq dan bathil. Antara balatentara setan yang menunggangi hawa nafsu, dan agama serta akal.

Hati, demikian menurut para ulama, sebagaimana juga jasad. Ia bisa terkategori menjadi hati yang sehat atau selamat, hati yang sakit, atau bahkan hati yang mati. Pengobatan dan perawatan pada hati yang sakit pun membutuhkan waktu dan kesabaran, hingga menjadi hati yang selamat atau sehat.

Lalu, bagaimana kabar hatiku dan hatimu hari ini, duhai sahabat?

Sehatkah ia? Sakit, atau bahkan mungkin ia telah mati? Apakah ia masih bergetar mendengar asmaNya? Tenang dan tentram mendengar kalamNya? Adakah dataran hati kita terairi selalu, dengan siraman-siraman ayatNya? Apakah ia masih menyahut panggilanNya, dengan memerintahkan tujuh anggota badan untuk bersujud padaNya? Atau mungkin ia lebih keras dari batu?

Ketahuilah, di antara tanda bila batu memiliki hati, adalah ia terbelah lalu keluar dari padanya mata air. Dan di antara tanda bahwa hati kita lebih keras dari batu, adalah ketika dada tak lagi bergetar dan mata tak lagi keluarkan air mata. WaLlahu ‘alam.

Pun di antara isyarat bahwa batu memiliki hati adalah ia meluncur jatuh, tersebab takut padaNya. Dan di antara isyarat pula, bila dada kita tak lagi punya hati adalah jika jidat tak pernah melucur jatuh untuk bersujud sembah pada Allah.

“Padahal, di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya. Dan di antaranya, sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan” [QS Al Baqorah : 74]

Wahai hati yang lalai, sadarlah. Wahai bumi hawa nafsu, telanlah airmu. Wahai mendung hitam kemaksiatan, menyingkirlah dari langit dadaku. Wahai, benih-benih kebaikan, tumbuhlah. Wahai hati, bergetarlah. Itu ada ayatNya, tereja selalu. Duhai hati, bersamailah jidat pada tiap-tiap sujudnya dengan kekhysuanmu. Wahai mata, bersamailah tiap-tiap kekhuysuan dengan air matamu.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top