Ternyata Jalur Rawan Abu Sayyaf Termasuk Padat. Setahun 100 Ribu Kapal Melintas – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Nasional

Ternyata Jalur Rawan Abu Sayyaf Termasuk Padat. Setahun 100 Ribu Kapal Melintas

Menteri Luar Negeri Retno Lestari Priansari. Foto; Agus Wahyudi / JAWA POS

FAJAR.CO.ID, JOGJAKARTA – Pemerintah Indonesia, Filipina, dan Malaysia menyepakati patroli terkoordinasi yang bakal dilakukan oleh angkatan bersenjata tiga negara.

Pertemuan menteri luar negeri dan panglima tentara di Jogjakarta juga terus mematangkan skema pengamanan bersama di perairan tiga negara.

Skema yang bakal diterapkan akan sama seperti kerja sama pengamanan Selat Malaka. Selain itu, juga dimungkinkan kemudahan akses ke wilayah maritim negara lain dalam keadaan mendesak.

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi mengatakan, setiap armada bakal berpatroli di wilayah masing-masing untuk menutup celah dari perompak.

’’Ini akan menjadi operasi permanen. Namun, untuk teknis operasionalnya akan dibahas oleh tiga Panglima. Yang jelas, skema pengamanan Selat Malaka akan menjadi acuan dalam pengamanan nanti,’’ kata Menlu usai pertemuan Gedung Agung, Jogjakarta, kemarin.

Retno mengatakan, semua delegasi sadar bahwa isu keamanan perairan sangat mendesak untuk diselesaikan. Terutama, tentang aspek wilayah sekitar Filipina Selatan yang merupakan jalur ekonomi strategis dari masing-masing negara.

”Tahun lalu saja terdapat lebih dari 100 ribu kapal melintas di wilayah perairan Sulu. Total barang yang dibawa mencapai 55 juta metric ton kargo dalam 1 juta kontainer. Di sisi lain, perairan itu juga dilewati oleh 18 juta penumpang tahun lalu,’’ tegasnya.

Kepentingan stabilitas wilayah tersebut, lanjut dia, semakin tinggi dengan meningkatnya penculikan warga sipil oleh kelompok bersenjata. Baik warga negara Indonesia, Malaysia, dan Filipina telah menjadi korban.

”Untuk itu, kami sepakat untuk segera mengambil langkah-langkah untuk memastikan warga negara kita merasa aman dalam menjalankan aktivitas di kawasan tersebut.”

Menlu Malaysia Anifah Aman mengatakan, skema Selat Malaka memang cocok dijadikan dasar untuk mengamankan perairan Kepulauan Sulu. Bukan hanya patrol terkoordinasi, kerja sama juga bisa diteruskan hingga ke aspek pengawasan udara.

’’Pertemuan ini bukan hanya tentang solusi jangka pendek. Tentu kami sangat prihatin dengan penculikan warga Malaysia dan Indonesia. Namun, upaya yang kami bicarakan merupakan langkah untuk mencegah kasus ini kembali terjadi,’’ tegasnya.(bil/sof)

loading...
Click to comment
To Top