Bersaing di Atas Langit, Go Digital, Go Professional   – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Budaya & Pariwisata

Bersaing di Atas Langit, Go Digital, Go Professional  

venuemagz-20150715174005

FAJAR.CO.ID, SYDNEY – Apa yang akan terjadi, ketika platform Digital Market Place (DMP) diterapkan di Indonesia? Menpar Arief Yahya membayangkan, siapa yang cepat menyalip yang lambat. Siapa yang agresif dan kreatif berpotensi mengalahkan yang biasa-biasa saja. “DMP ini memberi peluang yang sama buat semua pemain untuk mengemas kreasi paket yang terbaik,” ucap Menpar Arief Yahya.

Semakin digital, semakin profesional. Karena semua akan bertanggung jawab terhadap produk mereka sendiri-sendiri. Siapa yang mampu membuat improvisasi, dia akan memenangkan pertandingan, dan sukses. “Karena itu, konsep platform ini akan terapkan di Wisnus dulu, lalu secara parallel menggarap Wisman,” ujarnya.

Digital Marketing ini ibarat membuka pintu dan jendela selebar-lebarnya pada potensi pariwisata tanah air. Saat ini, 70 persen orang mencari tempat liburan itu melalui digital, karena mereka bisa membuka foto, grafis dan video dengan leluasa. Sudah aneh saja, melihat orang merencanakan liburan dan pergi ke kantor Travel Agent sendiri.

Nah, karena itu, semakin pintar membuat cerita destinasi, semakin berpeluang mendapatkan impression dari nettizen. Semakin bagus membuat grafis, desain, gambar dan tulisan, semakin banyak diikuti para pencari lokasi berwisata. “Semuanya menggunakan sistem online. Semua sudah digenggam, semua aplikasi ada di tangan, di handphone, sangat praktis,” jelas pengarang buku Great Spirit Grand Strategy dan Paradox Marketing yang menjadi best seller itu.

Digital itu, kata Arief Yahya, sudah menjadi basic need, sudah menjadi kebutuhan dasar manusia. Jadi sekarang kebutuhan hidup itu bukan hanya sandang, papan, perumahan saja. Ditambah smartphone dan wifi. “Nggak percaya? Oke deh, bolehkah saya pinjam HP Anda satu hari saja?” kata Menpar Arief Yahya. Jawabannya sudah pasti, tidak akan diizinkan. Jangankan satu hari, satu jam saja jempol dan jari tidak bermain di screen HP, sudah mati gaya. Karena informasi itu begitu cepat, begitu dekat.

Yang kelihatan dari DMP itu adalah aplikasi, yang bisa didownload, dan setiap orang bisa menyimpan di wall-nya. Aplikasi itulah yang tahun pertama harus digeber dengan promosi besar-besaran, agar dikenal di seluruh dunia, dan orang mau mendownload secara gratis melalui multi devices, baik via IOs, Android maupun di personal computers (PC). “Itu akan kita promosikan melalui jaringan kerjasama Kemenpar yang sudah ada, seperti Google, Baidu, TV-TV dunia, media cetak, dan lainnya,” ungkap peraih Marketeer of The Year 2013 oleh MarkPlus itu.

Bagaimana pengelolaannya DMP itu? Arief Yahya tertarik dengan apa yang sudah dilakukan oleh Pemerintah Australia. Kemenpar hanya bermain regulator, mengatur saja. Tidak masuk ke level operasional, karena itu menyangkut soal tugas dan fungsi pemerintah. Biarkan operatornya ditangani secara professional oleh para ahli digital dan menjadi domain private sectors. “Data warehouse-nya dimiliki Kemenpar, industry-nya bebas dan boleh mengakses foto dan video di www.indonesia.tarel,” kata pria yang lahir di Banyuwangi, Jawa Timur itu.

Kemenpar juga akan mengerahkan seluruh Kadispar Provinsi untuk terus meng up date perkembangan data-data dari daerahnya. Dari data-data itu, bisa disusun paket-paket baru yang semakin banyak dan beragam. “Kita punya banyak atraksi kok, tinggal secara simultan, dikerjakan bersama-sama soal akses dan amenitas. Tiga A itu akan menentukan kesiapan destinasi untuk menyambut era digital yang akan datang lebih cepat dari yang diduga orang,” kata Arief Yahya.

Lalu bagaimana dengan peta OTA (Online Travel Agent) nantinya, setelah platform baru ini beroperasi? Kalau pasar mancanegara, platform ini hanya mengubah atau mengganti traditional atau manual travel agent di Indonesia saja, agar menjadi OTA yang kompetitif. Sekaligus memperkuat OTA kecil-kecil yang selama ini sudah bergerak. Kira-kira 80% masih akan dikuasai OTA besar-besar seperti Booking.Com, C-trip, dan lainnya.

Jumlah yang berubah dari manual ke online itu, mungkin besar, ribuan perusahaan. Tetapi mereka adalah usaha-usaha yang volumenya tidak terlalu besar. “Jika mereka lincah membuat paket=paket bagus, mereka akan semakin eksis, akan semakin besar, dan bisa menaikkan market share dibandingkan dengan market OTA-OTA besar,” kata lulusan Elektro ITB Bandung, Surray University Inggris dan Program Doktoral Unpad Bandung itu.

OTA, online travel ini, kelak akan bertarung habis di udara. Bersaing dalam kreativitas mempengaruhi orang di udara, di atas langit. Siapa yang punya angkatan udara yang hebat, dia akan memenangkan pertarungan. “Saya percaya, Indonesia punya keunggulan kompetitif di sini, cultural industry,” kata Arief.

Pertanyaannya, mengapa digitalisasi ini tidak dilakukan sejak awal 2015 lalu? Ketika pertama kali menjabat di kemenpar? Menpar Arief Yahya menyebut tahun pertama konsentrasi ke branding dan advertising. Membangun branding itu paling penting, agar jelas apa yang dijual. Harus dilebeli dulu dengan branding, kalau tidak begitu akan sangat sulit selling. “Kalaupun ngotot di selling, paling hanya akan berhenti di angka 12 juta. Karena itu urutannya memang harus brand dulu yang digenjot,” katanya.

Menpar mengibaratkan begini, ada dua produk sepatu. Yang satu ada brandingnya, misalnya Nike atau Adidas. Satu lagi, sepatu yang sama tetapi logo-logonya dicopot. Kualitas produknya sama, bahkan dibuat oleh tangan yang sama. Hanya tidak ada branding atau mereknya. Mana yang lebih bisa dijual mahal? Pasti yang berlogo lebih mahal daripada yang tidak. Bedanya bisa lebih dari 50%. “Itu contoh, kalau branding itu punya value,” kata Arief, yang ahli strategic marketing itu.

Tahun 2016 ini, Menpar memang mulai konsentrasi ke selling. Karena itu dia temui maskapai Emirates, Singapore Airlines, Garuda Indonesia, lalu menyusul akan kedatangan tamu dari Qatar Airways. Bulan ini juga berencana ke China daratan untuk bernegosiasi penerbangan langsung dari China ke Indonesia, memperbanyak akses. “Jadi, semua lini sekarang sudah disiapkan untuk selling. Berbeda pendekatan dari marketing. Selling lebih teknis, berhitung cost and benefit,” katanya. (selesai/*)

loading...
Click to comment
To Top