Nasdem Minta Jangan Saling Curiga Soal Pembebasan Tahanan Abu Sayyaf – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Nasional

Nasdem Minta Jangan Saling Curiga Soal Pembebasan Tahanan Abu Sayyaf

nasdem-201510011927351

FAJAR.CO.ID, JAKARTA- Setelah 10 warga negara Indonesia yang diculik kelompok bersenjata Abu Sayyaf berhasil dibebaskan dan sudah kembali ke Tanah Air muncul polemik baru di tengah masyarakat. Yaitu, siapa sebenarnya yang berperan dalam pembebasan 10 anah buah kapal tersebut.

Pasalnya, tim kemanusiaan Surya Paloh yang merupakan sinergi Yayasan Sukma, Media Group, dan Partai Nasdem mengklaim sebagai pihak yang berjasa. Sementara Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zein, yang juga sebagai negosiator, menegaskan pembebasan 10 WNI tersebut bukan kerja partai. Karena itu dia mengingatkan jangan yang berusaha mencari aman.

Terkait hal tersebut, Ketua Fraksi Partai NasDem Viktor Laiskodat mengimbau semua pihak untuk menghentikan rasa curiga yang berlebihan. Menurutnya, pembebasan empat sandera yang tersisa justru lebih penting. “Kita harus bersatu karena ini sangkutannya dengan kemanusiaan,” tegasnya dalam rilis yang diterima Senin malam (2/5).

Viktor menegaskan bahwa niat dari pihak-pihak yang terlibat dalam proses pembebasan 10 sandera dari tangan Abu Sayyaf murni untuk Negara. Karena itu dia menjelaskan bahwa sejak sebulan lalu, pihaknya terus berkoordinasi dengan pemerintah terutama dengan Kementerian Luar Negeri dan tentu saja Presiden. Oleh karena itu, adanya tudingan bahwa Partai NasDem hanya ingin mengambil nama dari situasi dan kondisi yang terjadi di Filipina Selatan itu tidak benar.

“Banyak yang curiga atas niat baik kami. Jangan banyak curiga karena niat kami baik, untuk kemanusiaan. Koordinasi pun telah dilakukan. Presiden sungguh (telah) memberikan arahan yang sangat baik juga,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, keberhasilan membebaskan sepuluh sandera tersebut karena diplomasi kultural. Diplomasi tersebut dilakukan oleh Ahmad Baidowi dari Yayasan Sukma Bangsa yang sudah lama memiliki jaringan pesantren di wilayah Mindanao.

Langkah ini ditempuh karena pihak Abu Sayyaf sendiri tidak menghendaki proses pembebasan sandera melalui pendekatan militer. Baidowi yang pernah mengajar di pesantren-pesantren di wilayah tersebut bisa dengan mudah melakukan negosiasi.

“Medan ke sana itu sangat berat. Diplomasi yang digunakan adalah gaya diplomasi pondok pesantren. Proses pembebasan pun terjadi di hutan dan di sana ada wartawan Desi Fitriani dan Baidowi dari yayasan Sukma Bangsa sendiri,” ungkap Viktor.

Viktor juga menampik bahwa pihaknya mengeluarkan uang sebanyak 5 juta pesso Filipina dalam upaya pembebasan sandera. Namun demikian politisi dari NTT ini mengakui bahwa ada pihak-pihak yang mencoba memaksa pihaknya untuk mengeluarkan uang tebusan. Anehnya, hal tersebut justru terjadi di Manila, bukan di Zamboanga.

Namun demikian, permintaan tersebut tidak dihiraukan oleh Viktor. Dia tetap melanjutkan rencana semula yang langsung didukung oleh Jendral Benjamin dari tentara Filipina. [zul]

loading...
Click to comment
To Top