Tujuan Cinta Seorang Mu’min – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Samudera Ilmu

Tujuan Cinta Seorang Mu’min

FOTO: SANTABANTA.COM

SEGENAP puji kepunyaan Allah semata sahaja. Dia-lah telah yang menciptakan dan mengirimkan angin untuk mengawinkan tanaman. Dia-lah yang menciptakan hati terlindungi di sebalik rusuk penyanggah. Namun rasa cinta, welas kasih yang dititipkanNya, jadikan hati bisa mengepak melampui kepakan Hud-hud.

Sepenuh pujian milik Allah sahaja. Yang telah menurunkan syariatNya. Untuk setandan kemaslahatan hamba-hambaNya. Pun agar cinta sesama makhluk tak memalingkan mereka dari cinta kepadaNya.

Dia-lah yang telah mengabarkan tentang penyesalan para kekasih yang tak mencinta tidak untuk menuju cintaNya.

“Kecelakaan besar bagiku; kiranya dulu tidak ku jadikan si Fulan sebagai kekasih. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al quran sesudah Alquran itu datang padaku” [QS Al Furqan : 28-29]

Maka hari itu, tiada guna menggigit jari tersebab penyesalan. Aduhai, sementara di sana ada suara jilatan lidah api berkeretak yang siap menambah derita tak terperih.

Sholawat dan salam terhatur selalu kepada pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Yang telah bersabda, ketika cahaya matahari terhalang wajah rembulan, gerhana matahari. Dengan sabda yang bikin bergidik merinding.

Wahai umat Muhammad, demi Allah,” demikian sebagaiman dimaktub Imam Bukhari. “Tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah karena ada seorang hamba baik laki-laki maupun perempuan yang berzina. Wahai Umat Muhammad, demi Allah, jika kalian mengetahui yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”

Rasulullah, Muhammad saw.

****

Tersebab segala cinta tak boleh memalingkan dari cinta kepadaNya. Tersebab cinta tak boleh bertandas di muara kehidupan dengan penyesalan, Maka ia harus seperti mutiara. Indah dan aman terpelihara. Tak ada noktah-noktah yang merusaknya. Ia pun harus pesona bak permata yang anggun di pelupuk mata. Atau cantik seumpama manikam di jemari ratu berpekerti khadam. Semua itu, bila dijaga dan ditempa dengan syariatNya. Sepenuh ikhlas, segenap ridho.

“Ada tiga hal, yang jika tiga hal itu ada pada seseorang, maka dia akan merasakan manisnya iman.” sabda Rasulullah, seperti direkam Imam Bukhari dan Muslim  “[Yaitu]: Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya; Mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah; Benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan darinya, sebagaimana bencinya jika dicampakkan ke dalam api.”

Perhatikan, sebagai insan beriman, maka cinta kepada Allah dan Rasulnya menempati posisi tertinggi. Dan segala ikatan haruslah didasari dengannya. Agar iman di dada terkecap manis. Tidak payau lagi asin. Murni dan tiada ternoktah.

Dan dengan landasan karena Allah, cinta bisa meluas dan tidak sempit. Maka seyogyanya, cinta seorang mu’min, tiada sebentang Jamrud Katulistiwa semata, namun ia akan melompat jauh, melintasi timbunan bebatuan Sykes dan Picot. Lapang dadanya tak tergelar dari Sabang hingga Meroke sahaja. Ia terhampar dari belantara Meroke hingga menyentuh pepasiran Maroko.

Rasa cinta dan welas kasihnya tidak berpendar pada lingkaran dinding rumah tangga, istri, anak, ibu ayah dan relasinya sahaja. Namun tiap-tiap lisan yang bersyahadat, dan mencintai Allah juga adalah suadaranya.

“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim]

“Orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.” [Shahih Muslim No.4684]

Welas kasih seorang mu’min, ia tiada bertudung di bawah naungan tempurung nasionalisme, kesukuan dan warna kulit. Namun ia terbang, menyusup dalam celah lapisan ozon. Menembus tujuh petala langit. Menghantarkan ia akan memahami hakikat ke-Esa-an dan keindahan wajahNya. Pun keagungan kuasaNya.

***

Maka bagi hamba-hamba Ar Rahman, dalam memilih pendamping hidup, mereka pinta kekasih hati yang menjadi penyejuk mata. Penyejuk mata tersebab indah dan menawan akhlaknya dalam beragama. Mereka memilah-milah hati untuk dipilih, agar tergapai menuju ridho Ilahi.

“Ya Rabbana, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” [QS. Al Furqon: 74]

Seperti gubahan sebuah syair yang masyhur dinisbatkan pada Sayyid Quthb. Lelaki yang telah menjual dirinya untuk meraih cinta rabbnya. :

“Ya Allah, jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu, agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.

Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta, jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu

Ya Allah, jika aku jatuh hati, izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu,
agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu

Ya Rabbana, jika aku jatuh hati, jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu.

Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu, rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu.

Ya Allah, jika aku rindu, jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindukan syurga-Mu.

Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu, janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhirmu.

Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu, jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu.

Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu, jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu.

***

Demikianlah cinta kepadaNya, adalah segalanya. Tak terganti, tak boleh terduakan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top