Ini Pengakuan Ryan “Cajon” Jebolan DSC – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ekonomi & Bisnis

Ini Pengakuan Ryan “Cajon” Jebolan DSC

FAJAR.CO.ID, MALANG – Jebolan program Diplomat Success Challenge (DSC) Wismilak, Ryan Ade Pratama blak-blakan soal karir bisnisnya yang cemerlang setelah menjadi alumni DSC Wismilak. Dana hibah yang dia terima ternyata telah mengangkat usaha yang dia bangun berangkat dari ketertarikan pada salah satu alat musik Cajon.

Cajon adalah alat musik perkusi berbentuk kotak bersisi enam yang dimainkan dengan menepuk sisi-sisinya dengan tangan, jari, atau berbagai alat lain seperti stik atau sikat (drum). Ryan menyebut, awalnya ia hanya bisa memproduksi empat unit cajon dalam sebulan. Namun, setelah mengikuti program kompetisi wirausaha Wismilak – Diplomat Success Challenge (DSC) pada 2014 lalu, dia kini memproduksi hingga 200 unit per bulan.

Apalagi, tidak hanya mendapatkan bantuan modal untuk pengembangan usaha, program DSC pun memberikan bimbingan dalam menjalankan usahanya selama setahun penuh. “Saya sangat bersyukur karena perkembangan bisnisnya begitu diapresiasi masyarakat. Saya tidak bisa pungkiri, kesuksesannya tersebut tak terlepas program DSC Wismilak yang saya ikuti,” katanya saat hadir pada Seminar bertajuk “Business Fundamental” di UIN Maulana Malik Ibrahim.

Acara  yang bertujuan memberikan motivasi berwirausaha ini menghadirkan pembicara Ridwan Abadi, seorang wirausaha dan motivator bisnis terkenal. Hadir juga dalam acara ini Ryan Ade Pratama, alumni DSC 2014 yang sukses memproduksi dan berbisnis alat musik Cajon, baca [ka:hun]. Pria lajang 28 tahun yang akrab dipanggil Ryan ini menceritakan lika-liku perjalanan usahanya memproduksi alat musik yang berasal dari Peru, Amerika Selatan itu.

Ryan menyebut, kini bisnis Cajonnya sudah tersebar luas ke seluruh nusantara. Outletnya hingga saat ini mencapai 30 titik di seluruh Indonesia kecuali Papua dengan omset perbulan mencapai 150 juta rupiah. Bahkan beberapa toko musik besar sudah menjadi mitra bisnisnya antara lain PT HLS Musik, PT Sincere Musik, PT Premier Musik, Chic’s Music, Queen Musik Solo, dan Istana Musik Medan.

Varian produk-produk Cajon yang dibuat Ryan menggunakan bahasa Belanda, demikian pula mereknya yakni Koning Percussion. “Nama Koning dari bahasa belanda yang berarti raja dalam bahasa Indonesia, dasar filosofinya tentu saya ingin agar produk Cajon saya menjadi market leader,” ungkap Ryan yang akan membuka sekolah kursus Cajon. Memang ada beberapa pembuat Cajon lokal, namun Ryan mengklaim bahwa ia adalah pelopor produsen Cajon di Indonesia.

Keberhasilannya menjadi agent of change tersebut ditularkannya kepada partisipan peserta DSC lainnya. “Saya percaya, bahwa Successful people learn from the more successful people. Banyak orang bisa sukses karena mereka mau belajar dari orang-orang yang telah lebih dulu sukses, dengan mengikuti langkah-langkah mereka. Ini merupakan salah satu pengejawantahan dari social entrepreneurship. Sebagai alumni DSC poin ini sangat terasa,” ujar Ryan.

“Sebagai alumni DSC, saya telah belajar banyak. Kami mendapatkan network dan pendampingan sehingga grafik kemajuan kami sangat terlihat. Saya bersyukur atas karya besar DSC bagi wirausaha muda Indonesia,” tuturnya.

Tahun 2014 merupakan titik balik bagi Ryan. Saat itu ia mengikuti kompetisi wirausaha yang diadakan oleh DSC Wismilak. “Masalah modal langsung terpecahkan karena sebagai salah satu pemenang program ini saya mendapat hibah dana, ya bukan pinjaman. Selain itu saya juga mendapat bantuan bimbingan bagaimana mengelola usaha yang baik,” ujarnya mensyukuri.

Dengan makin banyaknya produksi yang dihasilkan, Ryan makin produktif merekrut banyak sahabat di sekelilingnya untuk berkarya. Disinilah social entrepreneur makin dalam terlihat pula. Ryan menuturkan bahwa setelah ikut DSC, ia menemukan banyak hal baru dan menginspirasi untuk maju.

Dia sangat merasakan manfaat dari hadiah modal usaha yang gratis alias bukan pinjaman yang merubah orientasi usahanya lebih meluas. Ryan yang kini telah menjadi duta DSC, merasa ikut terpanggil untuk menginspirasi para generasi muda, khususnya para generasi penerus di DSC. Semangat yang didapatnya di DSC ingin ia tebarkan agar lebih terekspos di negeri ini. Terlebih, dengan adanya pendampingan usaha.

Seluruh pemenang program DSC Wismilak memang mendapat pendampingan manajemen usaha selama satu tahun. Hal ini juga dijelaskan oleh Surjanto Yasaputera selaku Chief Board of Commissioner Diplomat Success Challenge, “Kami ingin memastikan keberhasilan para wirausahawan muda yang memenangkan kompetisi DSC,” kata Surjanto.

Program DSC merupakan program CSR yang diprakarsai PT. Wismilak Inti Makmur Tbk.  dan telah dimulai sejak tahun 2010. Pada tahun ini merupakan tahun ke 7 pelaksanaan Kompetisi Wirausaha bagi para  pemuda Indonesia. Hadiah dana dalam bentuk hibah sebesar 2 Milyar rupiah telah disiapkan penyelenggara bagi para pemenang. (arm)

Click to comment
To Top